Page 356 - Perdana Menteri RI Final
P. 356

sebagai negara  yang  baru  saja  terbebas  dari   dan terwujudnya aparatur pemerintahan yang
                           penjajahan sebagian besar sumber ekonomi dan   efisien yang disertai pembagian tenaga secara

                           akses produksi masih berada di bawah kekuasaan   rasional dan taraf hidup pegawai yang meningkat.
                           perusahaan-perusahaan asing. Pada awal dekade   Sejarawan Herbert Feith mencatat bahwa
                           1950-an, sektor ekonomi modern berskala        kabinet Ali Sastroamidjojo melakukan paling
                           besar yang menyumbang hampir 25% PDB           banyak pergantian, pemecatan, dan transfer
                           masih berada di bawah perusahaan-perusahaan    pegawai terutama pada posisi-posisi penting
                           Belanda dan beberapa perusahaan multinasional   bila dibanding dengan kabinet perdana menteri
                                                         14
                                                                                     16
                           kepunyaan Inggris dan Amerika.  Pada kurun     sebelumnya.  Perubahan administratif semacam
                           yang sama, tepatnya di tahun 1952, 60% impor   ini, menurut Feith, tidak terlalu efektif dalam
                           barang-barang konsumsi dipegang oleh delapan   meningkatkan kinerja aparatur negara karena

                           perusahaan dagang Belanda; demikian halnya     lebih condong pada kebutuhan politik—terutama
                           dengan perbankan swasta juga didominasi        oleh partai penguasa—ketimbang pemilihan
                                                                                                                                                                                                                               PM. Ali Sastroamidjodjo memberikan keterangan
                                          15
                           oleh bank asing.  Mengingat lemahnya modal     yang didasarkan pada kriteria profesionalitas dan
                                                                                                                                                                                                                               Pemerintah di Parlemen, tanggal 25 Agustus 1953
                           ‘pribumi’, arah kebijakan pemerintah ditujukan   perfoma kerja. 17
                                                                                                                                                                                                                               Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
                           untuk mengembangkan perusahaan negara agar
                                                                          Adapun masalah pasca-revolusi lainnya yang
                           dapat bersaing dengan perusahaan Belanda.
                                                                          dihadapi Ali Sastroamidjojo terkait dengan
                           Program  ini  dilaksanakan  melalui  penyediaan
                                                                                                                                                  aksi buruh terutama dengan jalan mogok kerja   hubungan antara Indonesia dengan Belanda
                                                                          banyaknya  sumber  daya  manusia  yang  perlu
                           lisensi impor di mana 80-90% dari devisa                                                                               turut  menghambat  laju  ekonomi.  Program     yang sebelumnya berdasarkan asas  unie-statuut
                                                                          disalurkan ke berbagai lapangan pekerjaan, dan
                           berlisensi harus disediakan untuk importir
                                                                                                                                                  Kabinet Ali berusaha untuk menyusun undang-    menjadi hubungan berdasarkan perjanjian
                                                                          memperoleh penghidupan yang layak. Masalah
                           pribumi (asli), yang dijalankan berbarengan                                                                            undang perburuhan untuk mencapai kembali       internasional biasa, 3.) Mempercepat peninjauan
                                                                          ini erat kaitannya dengan veteran dan buruh.
                           dengan pengambilalihan bisnis-bisnis yang                                                                              ketenagakerjaan sebesar-besarnya.              kembali  persetujuan  hasil  Konferensi  Meja
                                                                          Perburuhan adalah masalah pasca revolusi
                           sebelumnya dimiliki oleh pemerintah Hindia                                                                                                                            Bundar, serta meniadakan perjanjian-perjanjian
                                                                          yang juga memerlukan pendanganan serius
                           Belanda oleh pemerintah Indonesia.                                                                                     Program-program Kabinet Ali Sastroamidjojo     yang pada kenyataannya merugikan rakyat dan
                                                                          dalam  banyak  hal  dipengaruhi oleh struktur                           yang berkaitan dengan persoalan luar negeri
                                                                                                                                                                                                 negara.
                           Sebagai negara yang masih muda, Indonesia pada   ekonomi Indonesia yang belum dapat beranjak                           Indonesia menunjukan kapasitas Perdana Menteri
                           1950-an dihadapkan pada persoalan integrasi    jauh dari struktur ekonomi kolonial. Oleh                               yang sangat piawai dalam menterjemahkan        Dalam otobiografinya, Ali Sastroamidjojo
                           yang menyangkut masalah perhubungan pusat      karenanya buruh menjadi kelompok yang tidak                             persoalan  internasional  dan  memposisikan    mengakui bahwa selama dua tahun masa
                           dan daerah, dan masalah birokrasi di mana      diuntungkan  walaupun  tidak  dapat  dipungkiri                         kepentingan Indonesia di dalamnya. Meskipun    kerjanya sebagai perdana menteri, ada banyak
                           Indonesia  mengalami    kekurangan   tenaga    mereka memainkan peran penting bagi                                     secara garis besar terdapat program yang       masalah yang tidak terpecahkan, dan sejumlah

                                                                                                                                                                                                                           18
                           ahli dan maraknya korupsi. Menyangkut          ekonomi nasional. Pada lain sisi, telah banyak                          bersifat melanjutkan dari kabinet sebelumnya,   kegagalan yang dialami.  Akan tetapi,
                           perhubungan pusat-daerah, pemerintahan Ali     bermunculan organisasi ataupun serikat buruh.                           pendekatan Ali Sastroamidjojo cukup berbeda    sejumlah pencapaian penting juga berhasil
                           Sastroamidjojo mengagendakan penyempurnaan     Mereka merupakan kelompok yang juga turut                               ketika menempatkan Indonesia  dalam situasi    diraih. Kebijakan kabinet Ali Sastroamidjojo
                           undang-undang untuk memperbaharui politik      berkiprah dalam perjuangan mempertahankan                               politik dunia waktu itu. Secara rinci, program   mencerminkan   perubahan    radikal   dari
                           desentralisasi, dan mengusahakan pembentukan   kemerdekaan telah menjadi organ yang kritis                             Kabinet Ali Sastroamidjojo dalam bidang politik   praktik yang dilakukan oleh keempat kabinet
                           daerah otonomi menuju tingkatan terbawah.      dalam menyuarakan nasib anggotanya. Pada                                Luar Negeri meliputi: 1.) Menjalankan politik   sebelumnya yang terasa benar dalam bidang
                           Terkait dengan birokrasi, Ali Sastroamidjojo   satu sisi, perkembangan ini menunjukan hal                              luar negeri yang bebas dan aktif untuk menuju   ekonomi. Jika para pendahulunya mengarahkan
                           mendorong usaha-usaha pemberantasan korupsi    yang positif, namun pada sisi yang lain, berbagai                       perdamaian dunia, 2.) Menyelenggarakan         kebijakan ekonomi mereka terutama untuk





                           344   PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959                                                                                                                  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  345
   351   352   353   354   355   356   357   358   359   360   361