Page 357 - Perdana Menteri RI Final
P. 357

sebagai negara  yang  baru  saja  terbebas  dari   dan terwujudnya aparatur pemerintahan yang
 penjajahan sebagian besar sumber ekonomi dan   efisien yang disertai pembagian tenaga secara

 akses produksi masih berada di bawah kekuasaan   rasional dan taraf hidup pegawai yang meningkat.
 perusahaan-perusahaan asing. Pada awal dekade   Sejarawan Herbert Feith mencatat bahwa
 1950-an, sektor ekonomi modern berskala   kabinet Ali Sastroamidjojo melakukan paling
 besar yang menyumbang hampir 25% PDB   banyak pergantian, pemecatan, dan transfer
 masih berada di bawah perusahaan-perusahaan   pegawai terutama pada posisi-posisi penting
 Belanda dan beberapa perusahaan multinasional   bila dibanding dengan kabinet perdana menteri
 14
 16
 kepunyaan Inggris dan Amerika.  Pada kurun   sebelumnya.  Perubahan administratif semacam
 yang sama, tepatnya di tahun 1952, 60% impor   ini, menurut Feith, tidak terlalu efektif dalam
 barang-barang konsumsi dipegang oleh delapan   meningkatkan kinerja aparatur negara karena

 perusahaan dagang Belanda; demikian halnya   lebih condong pada kebutuhan politik—terutama
 dengan perbankan swasta juga didominasi   oleh partai penguasa—ketimbang pemilihan
                                                                                             PM. Ali Sastroamidjodjo memberikan keterangan
 15
 oleh bank asing.  Mengingat lemahnya modal   yang didasarkan pada kriteria profesionalitas dan
                                                                                             Pemerintah di Parlemen, tanggal 25 Agustus 1953
 ‘pribumi’, arah kebijakan pemerintah ditujukan   perfoma kerja. 17
                                                                                             Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
 untuk mengembangkan perusahaan negara agar
 Adapun masalah pasca-revolusi lainnya yang
 dapat bersaing dengan perusahaan Belanda.
 dihadapi Ali Sastroamidjojo terkait dengan
 Program  ini  dilaksanakan  melalui  penyediaan
               aksi buruh terutama dengan jalan mogok kerja    hubungan antara Indonesia dengan Belanda
 banyaknya  sumber  daya  manusia  yang  perlu
 lisensi impor di mana 80-90% dari devisa   turut  menghambat  laju  ekonomi.  Program   yang sebelumnya berdasarkan asas  unie-statuut
 disalurkan ke berbagai lapangan pekerjaan, dan
 berlisensi harus disediakan untuk importir
               Kabinet Ali berusaha untuk menyusun undang-     menjadi hubungan berdasarkan perjanjian
 memperoleh penghidupan yang layak. Masalah
 pribumi (asli), yang dijalankan berbarengan   undang perburuhan untuk mencapai kembali   internasional biasa, 3.) Mempercepat peninjauan
 ini erat kaitannya dengan veteran dan buruh.
 dengan pengambilalihan bisnis-bisnis yang   ketenagakerjaan sebesar-besarnya.  kembali  persetujuan  hasil  Konferensi  Meja
 Perburuhan adalah masalah pasca revolusi
 sebelumnya dimiliki oleh pemerintah Hindia                    Bundar, serta meniadakan perjanjian-perjanjian
 yang juga memerlukan pendanganan serius
 Belanda oleh pemerintah Indonesia.   Program-program Kabinet Ali Sastroamidjojo   yang pada kenyataannya merugikan rakyat dan
 dalam  banyak  hal  dipengaruhi oleh struktur   yang berkaitan dengan persoalan luar negeri
                                                               negara.
 Sebagai negara yang masih muda, Indonesia pada   ekonomi Indonesia yang belum dapat beranjak   Indonesia menunjukan kapasitas Perdana Menteri
 1950-an dihadapkan pada persoalan integrasi   jauh dari struktur ekonomi kolonial. Oleh   yang sangat piawai dalam menterjemahkan   Dalam otobiografinya, Ali Sastroamidjojo
 yang menyangkut masalah perhubungan pusat   karenanya buruh menjadi kelompok yang tidak   persoalan  internasional  dan  memposisikan   mengakui bahwa selama dua tahun masa
 dan daerah, dan masalah birokrasi di mana   diuntungkan  walaupun  tidak  dapat  dipungkiri   kepentingan Indonesia di dalamnya. Meskipun   kerjanya sebagai perdana menteri, ada banyak
 Indonesia  mengalami  kekurangan  tenaga  mereka memainkan peran penting bagi   secara garis besar terdapat program yang   masalah yang tidak terpecahkan, dan sejumlah

                                                                                         18
 ahli dan maraknya korupsi. Menyangkut   ekonomi nasional. Pada lain sisi, telah banyak   bersifat melanjutkan dari kabinet sebelumnya,   kegagalan yang dialami.  Akan tetapi,
 perhubungan pusat-daerah, pemerintahan Ali   bermunculan organisasi ataupun serikat buruh.   pendekatan Ali Sastroamidjojo cukup berbeda   sejumlah pencapaian penting juga berhasil
 Sastroamidjojo mengagendakan penyempurnaan   Mereka merupakan kelompok yang juga turut   ketika menempatkan Indonesia  dalam situasi   diraih. Kebijakan kabinet Ali Sastroamidjojo
 undang-undang untuk memperbaharui politik   berkiprah dalam perjuangan mempertahankan   politik dunia waktu itu. Secara rinci, program   mencerminkan  perubahan  radikal  dari
 desentralisasi, dan mengusahakan pembentukan   kemerdekaan telah menjadi organ yang kritis   Kabinet Ali Sastroamidjojo dalam bidang politik   praktik yang dilakukan oleh keempat kabinet
 daerah otonomi menuju tingkatan terbawah.   dalam menyuarakan nasib anggotanya. Pada   Luar Negeri meliputi: 1.) Menjalankan politik   sebelumnya yang terasa benar dalam bidang
 Terkait dengan birokrasi, Ali Sastroamidjojo   satu sisi, perkembangan ini menunjukan hal   luar negeri yang bebas dan aktif untuk menuju   ekonomi. Jika para pendahulunya mengarahkan
 mendorong usaha-usaha pemberantasan korupsi   yang positif, namun pada sisi yang lain, berbagai   perdamaian dunia, 2.) Menyelenggarakan   kebijakan ekonomi mereka terutama untuk





 344  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959           PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  345
   352   353   354   355   356   357   358   359   360   361   362