Page 371 - Perdana Menteri RI Final
P. 371

yang juga sudah dikenal Ali Sastroamidjojo      Sukarno bila memang tidak setuju dengan
               sejak perundingan Roem-Roeijen dan sama-        susunan   yang   telah   dihasilkannya,untuk

               sama diasingkan ke Bangka. Pada sisi lain, Ali   menunjuk orang lain sebagai formatur..
               Sastroamidjojo sendiri tidak ingin memasukan
                                                               Pertemuan pertama antara Ali Sastroamidjojo
               nama-nama  orang yang sebelumnya  menjadi
                                                               dengan Presiden tidak menghasilkan keputusan
                                                      47
               bagian dari kabinet Burhanuddin Harahap.
                                                               apakah susunan kabinet disetujui atau tidak. Di
               Sesuai dengan tenggat waktu yang diberikan      hadapan para wartawan yang sudah menunggu

               Sukarno, Ali Sastroamidjojo dan Wilopo berhasil   hasil  pembicaraan   keduanya,   Sukarno
               memberikan daftar nama anggota kabinet baru.    menyatakan bahwa dia masih akan memperlajari
               Ali Sasatroamidjojo sendiri menjabat sebagai    susunan kabinet yang diajukan oleh formatur
               perdana menteri, dan oleh karena ada PNI,       karena ada sejumlah nama yang belum ia kenal.
 Presiden Sukarno dalam pengangkatan Mr. Ali
               Masyumi, dan NU menjadi tulang punggung         Ia juga menyampaikan bahwa kabinet baru
 Satroamidjojo sebagai Formateur Kabinet pada
 tanggal 8 Maret 1956.  utama, maka wakil perdana menteri satu dan   akan diumumkan paling lambat satu minggu.
               dua  dijabat  dari  perwakilan Masyumi  (Moh.   Tentu saja, Sukarno memberikan alasan-alasan
 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
               Roem)  dan NU (Idham Chalid). Karena  Ali       itu untuk menutupi ketidaksetujuannya dan

               Sastroamidjojo sendiri yang membentuk kabinet   berusaha untuk menjaga agar persoalan ini
               ini, berbeda dengan pengangkatan pertamanya     tidak memunculkan kegaduhan politik yang
               sebagai perdana menteri, ia merasa percaya diri   lebih besar. Dalam jangka waktu itu, Sukarno
               dengan komposisi kabinet, dan dukungan politik   sebenarnya melobi sejumlah petinggi partai
               parlemen. Masalahnya kemudian adalah, formasi   untuk bersedia mengikutsertakan PKI dalam
               kabinet harus disetujui oleh Sukarno.           kabinet. Sukiman (Masyumi) dan Idham Chalid
                                                               diundang untuk beraudiensi dengan presiden di
               Pada 16 Maret 1956, Ali Sastroamidjojo
                                                               Istana, sedangkan untuk PNI dan PSII, presiden
               menemui presiden untuk melaporkan hasil
                                                               mengundang Surijo dan Araudji Kartawinata.
               kerjanya sebagai formatur. Setelah melihat
                                                               Hanya saja, usaha ini berakhir tanpa hasil.
               komposisi kabinet, Sukarno merasa kecewa
               karena  keanggotaan  kabinet  yang  disusun     Kurang dari seminggu kemudian, pada 20
               formatur tidak mengikutsertakan PKI sebagai     Maret sore hari, presiden mengumumkan
               salah satu partai empat besar pemenang          bahwa ia akhirnya menyetujui susunan kabinet
               pemilu. Sukarno beranggapan bahwa formatur      yang diajukan oleh Ali Sastroamidjojo, yang

               bertindak tidak adil, bagaimanapun juga, PKI    tidak mengikutsertakan PKI dan juga PSI
               merepresentasikan enam juta suara rakyat        dalam pemerintahan yang menjadi oposisi bagi
                                       48
               yang menjadi pemilihnya.  Di pihak lain, Ali    pemerintah. Adapun dalam susunan terbaru
 Presiden Sukarno mengumumkan kepada para
 wartawan mengenai pengangkatan Mr. Ali   Sastroamidjojo tetap menolak untuk mengubah   kabinet ini, muncul nama Ir. Djuanda, tokoh
 Satroamidjojo sebagai Formateur Kabinet pada
               susunan kabinetnya karena telah menjadi         non-partai yang juga orang kepercayaan Sukarno,
 tanggal 8 Maret 1956.
                                                                                                         49
               kesepakatan dengan partai-partai pendukung.     sebagai Menteri urusan Perencanaan negara.
 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
               Lebih lanjut, Ali Sastroamidjojo mempersilakan   Sedangkan, terdapat tiga nama mantan menteri



 358  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959           PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  359
   366   367   368   369   370   371   372   373   374   375   376