Page 410 - Perdana Menteri RI Final
P. 410

guna memulai kembali hubungan kerjasama        Hal ini disebabkan karena meningkatnya nilai                            Draf Undang Undang Anti-Korupsi Abbas          aparatur sipil negara untuk membeberkan harta
                           ekonomi dengan Barat. Hubungan dengan          impor dari Amerika Serikat dan negara-negara                            telah berhasil diselesaikan pada bulan Juni 1955,   dan kekayaan serta mendirikan pengadilan

                           Barat telah meluruh di bawah pemerintahan      Barat akibat pertumbuhan ekonomi yang tinggi,                           tetapi tidak pernah disahkan sebelum kejatuhan   khusus untuk menangani kasus korupsi serta
                                                                                                         43
                           Ali Sastroamidjojo. Burhanuddin bahkan tidak   serta pengurangan uang rupiah.  Tak dapat                               Kabinet Ali Pertama tersebut. Pemberantasan    sebuah badan yang bertugas untuk melakukan
                           mengangkat masalah Irian Barat pada Sidang     dipungkiri bahwa kebijakan-kebijakan Kabinet                            korupsi  dijalankan  pemerintah  Burhanuddin   investigasi kekayaan pribadi. Pengadilan khusus
                           Umum PBB tahun 1955. Tapi Belanda tetap        Harahap telah menunjukkan potensi ekonomi                               sebagai  upaya    mengembalikan     kembali    ini  didirikan  di  Jakarta,  Surabaya,  Medan  dan
                           bersikap bermusuhan dengan Indonesia. Di       Indonesia untuk tumbuh dibawah kebijakan yang                           kepercayaan serta kewibawaan pemerintah di     Makassar dan dalam kasus besar ditangani
                           saat yang lain ada banyak tuduhan dalam negeri   pro-pasar dan pro-investasi asing, tapi kebijakan                     depan masyarakat, dan tentara yang selama ini   oleh beberapa hakim kolegial. Pada akhir bulan
                           bahwa pemerintahannya terlalu mengiba pada     ini tidak akan diteruskan oleh kabinet Ali Kedua                        menganggap pemerintahan parlementer terlalu    Juli 1955, Kabinet Burhanuddin mengarahkan
                                42
                           Barat.  Pada akhirnya, kondisi-kondisi ini     ataupun oleh Kabinet Karya di bawah PM                                  lemah. 45                                      Corps Polisi Militer (CPM) untuk melakukan
                           menyebabkan Burhanuddin  menggeser  haluan     Djuanda Kartawidjaja  dan  Negara  Demokrasi                                                                           penanganan dan penangkapan orang-orang
                                                                                                                                                  Dalam pernyataan-pernyataan publik, Burhanuddin
                           dan menjadi bersikap anti-Belanda. Hal ini nanti   Terpimpin Sukarno.                                                                                                 berprofil tinggi.
                                                                                                                                                  mendorong  peperangan  melawan  korupsi  dan
                           berakhir dengan pemutusan Uni-Indonesia-
                           Belanda.                                       PEMBERANTASAN KORUPSI                                                   bertindak tanpa pandang bulu. Hal ini diperkuat   Pada  bulan  Agustus,   beberapa   orang
                                                                                                                                                  dengan kebijakan Menteri Keuangan Sumitro      ditangkap termasuk di antaranya Mr. Djody
                           Semenjak ambruknya ekspor Indonesia pada       Mungkin salah satu sumbangsih yang paling                               dalam  memberantas  korupsi  dengan  langkah   Gondokusuma,  mantan  Menteri  Kehakiman,
                           tahun 1952 yang diakibatkan oleh karena        signifikan sebagai hasil dari pemerintahan                              melakukan audit  secara  umum  kepada  semua   beserta sekretarisnya bernama Subagio, Dr.
                           berhentinya Perang Korea, maka inflasi         Kabinet Burhanuddin terletak pada usaha                                 kementerian dan penyelidikan penyimpangan      Ong Eng Die, mantan Menteri Keuangan serta
                                                                                                                                                                                           46
                           meningkat dengan pesat. Hal ini dikarenakan    pemberantasan korupsi. Kejatuhan Kabinet                                yang dilakukan oleh pejabat kementerian.       Mohammad Yamin, mantan Menteri Pendidikan
                           defisit impor yang dibayar lewat pencetakan uang   Ali Sastroamidjojo Pertama diakibatkan antara                       Burhanuddin juga merencanakan Undang-          dan Budaya. Semua orang ini adalah menteri
                           rupiah. Edaran uang rupiah yang meningkat      lain, karena skandal korupsi yang melibatkan                            Undang Anti-Korupsi dan Undang-Undang          pada Kabinet Ali Sastroamidjojo Pertama
                                                                                                                                                                       47
                           ini mengakibatkan penurunan nilai rupiah       Menteri Kehakiman Djody Gondokusumo,                                    Darurat Anti-Korupsi.   Rancangan  Undang-
                                                                                                                                                                                                 dan adalah anggota atau orang yang memiliki
                           dan sehingga menyebabkan defisit. Kondisi ini   Iskaq Tjokroadisurjo serta beragam fihak pada                          Undang Anti-Korupsi ini membagi usaha
                                                                                                                                                                                                 kedekatan dengan PNI dan fraksi nasionalis kiri.
                           semakin parah pada tahun 1953 ketika nilai     dalam Kabinet Ali. Masyumi mengeluarkan                                 pemberantasan korupsi dalam dua bagian,        Mereka menjadi tahanan  rumah  dalam  kaitan
                           ekspor Indonesia tambah menurun pada saat      pamflet yang menyerang pemerintahan Ali                                 yang pertama adalah tindakan peradilan dalam   dengan korupsi yang melibatkan lembaga impor
                           harga komoditas ekspor Indonesia juga menurun   sebagai pemerintah paling korup hanya setelah                          peradilan biasa, sementara bagian kedua mengatur   dan devisa negara. Penggunaan CPM atau polisi
                           dipasaran  dunia.  Defisit  ini  meningkat  dan   beberapa bulan pemerintahan itu berjalan.                            tindakan luar  pengadilan lewat  pendirian
                                                                                                                                                                                                 militer  dipakai  dengan  asumsi  bahwa  militer
                                                                                                                                                                                   48
                           pemerintah terpaksa mengurangi impor barang    Ada tuduhan bahwa bentuk penangkapan                                    sebuah  Biro  Penilik  Harta  Benda.   Kabinet
                                                                                                                                                                                                 lebih obyektif dan netral dibandingkan dengan
                           dari luar secara signifikan. Pengurangan impor   terhadap menteri-menteri PNI ini merupakan                            Burhanuddin membentuk sebuah komisi ad-hoc
                                                                                                                                                                                                 Kepolisian  Republik.  Hal  ini  menandakan
                           ini  menyebabkan  pelambatan  perekonomian,    tindakan balas dendam yang dilakukan oleh PM                            guna meneruskan kerja yang telah dilakukan
                                                                                                                                                                                                 asumsi masyarakat mengenai tentara yang belum
                           khususnya karena banyak barang impor ini       Burhanuddin Harahap. Ia menyanggah tuduhan                              oleh Sirajuddin Abbas dan meminta Kementerian
                                                                                                                                                                                                 dikotori oleh korupsi dan degradasi moral.
                                                                                  44
                           dibutuhkan untuk industri dan manufaktur       tersebut.  Sebagai reaksi atas tuduhan tersebut,                        Hukum di bawah Menteri Lukman Wiriadinata
                           dalam negeri. Situasi ekonomi pada tahun 1955   Ali  Sastroamidjojo  memerintah    Menteri                             untuk mengarahkan perkembangan ini. Komisi     Pemberantasan  korupsi  yang  dilakukan  oleh
                           menunjukkan perbaikan dari kondisi ini. Ekspor   Negara Urusan Kesejahteraan Sirajuddin Abbas                          ini diketuai oleh Menteri Pertama Djanu Ismail   Burhanuddin bertujuan untuk menarik modal
                           meningkat dan bahkan mencapai surplus, terjadi   untuk memulai pembuatan kisi-kisi hukum                               dan melibatkan Kementerian Keuangan, Urusan    asing masuk ke Indonesia. Burhanuddin menilai
                           pengurangan defisit dalam neraca berjalan      dan lembaga guna menangani permasalahan                                 Ekonomi dan Menteri Negara Abdul Hakim         bahwa sangat perlu untuk mengambil tindakan
                           negara dan indeks harga beras stabil, yaitu    korupsi. Abbas membentuk sebuah komisi yang                             dan Supomo. Undang-undang Anti-Korupsi         terhadap korupsi yang telah menyebabkan
                           menunjukkan bahwa inflasi mulai terkendali.    mengkategorisasikan korupsi ke dalam 59 jenis.                          yang dihasilkan oleh komisi ini mengharuskan   kerusakan yang sangat parah terhadap Negara





                           398   PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959                                                                                                                  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  399
   405   406   407   408   409   410   411   412   413   414   415