Page 412 - Perdana Menteri RI Final
P. 412

PEROLEHAN SUARA PEMILU 29 SEPTEMBER 1955                                                                               partai politik seperti Masyumi, PRN, PNI.      dulu dengan partainya.  Dengan UU ini, maka
                                                                                                                                                                                                                      54
                                                                                                                                                  Sehingga jika pemerintah menaruh harapan       Perdana Menteri mendapatkan kekuasaan untuk
                              PARTAI       SUARA SAH    % SUARA SAH      KURSI         %KURSI
                                                                       PARLEMEN       PARLEMEN                                                    kepada polisi atau kejaksaan saja maka mereka   memenjarakan oposisi,  sesuatu yang belum

                                PNI         8.434.653       22,3           57            22,2                                                     tidak akan bertindak tegas dalam memberantas   pernah  terjadi  dalam  sejarah  Republik  dan
                              Masyumi       7.903.886       20.9           57            22,2                                                     korupsi. 51                                    yang memiliki potensi penyalah-gunaan yang
                                NU          6.955.141       18,4           45            17.5
                                                                                                                                                                                                 signifikan jika dibawah seorang Perdana Menteri
                                PKI         6.176.914       16,4           39            15,2                                                     Pada akhir Kabinet Burhanuddin, 16 orang telah
                                                                                                                                                                                                 yang tidak benar. Sebelum UU itu dapat berlaku,
                                PSII        1.091.160        2,9            8            3,1
                                                                                                                                                  ditangkap atau ditahan rumah dengan tuduhan
                                                                                                                                                                                                 Presiden Sukarno harus menandatanganinya.
                              Parkindo      1.003.325        2,6            8            3,1
                                                                                                                                                  melakukan korupsi, termasuk diantaranya
                            Partai Katholik  770.740         2,0            6            2,3                                                                                                     Tetapi Sukarno menginginkan agar ada UU itu
                                                                                                                                                  dua pejabat polisi, tujuh pejabat sipil dan tiga
                                PSI          753.191         2,0            5            1,9                                                                                                     dibahas dalam Panitya Mufakat Parlemen. Pada
                                                                                                                                                  warga  partikelir. Mantan Menteri Urusan
                               Murba         199.588         0,5            2            0,8                                                                                                     awalnya Burhanuddin mencoba untuk mengubah
                              Lain-lain     4.496.701       12,0           30            11,7                                                     Perekonomian  Iskaq Tjokroadisurjo yang        pandangan  Sukarno  agar  bisa  ditandatangani,
                               Jumlah       37.785.299      100,0          257          100,0                                                     merupakan pejabat PNI dibawah Kabinet
                                                                                                                                                                                                 tetapi akhirnya dikirim untuk dibahas oleh
                                                                                                                                                  Ali Sastroamidjojo tidak ditangkap walaupun
                                                                                                                                                                                                 Parlemen pada 8 November 1955. Kenyataan
                                Sumber M.C. Rickleffs, Sejarah Indonesia Modern
                                                                                                                                                  terlibat dalam kasus impor dan devisa karena   bahwa pembahasan UU ini terlalu berlarut-larut,
                                                                                                                                                  sedang berada di Belanda.  Iskaq baru kembali   maka PM Burhanuddin memutuskan untuk
                                                                                                                                                                         52
                                                                                                                                                  ke Indonesia setelah naiknya Kabinet Ali       menghentikan pengejarannya karena pentingnya
                           Indonesia. Maka  dari itu  untuk memerangi     Kritikan terhadap korupsi Ali Sastroamidjojo
                                                                                                                                                  Sastroamidjojo Kedua. Mr. Djody Gondokusumo    untuk fokus pada penyelenggaraan Pemilihan
                           korupsi, harus ada upaya kerja sama yang terjadi   ini merupakan serangan yang paling signifikan
                                                                                                                                                  mendapatkan hukuman  kurung selama satu        Umum 1955.
                           antara penegak keadilan yakni TNI, Jaksa Agung,   terhadap pemerintahannya. Ada anggapan
                                                                                                                                                  tahun,  tetapi  dibebaskan  setelah  enam  bulan
                                     49
                           dan Polisi.  Jusuf Wibisono menuduh cara       banyak kalangan bahwa kasus-kasus korupsi                                                                              Kabinet Ali Sastroamidjojo meneruskan usaha
                                                                                                                                                  di penjara karena diberi grasi oleh Presiden
                           penanganan Ali Sastroamidjojo dan Burhanuddin   pemerintahan Ali telah meluruhkan kepercayaan                                  53                                     untuk menggolkan UU Anti Korupsi dengan
                                                                                                                                                  Sukarno.
                           Harahap berbeda dalam kasus-kasus korupsi.     masyarakat  terhadap  partai  dan  Demokrasi                                                                           memerintahkan Menteri Kehakiman Moeljatno
                           Menurutnya, jika seorang anggota Masyumi       Parlementer.                                                            Usaha Burhanuddin ini terbatas karena tingginya   yang mengusulkan agar meniadakan rencana
                           ditangkap dengan tuduhan korupsi, kabinet                                                                              oposisi di Parlemen serta Istana Negara dalam   pembentukkan    Pengadilan   Korupsi   dan
                                                                          C.P.M melakukan kerja sama dengan Jaksa
                           Masyumi tetap memberikan bantuan hukum                                                                                 penerapan UU tersebut. Kegagalan meloloskan    mengembalikkan kasus korupsi ke Pengadilan
                           sebagai bagian dari pembelaan kasus hukum      Agung Soeprapto dan melakukan perbuatan yang                            UU Anti-Korupsi ini juga menandakan            Kriminil Khusus. Pengadilan ini dapat
                           yang sedang dijalankan, tetapi tidak melakukan   amat berani pada waktu itu, yaitu menangkap                           permasalahan  sistem  Parlementer,  setidaknya   menangani kasus korupsi militer sekaligus sipil.
                           intervensi berlebih. Menurut Jusuf, Burhanuddin   Djody Gondokusumo dengan segala konflik                              dimata banyak kalangan rakyat serta TNI.       Moeljatno juga mengusulkan pembentukkan
                           akan  menyerahkan  seluruh  kasusnya  kepada   yang terjadi antara PRN, PNI, Pemuda Nasional                           Kegagalan UU Anti-Korupsi PM Burhanuddin       Badan Koordinasi Penelitian Hak Milik. Tetapi
                           Jaksa Agung  dan  lembaga  pengadilan.  Hal  ini   dengan tentara dan kabinet Burhanuddin.                             diakibatkan oleh karena rasa takut dari partai-  yang paling kontroversial dari usulan Moeljatno

                           merupakan kritikan Masyumi bahwa PNI dan       Semenjak peristiwa tersebut, C.P.M menjadi                              partai oposisi, khususnya PNI, tetapi juga partai   adalah agar Mahkamah Agung dan kepolisian
                           orang-orang nasionalis kiri tidak bermain sesuai   salah satu elemen penting dalam pemberantasan                       pengusung seperti NU dan PSII bahwa UU         ditempatkan di bawah Kementerian Kehakiman.
                           aturan, sementara Masyumi berjalan dalam       korupsi   karena  dinilai  mempunyai    sisi                            ini menempatkan kekuatan yang terlalu besar    Usulan ini mendapatkan kecaman dari beragam
                           koridor hukum. Jusuf mencontohkan perlakuan    obyektifitas, dan netralitas yang tinggi. Menurut                       terhadap Perdana Menteri. Mr. Sunarjo, Menteri   pihak. Kegagalan menggolkan UU Anti-
                           pemerintah Ali Sastroamidjojo yang melakukan   Jusuf Wibisono, C.P.M merupakan lembaga                                 Dalam Negeri dari Partai NU, ini dengan terbuka   Korupsi ini membuka kesempatan nanti kepada
                           intervensi terhadap kasus Djody Gondokusumo,   yang sulit dipolitisasi, sedangkan polisi, dan                          mengatakan bahwa walaupun dia secara pribadi   TNI  untuk  menerbitkan  sendiri  serangkaian
                                                                    50
                           menteri Kehakiman yang berasal dari PNI.       kejaksaaan kadang-kadang berafiliasi dengan                             mendukung UU ini, tetapi dia harus berkonsultasi   aturan anti-korupsi setelah diberlakukannya UU




                           400   PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959                                                                                                                  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  401
   407   408   409   410   411   412   413   414   415   416   417