Page 413 - Perdana Menteri RI Final
P. 413

PEROLEHAN SUARA PEMILU 29 SEPTEMBER 1955  partai politik seperti Masyumi, PRN, PNI.   dulu dengan partainya.  Dengan UU ini, maka
                                                                                    54
               Sehingga jika pemerintah menaruh harapan        Perdana Menteri mendapatkan kekuasaan untuk
 PARTAI  SUARA SAH  % SUARA SAH  KURSI   %KURSI
 PARLEMEN  PARLEMEN  kepada polisi atau kejaksaan saja maka mereka   memenjarakan oposisi,  sesuatu yang belum

 PNI  8.434.653  22,3  57  22,2  tidak akan bertindak tegas dalam memberantas   pernah  terjadi  dalam  sejarah  Republik  dan
 Masyumi  7.903.886  20.9  57  22,2  korupsi. 51               yang memiliki potensi penyalah-gunaan yang
 NU  6.955.141  18,4  45  17.5
                                                               signifikan jika dibawah seorang Perdana Menteri
 PKI  6.176.914  16,4  39  15,2  Pada akhir Kabinet Burhanuddin, 16 orang telah
                                                               yang tidak benar. Sebelum UU itu dapat berlaku,
 PSII  1.091.160  2,9  8  3,1
               ditangkap atau ditahan rumah dengan tuduhan
                                                               Presiden Sukarno harus menandatanganinya.
 Parkindo  1.003.325  2,6  8  3,1
               melakukan korupsi, termasuk diantaranya
 Partai Katholik  770.740  2,0  6  2,3                         Tetapi Sukarno menginginkan agar ada UU itu
               dua pejabat polisi, tujuh pejabat sipil dan tiga
 PSI  753.191  2,0  5  1,9                                     dibahas dalam Panitya Mufakat Parlemen. Pada
               warga  partikelir. Mantan Menteri Urusan
 Murba  199.588  0,5  2  0,8                                   awalnya Burhanuddin mencoba untuk mengubah
 Lain-lain  4.496.701  12,0  30  11,7  Perekonomian  Iskaq Tjokroadisurjo yang   pandangan  Sukarno  agar  bisa  ditandatangani,
 Jumlah  37.785.299  100,0  257  100,0  merupakan pejabat PNI dibawah Kabinet
                                                               tetapi akhirnya dikirim untuk dibahas oleh
               Ali Sastroamidjojo tidak ditangkap walaupun
                                                               Parlemen pada 8 November 1955. Kenyataan
 Sumber M.C. Rickleffs, Sejarah Indonesia Modern
               terlibat dalam kasus impor dan devisa karena    bahwa pembahasan UU ini terlalu berlarut-larut,
               sedang berada di Belanda.  Iskaq baru kembali   maka PM Burhanuddin memutuskan untuk
                                       52
               ke Indonesia setelah naiknya Kabinet Ali        menghentikan pengejarannya karena pentingnya
 Indonesia. Maka  dari itu  untuk memerangi   Kritikan terhadap korupsi Ali Sastroamidjojo
               Sastroamidjojo Kedua. Mr. Djody Gondokusumo     untuk fokus pada penyelenggaraan Pemilihan
 korupsi, harus ada upaya kerja sama yang terjadi   ini merupakan serangan yang paling signifikan
               mendapatkan hukuman  kurung selama satu         Umum 1955.
 antara penegak keadilan yakni TNI, Jaksa Agung,   terhadap pemerintahannya. Ada anggapan
               tahun,  tetapi  dibebaskan  setelah  enam  bulan
 49
 dan Polisi.  Jusuf Wibisono menuduh cara   banyak kalangan bahwa kasus-kasus korupsi   Kabinet Ali Sastroamidjojo meneruskan usaha
               di penjara karena diberi grasi oleh Presiden
 penanganan Ali Sastroamidjojo dan Burhanuddin   pemerintahan Ali telah meluruhkan kepercayaan   53  untuk menggolkan UU Anti Korupsi dengan
               Sukarno.
 Harahap berbeda dalam kasus-kasus korupsi.   masyarakat  terhadap  partai  dan  Demokrasi   memerintahkan Menteri Kehakiman Moeljatno
 Menurutnya, jika seorang anggota Masyumi   Parlementer.   Usaha Burhanuddin ini terbatas karena tingginya   yang mengusulkan agar meniadakan rencana
 ditangkap dengan tuduhan korupsi, kabinet   oposisi di Parlemen serta Istana Negara dalam   pembentukkan  Pengadilan  Korupsi  dan
 C.P.M melakukan kerja sama dengan Jaksa
 Masyumi tetap memberikan bantuan hukum   penerapan UU tersebut. Kegagalan meloloskan   mengembalikkan kasus korupsi ke Pengadilan
 sebagai bagian dari pembelaan kasus hukum   Agung Soeprapto dan melakukan perbuatan yang   UU Anti-Korupsi ini juga menandakan   Kriminil Khusus. Pengadilan ini dapat
 yang sedang dijalankan, tetapi tidak melakukan   amat berani pada waktu itu, yaitu menangkap   permasalahan  sistem  Parlementer,  setidaknya   menangani kasus korupsi militer sekaligus sipil.
 intervensi berlebih. Menurut Jusuf, Burhanuddin   Djody Gondokusumo dengan segala konflik   dimata banyak kalangan rakyat serta TNI.   Moeljatno juga mengusulkan pembentukkan
 akan  menyerahkan  seluruh  kasusnya  kepada   yang terjadi antara PRN, PNI, Pemuda Nasional   Kegagalan UU Anti-Korupsi PM Burhanuddin   Badan Koordinasi Penelitian Hak Milik. Tetapi
 Jaksa Agung  dan  lembaga  pengadilan.  Hal  ini   dengan tentara dan kabinet Burhanuddin.   diakibatkan oleh karena rasa takut dari partai-  yang paling kontroversial dari usulan Moeljatno

 merupakan kritikan Masyumi bahwa PNI dan   Semenjak peristiwa tersebut, C.P.M menjadi   partai oposisi, khususnya PNI, tetapi juga partai   adalah agar Mahkamah Agung dan kepolisian
 orang-orang nasionalis kiri tidak bermain sesuai   salah satu elemen penting dalam pemberantasan   pengusung seperti NU dan PSII bahwa UU   ditempatkan di bawah Kementerian Kehakiman.
 aturan, sementara Masyumi berjalan dalam   korupsi  karena  dinilai  mempunyai  sisi  ini menempatkan kekuatan yang terlalu besar   Usulan ini mendapatkan kecaman dari beragam
 koridor hukum. Jusuf mencontohkan perlakuan   obyektifitas, dan netralitas yang tinggi. Menurut   terhadap Perdana Menteri. Mr. Sunarjo, Menteri   pihak. Kegagalan menggolkan UU Anti-
 pemerintah Ali Sastroamidjojo yang melakukan   Jusuf Wibisono, C.P.M merupakan lembaga   Dalam Negeri dari Partai NU, ini dengan terbuka   Korupsi ini membuka kesempatan nanti kepada
 intervensi terhadap kasus Djody Gondokusumo,   yang sulit dipolitisasi, sedangkan polisi, dan   mengatakan bahwa walaupun dia secara pribadi   TNI  untuk  menerbitkan  sendiri  serangkaian
 50
 menteri Kehakiman yang berasal dari PNI.    kejaksaaan kadang-kadang berafiliasi dengan   mendukung UU ini, tetapi dia harus berkonsultasi   aturan anti-korupsi setelah diberlakukannya UU




 400  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959           PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  401
   408   409   410   411   412   413   414   415   416   417   418