Page 415 - Perdana Menteri RI Final
P. 415

58
 Darurat Militer setelah kejatuhan Kabinet Ali   pemilu tahun 1955.  Dalam sebuah artikel   berkesamaan, yang berarti semua warga Negara   kriminil juga diperbolehkan untuk memilih
 Sastroamidjojo Kedua pada bulan April 1957. 55  yang terbit pada November 1954, Burhanuddin   Indonesia yang telah memenuhi persyaratan   agar orang-orang yang terlibat dalam Darul

 mengkritik kelompok-kelompok dalam Parlemen   pemilu mempunyai hak pilih yang bersifat rahasia   Islam ataupun simpatisan PKI yang ditangkap
 PEMILU PERTAMA INDONESIA TAHUN   yang keberadaannya tidak didukung oleh suara   (tidak diketahui oleh siapapun).  Mengenai   semasa Kabinet Sukiman dapat tetap memilih.
 1955  rakyat ataupun organisasi sosial.  Burhanuddin   sistem  pemilu  yang  berlaku  pada  tahun  1955   Strategi ini dilaksanakan untuk memaksimalkan
 59
 juga percaya bahwa menunda pemilu berbahaya   ialah sistem proporsional. Sistem ini memiliki   suara umat Muslim dalam pemilihan agar dapat
 Pada masa demokrasi parlementer, ada setidaknya
                                                                                                   64
 mengingat semakin menguatnya popularitas PKI   pengertian  bahwa  jumlah  anggota  DPR  dan   menyokong kemenangan buat Masyumi.  Tetapi
 tiga kabinet yang mencanangkan pemilu, yakni
 60
 yang mengancam suara Masyumi.  Sementara   Konstituante ditetapkan berdasarkan imbangan   hal tersebut juga menunjukkan betapa kuatnya
 kabinet Wilopo, Ali Sastroamidjojo, serta
 56
 Burhanuddin.  Wilopo memulai mencanangkan   itu partai-partai sekuler nasional cenderung   penduduk, tiap daerah pemilihan memilih   kepercayaan Kabinet Harahap terhadap prinsip-
 mencoba menghindari atau memperlambat   lebih  dari  seorang  wakil, penetapan  jumlah   prinsip demokrasi dan hak warga negara untuk
 pemilu setelah kabinet sebelumnya yakni Natsir
 penyelenggaraan pemilu karena alasan yang   kursi yang akan diperoleh tiap peserta pemilu
 dan Sukiman gagal menyelenggarakan pemilu                     berpartisipasi di dalamnya.
 karena tidak berhasil menuntaskan pembahasan   sama; kekhawatiran mereka bahwa partai Islam   seimbang dengan besarnya dukungan pemilih
 akan mendominasi pemerintahan pasca-pemilu.   yang diimplementasikan dari jumlah suara yang   Pelaksanaan  pemilu  tidak  terlepas  dari  komite
 undang-undang  pemilu  sebagai  payung
                        62
 hukum pelaksanaan pemilu. Hingga kemudian   Pemimpin PIR, A.R. Djokoprawiro bahkan   diperoleh.  Pemilu ini diselenggarakan dua kali,   pemilihan (panitia pemilihan) yang sifatnya
 pemerintah Wilopo berhasil melahirkan UU No.   menyatakan keinginannya untuk menunda   yakni  pada  tanggal 29  September  1955 untuk   independen. Pada pemilu 1955 terdapat panitia
                                                               pemilihan di ibukota yang ditunjuk langsung
 7 Tahun 1953 tentang pemilu yang memperkuat   pemilu agar dukungan rakyat terhadap Pancasila   memilih DPR dan 15 Desember 1955 untuk
                                                               oleh Presiden dengan nama Panitia Pemilihan
 UUDS 1950 sebagai titik awal pelaksanaan   dapat diperkuat dahulu. Panitia Pemilihan   memilih konstituante.
 pemilu di Indonesia. 57  Umum yang anggotanya didominasi oleh partai-  Indonesia. Menteri Kehakiman menunjuk
               Pelaksanaan Pemilu 1955 dirancang untuk
 partai nasionalis cenderung juga memperlambat                 Panitia Pemilihan daerah atau provinsi. Pada
 Di antara semua partai yang paling mendorong   proses penyelenggaraan pemilu. Hal ini   memungkinkan partisipasi sebanyak mungkin   level kabupaten,  Menteri Dalam Negeri
 penyelenggaraan pemilu adalah partai Masyumi.   menjelaskan mengapa walaupun UU no. 7   orang-orang Indonesia dalam demokrasi. Semua   menunjuk Panitia Pemilihan Kabupaten. Untuk
 Kabinet Natsir menempatkan penyelenggaraan   tentang pemilu sudah diratifikasi parlemen pada   orang dapat mengajukan diri sebagai calon   wilayah yang lebih kecil seperti kecamatan
 pemilu secepatnya sebagai bagian dari tujuh   independen tanpa dukungan partai, jika ia   terdapat Panitia Pemungutan Suara, dan Panitia
 tahun 1953, dibutuhkan waktu 2 tahun ketika
 poin  pemerintahannya,  sementara  itu  Sukiman   pemilu pertama diselenggarakan dan dibawah   berhasil  mendapatkan dukungan tanda-tangan   Pendaftar Pemilih untuk tingkat desa. Meskipun
 juga telah mendorong secara signifikan usaha   Kabinet Burhanuddin yang Masyumi.    yang cukup. Para pemilih juga diperbolehkan   otoritas penunjukan ketua dan anggota panitia
 61
 penyelesaian  UU  Pemilu.  Burhanuddin  menulis calon yang mereka inginkan dalam   pemilih secara langsung berada di tangan
 bukan seorang yang baru dalam hal urusan   UUDS 1950 yang mulai berlaku sejak 17 Agustus   daftar partai yang tersedia pada kertas pilihan.   eksekutif, namun pada kenyataan di lapangan,
 pemilu karena posisinya sebagai Wakil Kepala   1950 merupakan Undang-Undang perubahan   Calon juga tidak ditarik biaya dan hanya   panitia pemilih bekerja secara independen tanpa

 Kantor Urusan Pemilu pada masa Revolusi   dari konstitusi RIS. UUDS 1950 terdiri dari 6   wajib menyetorkan tanda-tangan pendukung.   paksaan memenangkan partai politik yang
 Kemerdekaan. Alasan utama mengapa Masyumi   bab dan 146 pasal. Penyelenggaraan pemilu tahun   Terakhir,  untuk  menjawab  permasalahan  berkuasa. 65
 sangat entusias untuk menyelenggarakan pemilu   1955 sendiri terdapat dalam pasal 35 UUDS 1950   ketidak-seimbangan suara antara Jawa dengan
 terletak pada kepercayaan para elit partai bahwa   yang menjelaskan bahwa pemilihan umum harus   pulau-pulau Luar Jawa, maka dibentuk 15 distrik   M.C. Rickleffs menyatakan bahwa jumlah
 Masyumi memiliki dukungan yang paling besar   dilakukan dengan cara yang jujur dan sesuai   pemilihan, suatu sistem yang ditinggalkan pada   orang yang hadir dalam pemilihan umum
 di antara partai-partai lain dalam parlemen.   dengan peraturan perundang-undangan yang   pemilu-pemilu demokratis Indonesia pasca-Orde   untuk memilih anggota DPR pada bulan
                    63
 Burhanuddin dikutip oleh surat kabar Pakistan   berlaku. Selain itu penyelenggara harus bersikap   Baru.  Usia pemilih diturunkan dari usia 18 ke   September 1955 sangat banyak. Setidaknya lebih
 menyatakan perkiraannya bahwa Masyumi akan   adil dan tidak memihak serta berpegang teguh   16 tahun atas usulan PKI yang merasa bahwa   dari 39 juta orang memberikan hak suaranya.
 memenangkan 40-50 persen dari total suara   kepada  peraturan perundang-undangan  yang   dukungan dari pemuda lebih kuat untuknya.   Walaupun banyak dari suara mereka diberikan
 hanya beberapa saat sebelum penyelenggaraan   berlaku. Pemilihan harus bersifat umum dan   Sementara itu, mereka yang punya catatan   atas paksaan para pemimpin keagamaan, kepala





 402  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959           PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  403
   410   411   412   413   414   415   416   417   418   419   420