Page 420 - Perdana Menteri RI Final
P. 420

pada tanggal 2 Maret 1956. Namun kabinet       dari pemimpin-pemimpin partai ini untuk
                                                                                                                                                  Burhanuddin masih melaksanakan tugasnya        memberontak terhadap kekuasaan Sukarno di

                                                                                                                                                  sampai terbentuk kabinet baru. 78              Jakarta.

                                                                                                                                                  Setelah disepakati bahwa kabinet selanjutnya
                                                                                                                                                                                                 PEMERINTAHAN REVOLUSIONER
                                                                                                                                                  akan dipimpin oleh Ali Sastroamidjojo periode,   REPUBLIK INDONESIA (PRRI)
                                                                                                                                                  maka  peralihan kekuasaan  dari  Burhanuddin
                                                                                                                                                                                                 PRRI bisa dikatakan merupakan perwujudan
                                                                                                                                                  ke Ali jilid keddua terjadi di Gedung
                                                                                                                                                                                                 terhadap ketidak-puasan orang, khususnya mereka
                                                                                                                                                  Pedjambon pada hari senin, 26 Maret 1956.
                                                                                                                                                                                                 yang tinggal di luar Jawa, terhadap dominasi Jawa
                                                                                                                                                  Dalam kesempatan tersebut, Burhanuddin
                                                                                                                                                                                                 di Jakarta. Kegagalan Masyumi dalam Pemilu
                                                                                                                                                  meminta kepada Ali Sastroamidjojo untuk
                                                                                                                                                                                                 1955 ini menandakan kepada orang-orang luar
                                                                                                                                                  tetap memperhatikan dua poin yang selama ini
                                                                                                                                                                                                 Jawa  bahwa  politik  nasional  akan  didominasi
                                                                                                                                                  menjadi perhatian dari pemerintahan kabinet
      Jamuan makan yang diadakan oleh Presiden                                                                                                                                                   oleh suara dari pulau Jawa yang cenderung
      Sukarno untuk para Menteri Kabinet Burhanuddin                                                                                              Burhanuddin. Pertama, perihal penghapusan
                                                                                                                                                                                                 mendukung partai-partai Nasionalis Kiri ataupun
      Harahap demisoner pada tanggal 19 Maret 1956.
                                                                                                                                                  Uni Indonesia Belanda yang secara formil
                                                                                                                                                                                                 Islam tradisional. Perpecahan antara Jawa dan
      Perpustakaan Nasional Republik Indonesia                                                                                                    sudah diselesaikan oleh Burhanuddin. Kedua,
                                                                                                                                                                                                 Luar Jawa bahkan menentukan dinamika respons
                                                                                                                                                  dalam hal pemulihan keamanan dalam negeri
                                                                                                                                                                                                 Masyumi, partai yang sering digadang oleh
                                                                                                                                                  yang sudah menjadi persoalan lama sejak
                           Walaupun Kabinet Burhanuddin mendukung         Provinsi mandiri dan terpisah dari Provinsi                                                                            oposisi sebagai penyebab ‘pemberontakan’ PRRI,
                                                                                                                                                                   79
                                                                                                                                                  Indonesia merdeka.  Kabinet Ali Sastroamidjojo
                           Kolonel Nasution, termasuk dalam hal reshuffle   Sumatera Utara sebagai konsesi untuk meredam                                                                         dengan pimpinan Masyumi dari Jawa seperti
                                                                                                                                                  merupakan kabinet terakhir dalam periode
                           TNI, hubungan pemerintah dengan tentara ini    pemberontakan Daud Beureh walaupun hal                                                                                 Sukiman Wirjosandjojo dan Moehammad Roem
                                                                                                                                                  demokrasi liberal Indonesia. Pemerintahan
                           merenggang pula akibat lemahnya reaksi Kabinet   ini akhirnya diresmikan oleh Kabinet Ali                                                                             untuk lebih lunak menghadapi perilaku Presiden
                                                                                                                                                  Kabinet  Ali Sastroamidjojo  yang  ditandai
                           terhadap gerakan separatis, khususnya DI/TII.   Sastroamidjojo II. 77                                                                                                 Sukarno, sementara pimpinan yang berasal dari
                                                                                                                                                  dengan permasalahan ekonomi yang berlanjut
                                                                                                                                                                                                 Luar Jawa, khususnya dari daerah Minangkabau,
                           Burhanuddin menolak  pendekatan  militer  Ali
                                                                          Selain hal tersebut, kebijakan pembubaran Uni                           serta serangkaian  pemberontakkan  luar  Jawa   seperti Burhanuddin, Natsir dan Sjafruddin untuk
                           Sastroamidjojo dan menyerukan penawaran
                                                                          Indonesia-Belanda ternyata tidak mendapatkan                            semakin menurunkan kepercayaan rakyat dan                                    80
                           amnesti bagi ‘pemberontak. Sementara itu,                                                                                                                             lebih reaktif terhadap Presiden.  Kelemahan
                                                                          persetujuan dari Presiden Sukarno dan beberapa                          TNI terhadap demokrasi. Meluruhnya posisi
                           Kasman Singodimedjo berkata bahwa DI/TII itu                                                                                                                          daerah luar Jawa diakibatkan karena jumlah
                                                                          partai koalisi dalam kabinet. Perpecahan koalisi                        Masyumi dalam parlemen dianggap oleh banyak    penduduk  yang  timpang  antara  Jawa dan  Luar
                           tidak pantas disebut sebagai musuh, melainkan
                                                                          dalam kabinet ditandai dengan upaya penarikan                           orang luar Jawa, khususnya orang dari Sumatera,
                                                                                                                                                                                                 Jawa. Masyumi, khususnya Mohammad Natsir
                           anak bangsa yang nakal. Pernyataan-pernyataan
                                                                          menteri  yang  berasal  dari  partai  Nahdlatul                         sebagai hilangnya suara mereka di Parlemen.
                                                                                                                                                                                                 telah mendorong reformasi sistem parlementer
                           tersebut tidak disukai tentara khususnya dalam
                                                                          Ulama dan PSII. Sesuai dengan hasil pemilihan                           Oleh karenanya, dorongan pemberontakkan
                                                                                                                                                                                                 Indonesia dengan pembentukkan satu kamar
                           Kodim Siliwangi di Jawa Barat yang sering
                                                                          umum, maka PNI yang muncul sebagai partai                               ataupun reformasi pusat ini semakin menguat
                                                                                                                                                                                                 dewan sehingga menjadi sistem bikameral
                                                            76
                           bertempur dengan pasukan DI/TII.  Dengan                                                                               dari luar Jawa. Kondisi ini akan diperparah pada
                                                                          terbesar parlemen merasa partainya yang paling
                                                                                                                                                                                                 dengan berdasarkan pemiliran teritorial, sehingga
                           kesepakatan antara Wakil Presiden Mohammad     berhak untuk menunjuk formatur. Burhanuddin                             tahun 1956, ketika Mohammad Hatta, yang
                                                                                                                                                                                                 memperkuat posisi provinsi Luar Jawa atas jumlah
                           Hatta dan Kolonel Zulkifli Lubis pada tahun    meyerahkan    mandatnya    kembali   kepada                             dianggap banyak orang sebagai wakil luar Jawa
                                                                                                                                                                                                                             81
                                                                                                                                                                                                 numerik provinsi-provinsi Jawa.
                           1955, maka serangkaian pendekatan politis      Presiden Sukarno pada tanggal 3 Maret 1956.                             dalam pemerintahan Sukarno, mengundurkan
                           dilaksanakan kepada DI/TII di Jawa Barat, Aceh   Penyerahan ini dilakukan setelah Burhanuddin                          diri sebagai Wakil Presiden. Kondisi ini, serta   Sejarawan R.Z. Leiriza  menyatakan  bahwa
                           dan  Sulawesi  Selatan. Kabinet Burhanuddin    berhasil menyelesaikan pemilihan umum serta                             perasaan putus asa dari kalangan intelektual   penyebab pertama adalah kegagalan dalam sistem
                           juga memulai proses penetapan Aceh sebagai     mengumumkan pembagian kursi di DPR                                      Masyumi dan PSI akan mendorong sebagian        politik demokrasi parlementer. Terutama pada

                           408   PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959                                                                                                                  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  409
   415   416   417   418   419   420   421   422   423   424   425