Page 422 - Perdana Menteri RI Final
P. 422

masa pemerintahan kabinet Ali Sastroamidjojo   adalah awal dari bergesernya kepercayaan elit-                          Presiden Sukarno merasakan bahwa lambat laun   pertemuan  dengan  tokoh  militer  dan  sipil  di
                           periode pertama (1954-1955) karena pada masa   elit Masumi terhadap demokrasi. Burhanuddin,                            PKI  mendukung  konsepsi  pemerintahan  yang   Sungai Dareh. 86

                           ini, ada upaya untuk melakukan dropping pegawai   Syafruddin dan Mohammad Natsir merupakan                             digagas oleh Sukarno sementara tokoh Masyumi
                                                                                                                                                                                                 Sebelum pertemuan di Sungai Dareh, para
                           dari pusat ke daerah yang mengakibatkan ada    suara penentang utama dari tindakan-tindakan                            dan  PSI  menentang  konsepsi  tersebut.  Perihal
                                                                                                                                                                                                 tokoh militer dan sipil bertemu di Gubernuran
                           sekelompok orang yang mencari peluang untuk    Sukarno yang anti-demokrasi. Partai Masyumi                             ini mengakibatkan terjadi terror terhadap tokoh
                                                                                                                                                                                                 Sumatera, tanggal 6 Januari 1958. Burhanuddin
                           meraih keuntungan material serta jabatan di pusat   dan PSI dicap sebagai organisasi terlarang                         yang menentang konsepsi Presiden sehingga
                                                                                                                                                                                                 hadir  dalam pertemuan tersebut  bersamaan
                           ataupun di daerah. Ini menunjukkan bahwa Ali   pada tahun 1960. Usaha pasca Sukarno untuk                              mengakibatkan pergolakan daerah semakin
                                                                                                                                                                                                 dengan Natsir, Sjafruddin Prawiranegara,
                           Sastroamidjojo lebih memilih untuk memperkuat   menghidupkan kembali Masyumi, termasuk                                 besar karena menilai bahwa pemerintah pusat
                           PNI sebagai sebuah partai ketimbang bangsa     dalam bentuk Partai Musyawarah Islam                                    sudah sangat terpengaruh oleh PKI.  85         Sumitro Djojohadikusumo, dan Isa Anshari dari
                                                                                                                                                                                                 kalangan sipil. Dalam pertemuan ini muncul ide
                           Indonesia. Perihal ini kemudian masih dibawa   (Parmusi) yang gagal mendapatkan suara dan
                                                                                                                                                  Burhanuddin diintimidasi oleh pemuda-pemuda    untuk mendirikan Negara federal yang dianggap
                           oleh kabinet Ali Sastroamidjojo periode kedua   akhirnya beraliansi pada Golkar di tahun 1971,
                                                                                                                                                  serta ‘tukang pukul’ kiri radikal. Hal ini terjadi   lebih cocok diterapkan di Indonesia, tetapi
                           (1956-1957) hingga kemudian menimbulkan        menyempitkan kesempatan elit Masyumi untuk
                                                                                                                                                  karena Burhanuddin menolak konsepsi yang       kemudian ide ini dibatalkan karena pendirian
                           istilah sentralisme melalui system  dropping   mengambil jalan demokrasi.
                                                                                                                                                  diajukan oleh Presiden Sukarno. Pada bulan     Negara federal merupakan wewenang dari
                           pegawai tersebut. Persoalan inilah yang kemudian
                                                                          Terjadi serangkaian peristiwa ditahun 1957                              Januari 1958, Presiden Sukarno pergi keluar    Konstituante. Peningkatan intensitas perjuangan
                           memicu semboyan otonomi yang semakin
                                                                          yang  pada  akhirnya  mendorong  tokoh-tokoh                            negeri dalam perjalanan enam minggu. Sepanjang   daerah menjadi pembicaraan yang menarik,
                           hari semakin populer di berbagai daerah di
                                                                          Masyumi, termasuk Burhanuddin, untuk                                    bulan itu, terjadi serangkaian pembicaraan     karena para tokoh tersebut menyetujui bahwa
                           Indonesia. Gerakan otonomi ini menuntut agar
                                                                          ‘hijrah’ ke Padang. Pada Juni dan Agustus,                              antara orang Masyumi dengan pimpinan militer
                           daerah diberikan mengatur rumah tangganya                                                                                                                             tindakan presiden Sukarno yang menunjuk
                                                                          pemilihan  daerah  dilangsungkan  dimana  PKI                           daerah Sumatera yang telah memberontak.
                           sendiri baik dalam masalah administrasi maupun                                                                                                                        dirinya sebagai formatur hingga kemudian
                                                                          muncul sebagai pemenang terbesar dengan                                 Pada 10 Februari 1958, mereka mengeluarkan
                                   82
                           keuangan .                                                                                                                                                            membentuk Kabinet Karya merupakan hal yang
                                                                          perolehan suara sebesar 27,4%. Pada 30 Oktober,                         ultimatum menuntut penurunan pemerintahan      melanggar hukum karena melanggar demokrasi
                           Keterlibatan tiga tokoh Masyumi ini bukan      sekelompok aktivis Muslim muda dari Bima                                Djuanda Kartawidjaja dan pembentukan kabinet                                  87
                                                                                                                                                                                                 yang ditetapkan oleh UUDS 1950.
                           salah satu kebetulan. Kahin menilai bahwa sejak   melakukan percobaan pembununan terhadap                              baru dengan formatur Mohammad Hatta dan
                           peroleh pemilu 1955 Masyumi merasa bahwa       Presiden Sukarno di Cikini. Nasution dan                                Sultan Hamengkubuwono IX. Tuntutan tidak       Pertemuan selanjutnya diadakan di Sungai Dareh
                           kekuatan politiknya sudah semakin menurun.     kepala Intel Kolonel Sukendro menuduh Kolonel                           bisa dipenuhi Djuanda karena Presiden Sukarno   pada tanggal 9 Januari 1958 untuk membahas
                           Kekalahan Masyumi terhadap PNI di pemilu       Lubis, sekutu militer Masyumi di Sumatera,                              masih dalam perjalanan luar negeri. Kedatangan   langkah  mereka  selanjutnya.  Pertemuan  ini
                                                                                                                    84
                           merupakan sebuah kejutan bagi elit Masyumi,    mendalangi percobaan pembunuhan itu.                                    Burhanuddin ke Palembang dimanfaatkan oleh     diikuti oleh Burhanuddin, Sjafruddin, Natsir,
                           termasuk Burhanuddin yang sudah merasa         Keberhasilan penangkapan pelaku ancaman                                 Letkol Barlian untuk mengadakan pertemuan      dan  Sumitro  Djojohadikusumo  menjadi  tokoh
                           bahwa partainya akan menang dalam jumlah       pembunuhan  Presiden di  Cikini kurang  dari                            membahas  politik  di tanah  air, konflik  di   sipil yang tergabung dalam pertemuan tersebut
                           yang besar. Ditambah lagi, Nadhatul Ulama      24 jam dinilai sebagai bagian dari rekayasa dari                        Cikini, serta ancaman-ancaman yang diperoleh   selain tokoh militer yang terdiri dari Letkol

                           yang dianggapnya sebagai partai sempalan yang   mereka yang anti gerakan daerah. Ditambah lagi                         oleh  beberapa  tokoh  yang  menolak  konsepsi   Ahmad Husein, Letkol Balian, Letkol Sumual,
                           seharusnya mendapatkan suara kecil malah       dengan kejadian pengambil alihan perusahaan                             Presiden Sukarno. Burhanuddin kemudian         Kolonel  Zulkifli  Lubis, Kolonel Simbolon,
                           mendapatkan posisi ketiga. PKI sebagai partai   milik Belanda oleh PKI. Pada saat itu, tokoh                           mengusulkan untuk menyertakan Sjafruddin       Kapten Sutarno, dan beberapa perwira lainnya
                           ketiga terbesar juga amat mengkhawatirkan      Masyumi dan PSI serta Hatta sangat menentang                            yang juga berada di Palembang untuk ikut       yang diduga terlibat dala peristiwa ancaman
                           Masyumi karena semangat anti-Komunis yang      tindakan yang dilakukan oleh PKI. Tindakan                              dalam pertemuan tersebut Setelah pertemuan     pembunuhan terhadap Presiden Sukarno.
                                                   83
                           kuat dikalangan partai ini.  Malah partai yang   tokoh tersebut kemudian dijadikan alasan oleh                         tersebut, Burhanuddin beserta Letkol Barlian,   Pertemuan di Sungai Dareh ini menghasilkan
                           paling dekat dengan Masyumi, PSI mendapatkan   PKI bahwa mereka adalah antek imperialism,                              dan Sjafruddin mendapat undangan dari Ketua    beberapa keputusan, diantaranya ialah keputusan
                           suara yang sangat sedikit yaitu hanya 2 persen. Ini   pengkhianat, dan musuh Negara. Dilain pihak,                     Dewan Djambek untuk kemudian mengadakan        untuk mencari senjata ke luar negeri serta





                           410   PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959                                                                                                                  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  411
   417   418   419   420   421   422   423   424   425   426   427