Page 423 - Perdana Menteri RI Final
P. 423

masa pemerintahan kabinet Ali Sastroamidjojo   adalah awal dari bergesernya kepercayaan elit-  Presiden Sukarno merasakan bahwa lambat laun   pertemuan  dengan  tokoh  militer  dan  sipil  di
 periode pertama (1954-1955) karena pada masa   elit Masumi terhadap demokrasi. Burhanuddin,   PKI  mendukung  konsepsi  pemerintahan  yang   Sungai Dareh. 86

 ini, ada upaya untuk melakukan dropping pegawai   Syafruddin dan Mohammad Natsir merupakan   digagas oleh Sukarno sementara tokoh Masyumi
                                                               Sebelum pertemuan di Sungai Dareh, para
 dari pusat ke daerah yang mengakibatkan ada   suara penentang utama dari tindakan-tindakan   dan  PSI  menentang  konsepsi  tersebut.  Perihal
                                                               tokoh militer dan sipil bertemu di Gubernuran
 sekelompok orang yang mencari peluang untuk   Sukarno yang anti-demokrasi. Partai Masyumi   ini mengakibatkan terjadi terror terhadap tokoh
                                                               Sumatera, tanggal 6 Januari 1958. Burhanuddin
 meraih keuntungan material serta jabatan di pusat   dan PSI dicap sebagai organisasi terlarang   yang menentang konsepsi Presiden sehingga
                                                               hadir  dalam pertemuan tersebut  bersamaan
 ataupun di daerah. Ini menunjukkan bahwa Ali   pada tahun 1960. Usaha pasca Sukarno untuk   mengakibatkan pergolakan daerah semakin
                                                               dengan Natsir, Sjafruddin Prawiranegara,
 Sastroamidjojo lebih memilih untuk memperkuat   menghidupkan kembali Masyumi, termasuk   besar karena menilai bahwa pemerintah pusat
 PNI sebagai sebuah partai ketimbang bangsa   dalam bentuk Partai Musyawarah Islam   sudah sangat terpengaruh oleh PKI. 85  Sumitro Djojohadikusumo, dan Isa Anshari dari
                                                               kalangan sipil. Dalam pertemuan ini muncul ide
 Indonesia. Perihal ini kemudian masih dibawa   (Parmusi) yang gagal mendapatkan suara dan
               Burhanuddin diintimidasi oleh pemuda-pemuda     untuk mendirikan Negara federal yang dianggap
 oleh kabinet Ali Sastroamidjojo periode kedua   akhirnya beraliansi pada Golkar di tahun 1971,
               serta ‘tukang pukul’ kiri radikal. Hal ini terjadi   lebih cocok diterapkan di Indonesia, tetapi
 (1956-1957) hingga kemudian menimbulkan   menyempitkan kesempatan elit Masyumi untuk
               karena Burhanuddin menolak konsepsi yang        kemudian ide ini dibatalkan karena pendirian
 istilah sentralisme melalui system  dropping   mengambil jalan demokrasi.
               diajukan oleh Presiden Sukarno. Pada bulan      Negara federal merupakan wewenang dari
 pegawai tersebut. Persoalan inilah yang kemudian
 Terjadi serangkaian peristiwa ditahun 1957   Januari 1958, Presiden Sukarno pergi keluar   Konstituante. Peningkatan intensitas perjuangan
 memicu semboyan otonomi yang semakin
 yang  pada  akhirnya  mendorong  tokoh-tokoh   negeri dalam perjalanan enam minggu. Sepanjang   daerah menjadi pembicaraan yang menarik,
 hari semakin populer di berbagai daerah di
 Masyumi, termasuk Burhanuddin, untuk   bulan itu, terjadi serangkaian pembicaraan   karena para tokoh tersebut menyetujui bahwa
 Indonesia. Gerakan otonomi ini menuntut agar
 ‘hijrah’ ke Padang. Pada Juni dan Agustus,   antara orang Masyumi dengan pimpinan militer
 daerah diberikan mengatur rumah tangganya                     tindakan presiden Sukarno yang menunjuk
 pemilihan  daerah  dilangsungkan  dimana  PKI   daerah Sumatera yang telah memberontak.
 sendiri baik dalam masalah administrasi maupun                dirinya sebagai formatur hingga kemudian
 muncul sebagai pemenang terbesar dengan   Pada 10 Februari 1958, mereka mengeluarkan
 82
 keuangan .                                                    membentuk Kabinet Karya merupakan hal yang
 perolehan suara sebesar 27,4%. Pada 30 Oktober,   ultimatum menuntut penurunan pemerintahan   melanggar hukum karena melanggar demokrasi
 Keterlibatan tiga tokoh Masyumi ini bukan   sekelompok aktivis Muslim muda dari Bima   Djuanda Kartawidjaja dan pembentukan kabinet   87
                                                               yang ditetapkan oleh UUDS 1950.
 salah satu kebetulan. Kahin menilai bahwa sejak   melakukan percobaan pembununan terhadap   baru dengan formatur Mohammad Hatta dan
 peroleh pemilu 1955 Masyumi merasa bahwa   Presiden Sukarno di Cikini. Nasution dan   Sultan Hamengkubuwono IX. Tuntutan tidak   Pertemuan selanjutnya diadakan di Sungai Dareh
 kekuatan politiknya sudah semakin menurun.   kepala Intel Kolonel Sukendro menuduh Kolonel   bisa dipenuhi Djuanda karena Presiden Sukarno   pada tanggal 9 Januari 1958 untuk membahas
 Kekalahan Masyumi terhadap PNI di pemilu   Lubis, sekutu militer Masyumi di Sumatera,   masih dalam perjalanan luar negeri. Kedatangan   langkah  mereka  selanjutnya.  Pertemuan  ini
 84
 merupakan sebuah kejutan bagi elit Masyumi,   mendalangi percobaan pembunuhan itu.    Burhanuddin ke Palembang dimanfaatkan oleh   diikuti oleh Burhanuddin, Sjafruddin, Natsir,
 termasuk Burhanuddin yang sudah merasa   Keberhasilan penangkapan pelaku ancaman   Letkol Barlian untuk mengadakan pertemuan   dan  Sumitro  Djojohadikusumo  menjadi  tokoh
 bahwa partainya akan menang dalam jumlah   pembunuhan  Presiden di  Cikini kurang  dari   membahas  politik  di tanah  air, konflik  di   sipil yang tergabung dalam pertemuan tersebut
 yang besar. Ditambah lagi, Nadhatul Ulama   24 jam dinilai sebagai bagian dari rekayasa dari   Cikini, serta ancaman-ancaman yang diperoleh   selain tokoh militer yang terdiri dari Letkol

 yang dianggapnya sebagai partai sempalan yang   mereka yang anti gerakan daerah. Ditambah lagi   oleh  beberapa  tokoh  yang  menolak  konsepsi   Ahmad Husein, Letkol Balian, Letkol Sumual,
 seharusnya mendapatkan suara kecil malah   dengan kejadian pengambil alihan perusahaan   Presiden Sukarno. Burhanuddin kemudian   Kolonel  Zulkifli  Lubis, Kolonel Simbolon,
 mendapatkan posisi ketiga. PKI sebagai partai   milik Belanda oleh PKI. Pada saat itu, tokoh   mengusulkan untuk menyertakan Sjafruddin   Kapten Sutarno, dan beberapa perwira lainnya
 ketiga terbesar juga amat mengkhawatirkan   Masyumi dan PSI serta Hatta sangat menentang   yang juga berada di Palembang untuk ikut   yang diduga terlibat dala peristiwa ancaman
 Masyumi karena semangat anti-Komunis yang   tindakan yang dilakukan oleh PKI. Tindakan   dalam pertemuan tersebut Setelah pertemuan   pembunuhan terhadap Presiden Sukarno.
 83
 kuat dikalangan partai ini.  Malah partai yang   tokoh tersebut kemudian dijadikan alasan oleh   tersebut, Burhanuddin beserta Letkol Barlian,   Pertemuan di Sungai Dareh ini menghasilkan
 paling dekat dengan Masyumi, PSI mendapatkan   PKI bahwa mereka adalah antek imperialism,   dan Sjafruddin mendapat undangan dari Ketua   beberapa keputusan, diantaranya ialah keputusan
 suara yang sangat sedikit yaitu hanya 2 persen. Ini   pengkhianat, dan musuh Negara. Dilain pihak,   Dewan Djambek untuk kemudian mengadakan   untuk mencari senjata ke luar negeri serta





 410  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959           PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  411
   418   419   420   421   422   423   424   425   426   427   428