Page 421 - Perdana Menteri RI Final
P. 421

pada tanggal 2 Maret 1956. Namun kabinet        dari pemimpin-pemimpin partai ini untuk
               Burhanuddin masih melaksanakan tugasnya         memberontak terhadap kekuasaan Sukarno di

               sampai terbentuk kabinet baru. 78               Jakarta.

               Setelah disepakati bahwa kabinet selanjutnya
                                                               PEMERINTAHAN REVOLUSIONER
               akan dipimpin oleh Ali Sastroamidjojo periode,   REPUBLIK INDONESIA (PRRI)
               maka  peralihan kekuasaan  dari  Burhanuddin
                                                               PRRI bisa dikatakan merupakan perwujudan
               ke Ali jilid keddua terjadi di Gedung
                                                               terhadap ketidak-puasan orang, khususnya mereka
               Pedjambon pada hari senin, 26 Maret 1956.
                                                               yang tinggal di luar Jawa, terhadap dominasi Jawa
               Dalam kesempatan tersebut, Burhanuddin
                                                               di Jakarta. Kegagalan Masyumi dalam Pemilu
               meminta kepada Ali Sastroamidjojo untuk
                                                               1955 ini menandakan kepada orang-orang luar
               tetap memperhatikan dua poin yang selama ini
                                                               Jawa  bahwa  politik  nasional  akan  didominasi
               menjadi perhatian dari pemerintahan kabinet
 Jamuan makan yang diadakan oleh Presiden                      oleh suara dari pulau Jawa yang cenderung
 Sukarno untuk para Menteri Kabinet Burhanuddin   Burhanuddin. Pertama, perihal penghapusan
                                                               mendukung partai-partai Nasionalis Kiri ataupun
 Harahap demisoner pada tanggal 19 Maret 1956.
               Uni Indonesia Belanda yang secara formil
                                                               Islam tradisional. Perpecahan antara Jawa dan
 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia  sudah diselesaikan oleh Burhanuddin. Kedua,
                                                               Luar Jawa bahkan menentukan dinamika respons
               dalam hal pemulihan keamanan dalam negeri
                                                               Masyumi, partai yang sering digadang oleh
               yang sudah menjadi persoalan lama sejak
 Walaupun Kabinet Burhanuddin mendukung   Provinsi mandiri dan terpisah dari Provinsi   oposisi sebagai penyebab ‘pemberontakan’ PRRI,
                                79
               Indonesia merdeka.  Kabinet Ali Sastroamidjojo
 Kolonel Nasution, termasuk dalam hal reshuffle   Sumatera Utara sebagai konsesi untuk meredam   dengan pimpinan Masyumi dari Jawa seperti
               merupakan kabinet terakhir dalam periode
 TNI, hubungan pemerintah dengan tentara ini   pemberontakan Daud Beureh walaupun hal   Sukiman Wirjosandjojo dan Moehammad Roem
               demokrasi liberal Indonesia. Pemerintahan
 merenggang pula akibat lemahnya reaksi Kabinet   ini akhirnya diresmikan oleh Kabinet Ali   untuk lebih lunak menghadapi perilaku Presiden
               Kabinet  Ali Sastroamidjojo  yang  ditandai
 terhadap gerakan separatis, khususnya DI/TII.   Sastroamidjojo II. 77  Sukarno, sementara pimpinan yang berasal dari
               dengan permasalahan ekonomi yang berlanjut
                                                               Luar Jawa, khususnya dari daerah Minangkabau,
 Burhanuddin menolak  pendekatan  militer  Ali
 Selain hal tersebut, kebijakan pembubaran Uni   serta serangkaian  pemberontakkan  luar  Jawa   seperti Burhanuddin, Natsir dan Sjafruddin untuk
 Sastroamidjojo dan menyerukan penawaran
 Indonesia-Belanda ternyata tidak mendapatkan   semakin menurunkan kepercayaan rakyat dan    80
 amnesti bagi ‘pemberontak. Sementara itu,                     lebih reaktif terhadap Presiden.  Kelemahan
 persetujuan dari Presiden Sukarno dan beberapa   TNI terhadap demokrasi. Meluruhnya posisi
 Kasman Singodimedjo berkata bahwa DI/TII itu                  daerah luar Jawa diakibatkan karena jumlah
 partai koalisi dalam kabinet. Perpecahan koalisi   Masyumi dalam parlemen dianggap oleh banyak   penduduk  yang  timpang  antara  Jawa dan  Luar
 tidak pantas disebut sebagai musuh, melainkan
 dalam kabinet ditandai dengan upaya penarikan   orang luar Jawa, khususnya orang dari Sumatera,
                                                               Jawa. Masyumi, khususnya Mohammad Natsir
 anak bangsa yang nakal. Pernyataan-pernyataan
 menteri  yang  berasal  dari  partai  Nahdlatul   sebagai hilangnya suara mereka di Parlemen.
                                                               telah mendorong reformasi sistem parlementer
 tersebut tidak disukai tentara khususnya dalam
 Ulama dan PSII. Sesuai dengan hasil pemilihan   Oleh karenanya, dorongan pemberontakkan
                                                               Indonesia dengan pembentukkan satu kamar
 Kodim Siliwangi di Jawa Barat yang sering
 umum, maka PNI yang muncul sebagai partai   ataupun reformasi pusat ini semakin menguat
                                                               dewan sehingga menjadi sistem bikameral
 76
 bertempur dengan pasukan DI/TII.  Dengan   dari luar Jawa. Kondisi ini akan diperparah pada
 terbesar parlemen merasa partainya yang paling
                                                               dengan berdasarkan pemiliran teritorial, sehingga
 kesepakatan antara Wakil Presiden Mohammad   berhak untuk menunjuk formatur. Burhanuddin   tahun 1956, ketika Mohammad Hatta, yang
                                                               memperkuat posisi provinsi Luar Jawa atas jumlah
 Hatta dan Kolonel Zulkifli Lubis pada tahun   meyerahkan  mandatnya  kembali  kepada  dianggap banyak orang sebagai wakil luar Jawa
                                                                                           81
                                                               numerik provinsi-provinsi Jawa.
 1955, maka serangkaian pendekatan politis   Presiden Sukarno pada tanggal 3 Maret 1956.   dalam pemerintahan Sukarno, mengundurkan
 dilaksanakan kepada DI/TII di Jawa Barat, Aceh   Penyerahan ini dilakukan setelah Burhanuddin   diri sebagai Wakil Presiden. Kondisi ini, serta   Sejarawan R.Z. Leiriza  menyatakan  bahwa
 dan  Sulawesi  Selatan. Kabinet Burhanuddin   berhasil menyelesaikan pemilihan umum serta   perasaan putus asa dari kalangan intelektual   penyebab pertama adalah kegagalan dalam sistem
 juga memulai proses penetapan Aceh sebagai   mengumumkan pembagian kursi di DPR   Masyumi dan PSI akan mendorong sebagian   politik demokrasi parlementer. Terutama pada

 408  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959           PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  409
   416   417   418   419   420   421   422   423   424   425   426