Page 368 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 368

Aceh, misalnya, mengikuti nasihat       Di samping penerapan hukum Islam                            tentara dan gajah melakukan parade     penyebar Islam—khususnya tiga orang
            ulama, tempat mereka berkonsultasi      melalui kadi, projek Islamisasi raja                        untuk meramainakan perayaan hari       ulama asal Minangkabau. Mereka
            dalam membagi harta kekayaan            Aceh juga tampak pada upacara                               berkurban. 52                          diminta menyediakan pihak kerajaan
            orang yang telah meninggal menurut      ritual keagamaan. Setiap hari Jumat                         Lebih dari sekadar isu hukum dan       naskah (lontara) keagamaan yang
            ketentuan dalam hukum waris Islam. 48   diselenggarakan prosesi khusus untuk                                                               diperkukan sebagai sumber penerapan
                                                    menghantarkan raja melaksakanakan                           ritual, kerajaan Aceh juga menjadikan   ajaran Islam di lingkungan kerajaan.
            Di samping itu, kerajaan Aceh juga      shalat Jumat. Sumber-sumber Melayu                          ortodoksi Islam sebagai elemen esensial   Lontara hukum waris (kitab faraid),
            tercatat telah mendorong penerapan      dan Eropa mencatat bahwa pada                               untuk menentukan kesetiaan politik     lontara hukum nikah, lontara tentang
            hukum Islam untuk kasus-kasus pidana    masa awal kekuasaan Sultan Iskandar                         masyarakat dan individu. Komunitas     wewenang kali (kadi) menurut ajaran
            tertentu. Hukum potong tangan bagi      Muda, ribuan orang dan lusinan gajah                        non-Muslim, terutama mereka yang       Islam, dan sejumlah lontara lain yang
            pencuri, khususnya untuk barang yang    menyaksikan kedatangan raja ke                              tinggal di ibukota kerajaan, kerap     berisi sejarah Islam menjadi bukti
            berharga sekitar seperempat dinar, jelas   masjid untuk shalat Jumat. Pada 1613,                    menjadi sasaran dari kebijakan         upaya penerapan tersebut. Berdasarkan
            dipraktikkan dan termasuk ke dalam      tercatat bahwa prosesi tersebut bahkan                      Islamisasi ini. Jika mereka berada     lontara itulah raja Gowa-Tallo berusaha
            sistem hukum kerajaan Aceh. Penguasa    melibatkan dua ratus gajah dan empat                        di pihak yang salah dalam suatu        menerapkan ajaran Islam dalam
            Aceh juga menghukum kaum Muslim         ribu orang. Setelah selesai shalat Jumat,                   perselisihan, maka konversi keagamaan   kehidupan masyarakat. 54
            yang mengonsumsi alcohol secara         mereka biasa mengadakan kontes                              menjadi Muslim kerap kali dijadikan    Lembaga kadi sendiri baru terbentuk
            terbuka—meski raja kerap berperilaku    binatang dan upacara hiburan. Sultan                        alternatif penyelesaian—sesuatu yang
            demikian.  Lebih dari itu, hukum Islam   Iskandar Muda menyuruh rakyat salat                        tidak terjadi pada masa kerajaan Malaka   pada masa pemerintahan Sultan
                     49
                                                                                                                                                       Malikkusaid (I Mannuntungi Daeng
            juga diterapkan untuk sejumlah kasus    lima waktu, puasa Ramadan dan puasa                         pada abad sebelumnya. Hal tersebut     Mattola Karaeng Lakiung sebagai raja
            terkait dengan keyakinan agama. Hal ini   sunah, serta mengenyahkan perbuatan                       jelas-jeas terjadi di kerajaan Aceh sejak   Gowa-Tallo ke-15 (+ 1637-1653 saat itu
            terjadi ada masa Iskandar Tsani bekuasa   minuman arak dan bermain judi. 51                         1565, juga di kerajaan-kerajaan lain di   raja bertindak langsung sebagai hakim
            (1637-1641). Beberapa orang Portugis yang   Prosesi dan perayaan tersebut bahkan                    Nusantara dalam periode ini—Tarnate,   agama Islam di kerajaan dan sekaligus
            tidak bersedia masuk Islam diesksekusi,   sangat meriah pada bulan-bulan tertentu                   Banten, Makassar, Mataram dan Kedah.   sebagai pelindung agama. seorang
            dan pedagang Cina yang masih suka       yang memang sarat dengan upacara                            Pengalaman seorang pengembara          kadi diangkat dengan sebutan Daengta
            makan babi dilarang tinggal di Aceh.    ritual keagamaan secara massif—yakni                        Belanda de Houtman pada 1601 dan       Kali Gowa, yang mengepalai pejabat
            Pada masa itu sistem peradilan kuno     bulan puasa Ramadhan, malam turunya                         sekelompok utusan Portugis pada 1637,   sara’ (syariah) di kerajaan, yakni Imam,
            yang mempraktikan tindak kekerasan      wahyu pada 17 Ramadhan (nujul al-                           adalah bukti penting dari hal ini. Melalui   Khatib, Bilal, Mukim dan jabatan
                                                                                                                anjuran dan ancaman serta janji oleh
            telah dihilangkan. Pada masa ini lah    Qur’an), hari raya Idul Fitri dan Idul                      par ulama Aceh mereka diminta untuk    lain yang membantu tugas-tugas
            pula penghakiman atas pengikut aliran   Adha. Khusus pada perayaan Idul Adha,                       masuk agama Islam. 53                  yang diemban kadi kerajaan. Mereka
            sufi wujudiyah ajaran Syamsuddin        upacara perayaan oleh rakyat Aceh                                                                  umumnya berbasis di masjd kerajaan
            as-Sumatrani dan Hamzah Fansuri         bahkan sangat spektakular; diberitakan                      Di wilayah Timur Nusantara, tepatnya   di Lakiung. Berada di samping kanan
            dilakukan atas masukan tokoh neo-sufi   sekitar lima ratus kerbau disembelih di                     di kerajaan Gowa-Tallo, hukum Islam    raja saat upacara kerajaan, Dangta Kali
            Nuruddin ar-Raniri. 50                  hari itu, dan ribuan pasukan berkuda,                       dipercayakan kepada para ulama         Gowa in bertanggungjawab dalam



         356    Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik                                                                                           Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   357
   363   364   365   366   367   368   369   370   371   372   373