Page 372 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 372

untuk urusan militer dan pertahanan     Sufisme menjadi bagian penting dalam                        ia menempuh jalan sufi (tasawuf)       yang diamalkan bersama-sama
            dan Boboto Luar untuk urusan hukum      proses Islamisasi. Terutama dalam                           melalui penyucian hati (tasfiyatul qalb).   dalam kehidupan sufistik. Tujuan
            dan juga ketertiban masyarakat.         upaya merumuskan ajaran Islam yang                          Tarekat berupaya menjalani prinsip-    utama diciptakannya ritual-ritual itu
                                         61
            Struktur ini jelas mengindikaskan bahwa   sejalan dengan tingkat adaptasi budaya                    prinsip Islami dengan mengerjakan      adalah untuk membawa orang kepada
            Bobot Akhirat dirumuskan belakangan     lokal, sufisme memainkan peran                              seluruh perintah wajib dan sunnah      kedekatan diri, bahkan perasaan
            sejalan dengan prosses Islamisasi,      penting. Hal itu terjadi karena dalam                       agar mendapat ridha Allah. Kesemunya   bersatu (al-‘ittihad) dengan Sang Khalik.
            sesuai perkembangan baru menyusul       tradisi Islam, aspek paling kompromis                       bermuara pada penghayatan terhadap     Itulah yang menjadi latar belakang
            beralihnya raja dan masyarakat          terhadap dengan budaya lokal adalah                         ibadah murni (mahdhah) untuk           dibangunnya secara rinci etika dan
            mememluk agama Islam. Karena itu,       sufisme. Sufisme lebih menekankan                           mewujudkan al-akhlaq al-karimah (budi   tata-cara tarekat, termasuk di dalamnya
            lembaga ini dirancang untuk menerapan   praktik meditasi untuk mencapai                             pekerti luhur), baik secara individual   tata tertib dan pola hubungan murid dan
            ajaran Islam di tengah masyarakat.      “derajat kesatuan” dengan Tuhan––yang                       maupun sosial. 64                      syaikh, berkhalwat, tidak tidur di malam
                                                    dianggap sebagai bentuk kesempurnaan                                                               hari untuk beribadah, tafakur, zikir
                                                    dalam beragama––ketimbang praktik-                          Secara harfiah tarekat (Arab, tariqah)   kepada Allah, dan sebagainya. Dalam
            Sufisme                                 praktik ritual yang ditentukan syari’ah.                    berarti ”jalan”. Dalam literatur sufi,   konteks ini, tarekat mulai dipahami
            Sufisme menempati posisi penting        Dalam konteks Nusantara prakolonial—                        tarekat mempunyai dua pengertian       sebagai perjalanan yang mengikuti jalur
                                                                                                                teknis. Dalam pengertian pertama,
            dalam dinamika perkembangan Islam       secara tradisional disebut “negeri di                       tarekat berarti suatu metode keruhanian   yang ada dan melalui tahap dan seluk-
            di Nusantara, juga Asia Tenggara        bawah angin” (the lands below the wind)—                    yang memberikan bimbingan spiritual    beluknya, menuju suatu tujuan moral
            secara umum. Besarnya pengaruh          lebih-lebih di Jawa, sufisme sedemikian                     dalam mengarahkan kehidupan            yang mulia. 66
            sufi dalam proses islamisasi dapat      mudah diterima masyarakat. Sufisme                          menuju kedekatan dengan Tuhan.         Sejalan dengan makin mapannya
            dilihat dari berbagai ajaran dan        dalam banyak aspek sejalan dengan                           Tarekat dalam pengertian ini berupa    berbagai macam teori dan amalan
            amalan sufisme yang dipraktikkan        praktik-praktik dan pandangan dunia                         jalan yang harus ditempuh atau diikuti   sufistik ini, terjadi pula beragam
            masyarakat. Para sufi berjasa           keagamaan masyarakat Jawa yang                              seorang salik (mistik) di mana sejumlah   perubahan penting dalam konsep
            memperkenalkan Islam kepada             Hindu-Budhis. Alasan inilah yang                            maqamat dan ‘ahwal harus dilampaui     kesufian yang lebih praktis. Berubahnya
            masyarakat; memungkinkan Islam          memungkinkan sufisme menjadi satu                           untuk sampai kepada tujuan akhir,      konsep hubungan antara syaikh dan
            diterima, tersebar dan dianut oleh      kategori penting dalam sejarah Islam                        yaitu haqiqah. Pengertian tarekat ini   murid, mulai abad ke-10, membuka
            banyak orang yang memutuskan untuk      awal di Nusantara atau Asia Tenggara                        berkonotasi perseorangan (individual)   jalan terbentuknya suatu persaudaraan
            berkonversi dari agama sebelumnya.      secara lebih luas. Sufisme telah berjasa                    di mana kehidupan sufistik menjadi ciri   yang lebih formal dengan zawiyah,
            Tidaklah mungkin Islam begitu kuat      menjadikan Islam sedemikian mudah                           utamanya, dan ini berkembang pada      ribat, khanaqah atau tekke sebagai
            menancapkan akarnya di kalangan         diterima masyarakat. 63                                     periode klasik Islam, tepatnya pada abad   pusat kegiatannya. Setelah konsep
            penduduk Asia Tenggara jika tidak                                                                   ke-9 dan ke-19 M. 65                   ‘ijazah (wewenang mengajar) atau
            disiarkan secara massif oleh para       Sufisme umumnya dilembagakan                                                                       khirqah diperkenalkan, konsep silsilah
            Sufi yang berdakwah dengan penuh        dalam bentuk tarekat. Tujuan seseorang                      Periode selanjutnya menyaksikan        dimunculkan untuk menopang
            kedamaian. 62                           mendalami tarekat muncul setelah                            munculnya berbagai macam ritual        kokohnya sistem baru itu. Sebagai unsur



         360    Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik                                                                                           Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   361
   367   368   369   370   371   372   373   374   375   376   377