Page 371 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 371

penerapa hukum Islam di kerajaan   penting pihak kerajaan. Dan tugas itu   Sara terdiri dari seorang kadi untuk   Khatib, dan Moding; mereka semua
 Gowa-Tallo. 55  dilakukan oleh kadi. 56  seluruh kerajaan, Imam, khatib, bilal,   bekerja membantu tugas-tugas sultan
            mukim dan amil; mereka untuk jabatan    di bidang agama Islam dan karenanya
 Secara umum, penerapan hukum   Di kerajaan Bone, seperti halnya dengan   di bawah bekerja terutama dalam urusan   berada di bawah lindungan sultan
 Islam di Kerajaan Gowa-Tallo tampak   kerajaan Gowa-Tallo, lembaga kadi   keagamaan dan juga politik. Mereka   sebagai pembina agama Islam (amir al-
 mencerminkan pola perkembangan   terbentuk beberapa lama setelah Islam   mengatur urusan upacara-upacara   din). 59
 yang berlangsung di dunia Melayu. Di   secara resmi diadopsi menjadi agama   keagamaan (seperti maulid, Isra Mi’raj,
 kerajaan tersebut, hukum Islam (sarak)   kerajaan. Pembentukan lembaga kadi   Idul Fitri, dan upacara lain di istana. Juga   Beberapa kebijakan kerajaan di
 menjadi salah satu komponen penting   melibatkan ulama asal Minangkabau,   temasuk dalam tugas mereka adalah   bidang ini adalah: (1) pembatasan
 dalam perumusan budaya masyarakat   Khatib Tunggal (Dato’ri Bandang) yang   pernikahan raja dan keluarga serta kaum   poligami—sultan dalam hal ini
 Bugis-Makassar, pangngadereng atau   saat itu dipercaya pihak kerajaan untuk   bangsawan, dan upacara kematian raja   menerapkan sejumlah persyaratan
 pangngadekan. Setelah Islam menjadi   menjadi penasehat spiritual. Sejumlah   dan keluarganya. 58  sangat berat, sehingga secara formal
 agama masyarakat menyusul Islamisasi   naskah yang dikarang oleh Dato’ri   tidak memungkinkan seseorang untuk
 Kerajaan Gowa-Tallo, sarak ditempatkan   Bandang menjadi acuan utama para   Perkembangan lembaga hukum serupa   berpoligami; (2) larangan kumpul kebo
 pada posisi sejajar dengan komponen   kadi dan jabatan-jabatan di bawahnya.   terjadi pula di kerajaan Ternate, Maluku   dan pergundikan—sultan memberi
 budaya pra-Islam: adek (adat), rapang   Pada masa kekuasaan raja Bone ke-13,   Utara, melalui kehadiran Babato Akhirat,   sangsi tegas, berupa pemecatan, kepada
 (perumpamaan hukum), bicara (undang-  La Maddaremeng (+ 1631-1640), lembaga   satu lembaga hukum di kerajaan yang   petugas kerajaan yang melakukan
 undang), dan wari (pelapisan sosial).   hukum Islam resmi dibentuk, yang   dibentuk pada periode pimpinan Zainal   praktik di atas; (3) memangkas biaya
 Lebih dari itu, dalam perkembangannya   lebih dikenal sebagai pejabat sara’   Abidin (1468-1500) dan terus bertahan   perkawinan—langkah ini diambil
 kemudian, sarak diakui sangat   (Syariah). Lebih dari itu, mereka yang   hingga saat ini. Berbekal pengetahuan   untuk membuat perkawinan tidak
 mewarnai semua segi budaya Bugis-  diangkat sebagai pejabat diberi gelar   Islam yang diperolehnya setelah belajar   memberatkan, terutama pihak laki-
 Makassar yang telah dirumuskan   kebangsawanan Petta (Tuan Guru). Maka   kepada Sunan Giri di Gresik, Zainal   laki; dan (4) mewajbkan perempuan
 dalam komponen-komponen utama di   kadi disebut Petta Kali-e dan Imam   Abidin melakukan sejumlah langkah   berpakaian pantas—bahwa laki-laki dan
 atas. Sejalan dengan itu, pelaksanaan   disebut Petta Imang, dan seterusnya   perubahan dalam struktur pemerintahan   perempuan wajib mengenakan pakaian
 hukum Islam juga berada di tangan   untuk jabatan lain di bawahnya. 57  Ternate. Perubahan tersebut bisa dilihat   yang memenubi syarat kepantasan. 60
 seorang kadi (daengta kaliya). Kendati   dari dibentuknya satu lembaga baru
 memang tidak berperan dominan   Dalam perkembangannya kemudian,   yang bertanggung-jawab membantu   Di kerajaan Bacan, Maluku Utara,
 dalam kebijakan politik kerajaan,   ketika institusi hukum di kerajaan   sultan untuk uruan agama Islam, yakni   Lembaga Boboto Akhirat masih aktif.
 seperti halnya di dunia Melayu,   Bone semakin mapan, pejabat-pejabat   Babato Berjubah Putih, mendampingi   Seperi halnya di Ternate, Boboto Akhirat
 daengta kaliya sangat bertanggung   sara’ tersebut di atas dikenal dengan   Babato Berjubah Hitam yang sudah   di Bacan juga terdiri dari jabatan-jabatan
 jawab pada penataan masalah-masalah   sebutan Parewa Sara’, yang sejajar—  ada dan bertugas untuk urusan-urusan   untuk urusan keagamaan, dengan
 kemasyarakatan. Dengan demikian,   khusus untuk pimpinanannya Petta   politik. Babato Berbaju Putih, yang juga   Kadi sebagai pimpinan tertinggi. Dalan
 pelaksanaan hukum Islam di Kerajaan   Kali-e—dengan Daengte Kaliya di   kerap disebut Jolebe, terdiri dari seorang   stuktur kerajaan Bacan, Babato Akhirat
 Gowa-Tallo telah menjadi perhatian   Kerajaan Gowa-Tallo. Jabatan Parewa   Kadi (Kalem), beberapa orang Imam,   ini berdampingan dengan Boboto Dalam



 358  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   359
   366   367   368   369   370   371   372   373   374   375   376