Page 369 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 369
Aceh, misalnya, mengikuti nasihat Di samping penerapan hukum Islam tentara dan gajah melakukan parade penyebar Islam—khususnya tiga orang
ulama, tempat mereka berkonsultasi melalui kadi, projek Islamisasi raja untuk meramainakan perayaan hari ulama asal Minangkabau. Mereka
dalam membagi harta kekayaan Aceh juga tampak pada upacara berkurban. 52 diminta menyediakan pihak kerajaan
orang yang telah meninggal menurut ritual keagamaan. Setiap hari Jumat Lebih dari sekadar isu hukum dan naskah (lontara) keagamaan yang
ketentuan dalam hukum waris Islam. 48 diselenggarakan prosesi khusus untuk diperkukan sebagai sumber penerapan
menghantarkan raja melaksakanakan ritual, kerajaan Aceh juga menjadikan ajaran Islam di lingkungan kerajaan.
Di samping itu, kerajaan Aceh juga shalat Jumat. Sumber-sumber Melayu ortodoksi Islam sebagai elemen esensial Lontara hukum waris (kitab faraid),
tercatat telah mendorong penerapan dan Eropa mencatat bahwa pada untuk menentukan kesetiaan politik lontara hukum nikah, lontara tentang
hukum Islam untuk kasus-kasus pidana masa awal kekuasaan Sultan Iskandar masyarakat dan individu. Komunitas wewenang kali (kadi) menurut ajaran
tertentu. Hukum potong tangan bagi Muda, ribuan orang dan lusinan gajah non-Muslim, terutama mereka yang Islam, dan sejumlah lontara lain yang
pencuri, khususnya untuk barang yang menyaksikan kedatangan raja ke tinggal di ibukota kerajaan, kerap berisi sejarah Islam menjadi bukti
berharga sekitar seperempat dinar, jelas masjid untuk shalat Jumat. Pada 1613, menjadi sasaran dari kebijakan upaya penerapan tersebut. Berdasarkan
dipraktikkan dan termasuk ke dalam tercatat bahwa prosesi tersebut bahkan Islamisasi ini. Jika mereka berada lontara itulah raja Gowa-Tallo berusaha
sistem hukum kerajaan Aceh. Penguasa melibatkan dua ratus gajah dan empat di pihak yang salah dalam suatu menerapkan ajaran Islam dalam
Aceh juga menghukum kaum Muslim ribu orang. Setelah selesai shalat Jumat, perselisihan, maka konversi keagamaan kehidupan masyarakat. 54
yang mengonsumsi alcohol secara mereka biasa mengadakan kontes menjadi Muslim kerap kali dijadikan Lembaga kadi sendiri baru terbentuk
terbuka—meski raja kerap berperilaku binatang dan upacara hiburan. Sultan alternatif penyelesaian—sesuatu yang
demikian. Lebih dari itu, hukum Islam Iskandar Muda menyuruh rakyat salat tidak terjadi pada masa kerajaan Malaka pada masa pemerintahan Sultan
49
Malikkusaid (I Mannuntungi Daeng
juga diterapkan untuk sejumlah kasus lima waktu, puasa Ramadan dan puasa pada abad sebelumnya. Hal tersebut Mattola Karaeng Lakiung sebagai raja
terkait dengan keyakinan agama. Hal ini sunah, serta mengenyahkan perbuatan jelas-jeas terjadi di kerajaan Aceh sejak Gowa-Tallo ke-15 (+ 1637-1653 saat itu
terjadi ada masa Iskandar Tsani bekuasa minuman arak dan bermain judi. 51 1565, juga di kerajaan-kerajaan lain di raja bertindak langsung sebagai hakim
(1637-1641). Beberapa orang Portugis yang Prosesi dan perayaan tersebut bahkan Nusantara dalam periode ini—Tarnate, agama Islam di kerajaan dan sekaligus
tidak bersedia masuk Islam diesksekusi, sangat meriah pada bulan-bulan tertentu Banten, Makassar, Mataram dan Kedah. sebagai pelindung agama. seorang
dan pedagang Cina yang masih suka yang memang sarat dengan upacara Pengalaman seorang pengembara kadi diangkat dengan sebutan Daengta
makan babi dilarang tinggal di Aceh. ritual keagamaan secara massif—yakni Belanda de Houtman pada 1601 dan Kali Gowa, yang mengepalai pejabat
Pada masa itu sistem peradilan kuno bulan puasa Ramadhan, malam turunya sekelompok utusan Portugis pada 1637, sara’ (syariah) di kerajaan, yakni Imam,
yang mempraktikan tindak kekerasan wahyu pada 17 Ramadhan (nujul al- adalah bukti penting dari hal ini. Melalui Khatib, Bilal, Mukim dan jabatan
anjuran dan ancaman serta janji oleh
telah dihilangkan. Pada masa ini lah Qur’an), hari raya Idul Fitri dan Idul par ulama Aceh mereka diminta untuk lain yang membantu tugas-tugas
pula penghakiman atas pengikut aliran Adha. Khusus pada perayaan Idul Adha, masuk agama Islam. 53 yang diemban kadi kerajaan. Mereka
sufi wujudiyah ajaran Syamsuddin upacara perayaan oleh rakyat Aceh umumnya berbasis di masjd kerajaan
as-Sumatrani dan Hamzah Fansuri bahkan sangat spektakular; diberitakan Di wilayah Timur Nusantara, tepatnya di Lakiung. Berada di samping kanan
dilakukan atas masukan tokoh neo-sufi sekitar lima ratus kerbau disembelih di di kerajaan Gowa-Tallo, hukum Islam raja saat upacara kerajaan, Dangta Kali
Nuruddin ar-Raniri. 50 hari itu, dan ribuan pasukan berkuda, dipercayakan kepada para ulama Gowa in bertanggungjawab dalam
356 Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik 357

