Page 370 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 370

penerapa hukum Islam di kerajaan        penting pihak kerajaan. Dan tugas itu                       Sara terdiri dari seorang kadi untuk   Khatib, dan Moding; mereka semua
            Gowa-Tallo. 55                          dilakukan oleh kadi. 56                                     seluruh kerajaan, Imam, khatib, bilal,   bekerja membantu tugas-tugas sultan
                                                                                                                mukim dan amil; mereka untuk jabatan   di bidang agama Islam dan karenanya
            Secara umum, penerapan hukum            Di kerajaan Bone, seperti halnya dengan                     di bawah bekerja terutama dalam urusan   berada di bawah lindungan sultan
            Islam di Kerajaan Gowa-Tallo tampak     kerajaan Gowa-Tallo, lembaga kadi                           keagamaan dan juga politik. Mereka     sebagai pembina agama Islam (amir al-
            mencerminkan pola perkembangan          terbentuk beberapa lama setelah Islam                       mengatur urusan upacara-upacara        din). 59
            yang berlangsung di dunia Melayu. Di    secara resmi diadopsi menjadi agama                         keagamaan (seperti maulid, Isra Mi’raj,
            kerajaan tersebut, hukum Islam (sarak)   kerajaan. Pembentukan lembaga kadi                         Idul Fitri, dan upacara lain di istana. Juga   Beberapa kebijakan kerajaan di
            menjadi salah satu komponen penting     melibatkan ulama asal Minangkabau,                          temasuk dalam tugas mereka adalah      bidang ini adalah: (1) pembatasan
            dalam perumusan budaya masyarakat       Khatib Tunggal (Dato’ri Bandang) yang                       pernikahan raja dan keluarga serta kaum   poligami—sultan dalam hal ini
            Bugis-Makassar, pangngadereng atau      saat itu dipercaya pihak kerajaan untuk                     bangsawan, dan upacara kematian raja   menerapkan sejumlah persyaratan
            pangngadekan. Setelah Islam menjadi     menjadi penasehat spiritual. Sejumlah                       dan keluarganya. 58                    sangat berat, sehingga secara formal
            agama masyarakat menyusul Islamisasi    naskah yang dikarang oleh Dato’ri                                                                  tidak memungkinkan seseorang untuk
            Kerajaan Gowa-Tallo, sarak ditempatkan   Bandang menjadi acuan utama para                           Perkembangan lembaga hukum serupa      berpoligami; (2) larangan kumpul kebo
            pada posisi sejajar dengan komponen     kadi dan jabatan-jabatan di bawahnya.                       terjadi pula di kerajaan Ternate, Maluku   dan pergundikan—sultan memberi
            budaya pra-Islam: adek (adat), rapang   Pada masa kekuasaan raja Bone ke-13,                        Utara, melalui kehadiran Babato Akhirat,   sangsi tegas, berupa pemecatan, kepada
            (perumpamaan hukum), bicara (undang-    La Maddaremeng (+ 1631-1640), lembaga                       satu lembaga hukum di kerajaan yang    petugas kerajaan yang melakukan
            undang), dan wari (pelapisan sosial).   hukum Islam resmi dibentuk, yang                            dibentuk pada periode pimpinan Zainal   praktik di atas; (3) memangkas biaya
            Lebih dari itu, dalam perkembangannya   lebih dikenal sebagai pejabat sara’                         Abidin (1468-1500) dan terus bertahan   perkawinan—langkah ini diambil
            kemudian, sarak diakui sangat           (Syariah). Lebih dari itu, mereka yang                      hingga saat ini. Berbekal pengetahuan   untuk membuat perkawinan tidak
            mewarnai semua segi budaya Bugis-       diangkat sebagai pejabat diberi gelar                       Islam yang diperolehnya setelah belajar   memberatkan, terutama pihak laki-
            Makassar yang telah dirumuskan          kebangsawanan Petta (Tuan Guru). Maka                       kepada Sunan Giri di Gresik, Zainal    laki; dan (4) mewajbkan perempuan
            dalam komponen-komponen utama di        kadi disebut Petta Kali-e dan Imam                          Abidin melakukan sejumlah langkah      berpakaian pantas—bahwa laki-laki dan
            atas. Sejalan dengan itu, pelaksanaan   disebut Petta Imang, dan seterusnya                         perubahan dalam struktur pemerintahan   perempuan wajib mengenakan pakaian
            hukum Islam juga berada di tangan       untuk jabatan lain di bawahnya. 57                          Ternate. Perubahan tersebut bisa dilihat   yang memenubi syarat kepantasan. 60
            seorang kadi (daengta kaliya). Kendati                                                              dari dibentuknya satu lembaga baru
            memang tidak berperan dominan           Dalam perkembangannya kemudian,                             yang bertanggung-jawab membantu        Di kerajaan Bacan, Maluku Utara,
            dalam kebijakan politik kerajaan,       ketika institusi hukum di kerajaan                          sultan untuk uruan agama Islam, yakni   Lembaga Boboto Akhirat masih aktif.
            seperti halnya di dunia Melayu,         Bone semakin mapan, pejabat-pejabat                         Babato Berjubah Putih, mendampingi     Seperi halnya di Ternate, Boboto Akhirat
            daengta kaliya sangat bertanggung       sara’ tersebut di atas dikenal dengan                       Babato Berjubah Hitam yang sudah       di Bacan juga terdiri dari jabatan-jabatan
            jawab pada penataan masalah-masalah     sebutan Parewa Sara’, yang sejajar—                         ada dan bertugas untuk urusan-urusan   untuk urusan keagamaan, dengan
            kemasyarakatan. Dengan demikian,        khusus untuk pimpinanannya Petta                            politik. Babato Berbaju Putih, yang juga   Kadi sebagai pimpinan tertinggi. Dalan
            pelaksanaan hukum Islam di Kerajaan     Kali-e—dengan Daengte Kaliya di                             kerap disebut Jolebe, terdiri dari seorang   stuktur kerajaan Bacan, Babato Akhirat
            Gowa-Tallo telah menjadi perhatian      Kerajaan Gowa-Tallo. Jabatan Parewa                         Kadi (Kalem), beberapa orang Imam,     ini berdampingan dengan Boboto Dalam



         358    Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik                                                                                           Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   359
   365   366   367   368   369   370   371   372   373   374   375