Page 373 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 373
untuk urusan militer dan pertahanan Sufisme menjadi bagian penting dalam ia menempuh jalan sufi (tasawuf) yang diamalkan bersama-sama
dan Boboto Luar untuk urusan hukum proses Islamisasi. Terutama dalam melalui penyucian hati (tasfiyatul qalb). dalam kehidupan sufistik. Tujuan
dan juga ketertiban masyarakat. upaya merumuskan ajaran Islam yang Tarekat berupaya menjalani prinsip- utama diciptakannya ritual-ritual itu
61
Struktur ini jelas mengindikaskan bahwa sejalan dengan tingkat adaptasi budaya prinsip Islami dengan mengerjakan adalah untuk membawa orang kepada
Bobot Akhirat dirumuskan belakangan lokal, sufisme memainkan peran seluruh perintah wajib dan sunnah kedekatan diri, bahkan perasaan
sejalan dengan prosses Islamisasi, penting. Hal itu terjadi karena dalam agar mendapat ridha Allah. Kesemunya bersatu (al-‘ittihad) dengan Sang Khalik.
sesuai perkembangan baru menyusul tradisi Islam, aspek paling kompromis bermuara pada penghayatan terhadap Itulah yang menjadi latar belakang
beralihnya raja dan masyarakat terhadap dengan budaya lokal adalah ibadah murni (mahdhah) untuk dibangunnya secara rinci etika dan
mememluk agama Islam. Karena itu, sufisme. Sufisme lebih menekankan mewujudkan al-akhlaq al-karimah (budi tata-cara tarekat, termasuk di dalamnya
lembaga ini dirancang untuk menerapan praktik meditasi untuk mencapai pekerti luhur), baik secara individual tata tertib dan pola hubungan murid dan
ajaran Islam di tengah masyarakat. “derajat kesatuan” dengan Tuhan––yang maupun sosial. 64 syaikh, berkhalwat, tidak tidur di malam
dianggap sebagai bentuk kesempurnaan hari untuk beribadah, tafakur, zikir
dalam beragama––ketimbang praktik- Secara harfiah tarekat (Arab, tariqah) kepada Allah, dan sebagainya. Dalam
Sufisme praktik ritual yang ditentukan syari’ah. berarti ”jalan”. Dalam literatur sufi, konteks ini, tarekat mulai dipahami
Sufisme menempati posisi penting Dalam konteks Nusantara prakolonial— tarekat mempunyai dua pengertian sebagai perjalanan yang mengikuti jalur
teknis. Dalam pengertian pertama,
dalam dinamika perkembangan Islam secara tradisional disebut “negeri di tarekat berarti suatu metode keruhanian yang ada dan melalui tahap dan seluk-
di Nusantara, juga Asia Tenggara bawah angin” (the lands below the wind)— yang memberikan bimbingan spiritual beluknya, menuju suatu tujuan moral
secara umum. Besarnya pengaruh lebih-lebih di Jawa, sufisme sedemikian dalam mengarahkan kehidupan yang mulia. 66
sufi dalam proses islamisasi dapat mudah diterima masyarakat. Sufisme menuju kedekatan dengan Tuhan. Sejalan dengan makin mapannya
dilihat dari berbagai ajaran dan dalam banyak aspek sejalan dengan Tarekat dalam pengertian ini berupa berbagai macam teori dan amalan
amalan sufisme yang dipraktikkan praktik-praktik dan pandangan dunia jalan yang harus ditempuh atau diikuti sufistik ini, terjadi pula beragam
masyarakat. Para sufi berjasa keagamaan masyarakat Jawa yang seorang salik (mistik) di mana sejumlah perubahan penting dalam konsep
memperkenalkan Islam kepada Hindu-Budhis. Alasan inilah yang maqamat dan ‘ahwal harus dilampaui kesufian yang lebih praktis. Berubahnya
masyarakat; memungkinkan Islam memungkinkan sufisme menjadi satu untuk sampai kepada tujuan akhir, konsep hubungan antara syaikh dan
diterima, tersebar dan dianut oleh kategori penting dalam sejarah Islam yaitu haqiqah. Pengertian tarekat ini murid, mulai abad ke-10, membuka
banyak orang yang memutuskan untuk awal di Nusantara atau Asia Tenggara berkonotasi perseorangan (individual) jalan terbentuknya suatu persaudaraan
berkonversi dari agama sebelumnya. secara lebih luas. Sufisme telah berjasa di mana kehidupan sufistik menjadi ciri yang lebih formal dengan zawiyah,
Tidaklah mungkin Islam begitu kuat menjadikan Islam sedemikian mudah utamanya, dan ini berkembang pada ribat, khanaqah atau tekke sebagai
menancapkan akarnya di kalangan diterima masyarakat. 63 periode klasik Islam, tepatnya pada abad pusat kegiatannya. Setelah konsep
penduduk Asia Tenggara jika tidak ke-9 dan ke-19 M. 65 ‘ijazah (wewenang mengajar) atau
disiarkan secara massif oleh para Sufisme umumnya dilembagakan khirqah diperkenalkan, konsep silsilah
Sufi yang berdakwah dengan penuh dalam bentuk tarekat. Tujuan seseorang Periode selanjutnya menyaksikan dimunculkan untuk menopang
kedamaian. 62 mendalami tarekat muncul setelah munculnya berbagai macam ritual kokohnya sistem baru itu. Sebagai unsur
360 Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik 361

