Page 377 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 377

mana yang pertama datang dan diikuti   sebagai tokoh utamanya. Mereka   dengan kekuasaan, seperti Hamzah al-  Hamzah Fansuri dan Syams al-Din
 banyak orang. Sebagaimana sejarah   berdua dikenal sebagai dua orang sufi   Fansuri dan Syamsuddin al-Sumatrani   al-Sumatrani adalah pendukung utama
 masuknya Islam di Asia Tenggara   yang mengajarkan tarekat Qadiriyah   (w. 1630). 76  ajaran tersebut. Melalui karya-karya
 yang sulit dipastikan, demikian juga   di Kerajaan Aceh. Menyusul setelah   mereka, khususnya Jawhar al-Haqa’iq
 perkembangan awal tarekat. Beberapa   itu ulama-ulama Jawi yang semakin   Mengenai pemikiran dua tokoh sufi   (Esensi Hakikat) oleh Syamsuddin dan
 ahli mengemukakan bahwa tarekat   ke belakang semakin besar jumlahnya,   tersebut, baik Hamzah maupun   Asrar al-’Arifin (Rahasia kaum Gnostik)
 masuk ke Indonesia sejak abad ke-16   yang masing-masing membawa dan   Syamsuddin sama-sama mewakili aliran   oleh Hamzah Fansuri, pemikiran
 atau awal abad ke-17. Dalam konteks   mengajarkan tarekat-tarekat lainnya. 74  sufisme wahdat al-wujud. Dalam sejarah   sufisme Ibnu ‘Arabi sangat dominan.
 ini, Hamzah al-Fansuri (w. 1600) dan   Islam, aliran sufisme ini dinisabahkan   Dua karya tersebut sangat menekankan
 Syamsuddin al-Sumatrani (w. 1630)   Penting dicatat bahwa di Nusantara,   kepada seorang sufi terkemuka, Ibnu   ––seperti haknya Ibnu ‘Arabi––konsep
 kerajaan-kerajaan Islam memang agak
 menempati posisi penting sebagai tokoh   berbeda dengan dinasti-dinasti Islam   ‘Arabi (1156-1240). Salah satu pemikiran   penyatuan manusia dengan Tuhan yang
 yang memungkinkan pemikiran sufime   di Timur Tengah, apalagi pada periode   suifisme aliran wahdat al-wujud yang   dirumuskan dalam istilah “martabat
 di Nusantara mendapatkan formulasinya   klasik. Di Timur Tengah, tasawuf dan   paling menonjol adalah mengenai   tujuh”. Tuhan dalam pandangan
 yang tegas, mengikuti kecenderungan   juga tarekat adalah institusi yang   hubungan wujud Tuhan dan alam   mereka melimpahkan wujud-Nya di
 pemikiran sufi yang berkembang di   berkembang di luar istana, dan bahkan   semesta, termasuk manusia. Sebagaimana   alam dan manusia secara bertingkat,
 dunia Muslim.  seringkali menjadi oposan terhadap   halnya Ibn ‘Arabi, aliran sufi ini   yang berujung pada penyempurnaan
                                                    kesatuan dengan wujud Tuhan (martabat
 Kedua ulama tersebut masing-masing   penguasa. Sebaliknya di Nusantara,   berpendapat bahwa Tuhan esksis (maujud)   ahadiyat). Melalui pemikiran demikian,
            dengan zat-Nya dan karena zat-Nya
 menduduki jabatan sebagai Syaikhul   tarekat pada mulanya merupakan bagian   sendiri. Dia (Tuhan) adalah wujud mutlak   Hamzah dan Syamsuddin kemudian
 Islam yang bertugas sebagai penasehat   dari istana, dan istana diketahui cukup   yang tak terbatas oleh yang lain, bukan   mengundang kritik dan oposisi keras
 raja khususnya di bidang-bidang terkait   bertanggung jawab atas tersebarnya   “akibat” (ma’lul) dari sesuatu, dan juga   yang dilancarkan Nuruddin al-Raniri,
 dengan masalah kagamaan. Saat itu,   ajaran-ajaran tasawuf dan tarekat   bukan “sebab” (‘illat) bagi sesuatu. Tuhan   setelah yang terakhir ini mampu
 tepatnya abad ke-16, Aceh sedang   tertentu. Kalau para penguasa Islam   adalah pencipta sebab-sebab dan akibat-  menarik penguasa kerajaan Aceh untuk
 berkembang menjadi satu kerajaan Islam   di Timur Tengah pada masa klasik   akibat sekaligus. Dalam pemikiran ini,   mendukungnya.
 terkemuka di barat Nusantara. Kemajuan   mengidentifikasi dirinya dengan aliran   alam, dan juga manusia, dilihat memiliki
 ekonomi telah menjadikan kerajaan   teologi dalam Islam dan mazhab fikih, di   eksisistensi hanya dalam kaitan dengan   Baik Syams al-Din maunpun Hamzah
 Aceh mengalami perkembangan   Nusantara identifikasi itu juga dilakukan   Tuhan, tidak dengan dirinya sendiri dan   Fansuri jelas memiliki corak pandangan
 pesat di bidang politik dan pemikiran   kepada ajaran tasawuf dan atau kepada   sufisme yang termasuk dalam aliran
 75
 keagamaan. 73  tarekat tertentu.  Karena itu, di wilayah   tidak karena dirinya sendiri. Manusia   wahdat al-wujud seperti dikembangkan
 Nusantara tarekat pada mulanya   dan alam dengan demikian adalah wujud   Ibnu ‘Arabi. Hubungan Tuhan dan
 Tak heran jika sumber-sumber paling   berkembang di lingkungan istana dan   Tuhan. Dari sinilah kemudian muncul   manusia dipahami menyatu dalam zat
 awal menyebut bahwa tarekat berasal   setelah itu merembes ke kalangan   pandangan bahwa manusia bersatu   Tuhan, wahdat, yang kemudian dianggap
 dari akhir abad ke-16, dengan Hamzah   awam. Para sufi dan guru tarekat itu   dengan Tuhan; bahwa wujud keduanya   sebagai bentuk kesempurnaan serta
 al-Fansuri dan Syamsuddin al-Sumatrani   merupakan ulama yang sangat dekat   adalah identik dan setara satu sama lain. 77  merupakan tahap akhir perjalanan



 364  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   365
   372   373   374   375   376   377   378   379   380   381   382