Page 382 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 382

terkenal karena kritik kerasnya, selain   beberapa gagasan dasar wujudiyah, tapi                    Berbasis di kantor Kadi Malikul Adil,   memberinya ijaza untuk menyebarkan
            karena sejumlah karya polemisnya,       dalam sebuah rumusan baru di bawah                          al-Sinkili mulai tampil di pentas      tarekat ini ke negeri di bawah angin.
            tentang sufi wujudiyah. Terkait dengan   spirit neo-sufisme. Untuk mendukung                        intelektual Nusantara. Dia menulis     Lewat tarekat ini, al-Sinkili memiliki
            pendiriannya yang tidak kenal           pendiriannya, al-Sinkili meminta                            sekitar dua puluh dua karya (kitab)    kesempatan untuk membangun jaringan
            kompromi ini, al-Raniri kemudian harus   fatwa kepada gurunya di Hijaz,                             yang membahas berbagai bidang ilmu     di Nusantara. Burhanudin dari Ulakan
            berhadapan dengan seorang ulama         ulama neo-sufi terkemuka Ibrahim                            pengetahuan Islam,  seraya terus       di Sumatera Barat adalah salah seorang
                                                                                                                                 93
            Minangkabau bernama Saiful Rijal, yang   al-Kurani (1614-1690),  yang rupanya                       menyuarakan, dengan caranya sendiri,   muridnya yang terkenal.  Setelah belajar
                                                                                                                                                                             96
                                                                        91
            kembali ke Aceh dari pengasingannya     menunjukkan ketidaksetujuannya                              pembaruan neo-sufisme yang telah       dengan al-Sinkili selama beberapa
            setelah dituduh mengikuti sufisme       dengan cara al-Raniri melancarkan                           diletakkan dasarnya oleh al-Raniri.    tahun, Burhanudin mendirikan surau,
            wujudiyah yang “bid’ah”. Saiful Rijal   pembaruannya, dan mendukung                                 Ajaran-ajaran mistik al-Sinkili secara   sebuah lembaga pendidikan sufi di
            kembali ke Aceh dari Surat, India,      posisi al-Sinkili yang toleran. Sebagian                    kuat menekankan penerapan syariah,     Ulakan, yang menjadi basis Islamisasi
            melawan pembaruan neo-sufisme al-       karena sikapnya yang kompromis,                             yang melaluinya jalan bagi pencapaian   di Minangkabau, Sumatera Barat.  Dari
                                                                                                                                                                                     97
            Raniri dalam suatu perdebatan tanpa     Tajul Alam Safiatuddin mengundang                           mistik dalam realitas (haqiqa dan ma’rifa)   surau Ulakan pula Islam berorientasi
            akhir yang melibatkan elit Aceh yang    al-Sinkili ke kerajaan ketika dia                           dapat dicapai. Seperti al-Kurani, dia   syariah tumbuh dan semakin intensif
            berkuasa. Akan tetapi, Ratu Aceh yang   kembali dari Hijaz pada sekitar tahun                       menganjurkan praktik ritual Islam      di wilayah tersebut, memberi pijakan
            baru naik, Tajul Alam Safiatuddin Shah   1661, dan segera mengangkatnya                             (ibadah), khususnya zikir (mengingat   bagi ulama Padri untuk melancarkan
            (1641-75), cenderung mendukung Saiful   sebagai hakim agung kerajaan, Kadi                          Tuhan), menjadi fondasi untuk mencapai   gerakan pembaruan mereka di abad
            Rijal, yang telah memenangkan simpati   Malikul Adil. Kedudukan ini membuat                         kesatuan spiritual dengan Tuhan.       ke-19.  Murid terkenal al-Sinkili lainnya
                                                                                                                                             94
                                                                                                                                                            98
            orang Aceh, karena kecerdasan dan       al-Sinkili masuk ke jantung kehidupan                       Dengan alur pemikiran mistik ini,      adalah Abdul Muhyi dari Pamijahan,
            kesalehannya. Saiful Rijal bergabung    intelektual Nusantara.                                      al-Sinkili menegaskan, “intuisi mistik   Jawa Barat. Dia belajar dengan al-Sinkili
            dengan lingkaran kerajaan yang                                                                      dan kebenaran ortodoksi” pada waktu    di Aceh sebelum berangkat ke Mekkah
            sedang berkuasa, al-Raniri terpaksa     Al-Sinkili berangkat ke Timur Tengah                        yang bersamaan, membangun titik        untuk berhaji. Seperti Burhanudin,
            meninggalkan Aceh menuju tanah          pada tahun 1642 untuk meneruskan                            perbedaannya dari garis pemikiran      Abdul Muhyi juga terlibat dalam
            kelahirannya, Ranir. 90                 studi Islam. Setelah belajar di beberapa                    al-Raniri. Dia menyampaikan pesan neo-  penyebaran tarekat Syattariyah di
                                                    negeri Islam di sepanjang rute haji, al-                    sufinya dengan cara yang hampir sama   Pamijahan, di mana dia menjadi seorang
            Meski hidup di pengasingan, al-Raniri   Sinkili akhirnya tinggal dengan ulama                       dengan sufi wujudiyah. 95              ulama sufi terkemuka dan dihormati
            terus menulis untuk para pengikut       Hijaz.  Disnilah dia diperkenalkan                                                                 sebagai orang suci bahkan sampai hari
                                                         92
            dan teman Melayu-nya. Pesan             dengan ashab al-jawiyyin. Inilah yang                       Disamping karya-karyanya, al-Sinkili   ini. 99
            keagamaannya berkembang di tangan       membuatnya dapat membangun jaringan                         juga dikenal luas sebagai pemimpin
            seorang ulama Melayu berikutnya,        langsung dengan ulama terkemuka abad                        tarekat sufi Syattariyah. Al-Qushashi,   Dari pengalaman al-Raniri dan al-
            Abdurrauf al-Sinkili (1615-93). Belajar   ke-17, khususnya al-Kurani dan Ahmad                      gurunya, mengangkat al-Sinkili sebagai   Sinkili tersebut, tampaklah betapa
            dari pengalaman al-Raniri, al-Sinkili   al-Qushashi (1538-1661), yang memiliki                      khalifah dari tarekat ini ketika dia   jaringan dengan ulama Timur Tengah
            mengambil pendirian yang kompromis      pengaruh kuat dalam pembentukan                             telah selesai belajar apa yang disebut   berkontribusi membuat Islam di negeri
            dengan sufi wujudiyah. Dia menerima     pengetahuannya.                                             ilmu kebatinan (‘ilm al-batin), yang   bawah angin makin terintegrasi dengan



         370    Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik                                                                                           Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   371
   377   378   379   380   381   382   383   384   385   386   387