Page 383 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 383
terkenal karena kritik kerasnya, selain beberapa gagasan dasar wujudiyah, tapi Berbasis di kantor Kadi Malikul Adil, memberinya ijaza untuk menyebarkan
karena sejumlah karya polemisnya, dalam sebuah rumusan baru di bawah al-Sinkili mulai tampil di pentas tarekat ini ke negeri di bawah angin.
tentang sufi wujudiyah. Terkait dengan spirit neo-sufisme. Untuk mendukung intelektual Nusantara. Dia menulis Lewat tarekat ini, al-Sinkili memiliki
pendiriannya yang tidak kenal pendiriannya, al-Sinkili meminta sekitar dua puluh dua karya (kitab) kesempatan untuk membangun jaringan
kompromi ini, al-Raniri kemudian harus fatwa kepada gurunya di Hijaz, yang membahas berbagai bidang ilmu di Nusantara. Burhanudin dari Ulakan
berhadapan dengan seorang ulama ulama neo-sufi terkemuka Ibrahim pengetahuan Islam, seraya terus di Sumatera Barat adalah salah seorang
93
Minangkabau bernama Saiful Rijal, yang al-Kurani (1614-1690), yang rupanya menyuarakan, dengan caranya sendiri, muridnya yang terkenal. Setelah belajar
96
91
kembali ke Aceh dari pengasingannya menunjukkan ketidaksetujuannya pembaruan neo-sufisme yang telah dengan al-Sinkili selama beberapa
setelah dituduh mengikuti sufisme dengan cara al-Raniri melancarkan diletakkan dasarnya oleh al-Raniri. tahun, Burhanudin mendirikan surau,
wujudiyah yang “bid’ah”. Saiful Rijal pembaruannya, dan mendukung Ajaran-ajaran mistik al-Sinkili secara sebuah lembaga pendidikan sufi di
kembali ke Aceh dari Surat, India, posisi al-Sinkili yang toleran. Sebagian kuat menekankan penerapan syariah, Ulakan, yang menjadi basis Islamisasi
melawan pembaruan neo-sufisme al- karena sikapnya yang kompromis, yang melaluinya jalan bagi pencapaian di Minangkabau, Sumatera Barat. Dari
97
Raniri dalam suatu perdebatan tanpa Tajul Alam Safiatuddin mengundang mistik dalam realitas (haqiqa dan ma’rifa) surau Ulakan pula Islam berorientasi
akhir yang melibatkan elit Aceh yang al-Sinkili ke kerajaan ketika dia dapat dicapai. Seperti al-Kurani, dia syariah tumbuh dan semakin intensif
berkuasa. Akan tetapi, Ratu Aceh yang kembali dari Hijaz pada sekitar tahun menganjurkan praktik ritual Islam di wilayah tersebut, memberi pijakan
baru naik, Tajul Alam Safiatuddin Shah 1661, dan segera mengangkatnya (ibadah), khususnya zikir (mengingat bagi ulama Padri untuk melancarkan
(1641-75), cenderung mendukung Saiful sebagai hakim agung kerajaan, Kadi Tuhan), menjadi fondasi untuk mencapai gerakan pembaruan mereka di abad
Rijal, yang telah memenangkan simpati Malikul Adil. Kedudukan ini membuat kesatuan spiritual dengan Tuhan. ke-19. Murid terkenal al-Sinkili lainnya
94
98
orang Aceh, karena kecerdasan dan al-Sinkili masuk ke jantung kehidupan Dengan alur pemikiran mistik ini, adalah Abdul Muhyi dari Pamijahan,
kesalehannya. Saiful Rijal bergabung intelektual Nusantara. al-Sinkili menegaskan, “intuisi mistik Jawa Barat. Dia belajar dengan al-Sinkili
dengan lingkaran kerajaan yang dan kebenaran ortodoksi” pada waktu di Aceh sebelum berangkat ke Mekkah
sedang berkuasa, al-Raniri terpaksa Al-Sinkili berangkat ke Timur Tengah yang bersamaan, membangun titik untuk berhaji. Seperti Burhanudin,
meninggalkan Aceh menuju tanah pada tahun 1642 untuk meneruskan perbedaannya dari garis pemikiran Abdul Muhyi juga terlibat dalam
kelahirannya, Ranir. 90 studi Islam. Setelah belajar di beberapa al-Raniri. Dia menyampaikan pesan neo- penyebaran tarekat Syattariyah di
negeri Islam di sepanjang rute haji, al- sufinya dengan cara yang hampir sama Pamijahan, di mana dia menjadi seorang
Meski hidup di pengasingan, al-Raniri Sinkili akhirnya tinggal dengan ulama dengan sufi wujudiyah. 95 ulama sufi terkemuka dan dihormati
terus menulis untuk para pengikut Hijaz. Disnilah dia diperkenalkan sebagai orang suci bahkan sampai hari
92
dan teman Melayu-nya. Pesan dengan ashab al-jawiyyin. Inilah yang Disamping karya-karyanya, al-Sinkili ini. 99
keagamaannya berkembang di tangan membuatnya dapat membangun jaringan juga dikenal luas sebagai pemimpin
seorang ulama Melayu berikutnya, langsung dengan ulama terkemuka abad tarekat sufi Syattariyah. Al-Qushashi, Dari pengalaman al-Raniri dan al-
Abdurrauf al-Sinkili (1615-93). Belajar ke-17, khususnya al-Kurani dan Ahmad gurunya, mengangkat al-Sinkili sebagai Sinkili tersebut, tampaklah betapa
dari pengalaman al-Raniri, al-Sinkili al-Qushashi (1538-1661), yang memiliki khalifah dari tarekat ini ketika dia jaringan dengan ulama Timur Tengah
mengambil pendirian yang kompromis pengaruh kuat dalam pembentukan telah selesai belajar apa yang disebut berkontribusi membuat Islam di negeri
dengan sufi wujudiyah. Dia menerima pengetahuannya. ilmu kebatinan (‘ilm al-batin), yang bawah angin makin terintegrasi dengan
370 Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik 371

