Page 385 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 385
pusat Islam. Pembaruan neo-sufisme al-Maqassari berangkat belajar ke Islam kerajaan. Akibatnya, politik (Winstedt 1938: 83) dan Hikayat Raja-Raja
berbasis Mekkah muncul sebagai Arab—tampaknya menjadi alasan kuat kerajaan semakin dipengaruhi Islam Pasai (Hill 1960: 56-7), merupakan salah
diskursus intelektual Islam yang penting di balik keputusannya menetap di sejalan dengan makin meningkatnya satu bukti penting untuk diperhatikan.
di Nusantara pada abad ke-17. Misi Banten. Pernikahannya dengan seorang jaringan dengan Timur Tengah. Dalam sufisme, mimpi diakui—bahkan
pembaruan mereka terus berkembang anak perempuan sultan memperkuat dipraktikkan—sebagai bagian penting
di bawah ulama lainnya, Yusuf al- ikatan ini. Dia kemudian menjadi Dengan kata lain, sufisme memberi dari latihan spiritual para sufi. Bahkan,
Maqassari. Dilahirkan di Makassar, anggota utama dari dewan penasihat kontribusi—atau paling tidak sejalan seorang sufi terkemuka seperti al-
Sulawesi Selatan, dan memperoleh studi Sultan, yang memungkinkannya terlibat dengan—pemikiran politik yang Ghazali (w. 1111), berpandangan bahwa
awalnya di sana, al-Maqassari berangkat dalam persoalan-persoalan agama dan menekankan keagungan dan kesakralan apa yang nampak dalam mimpi adalah
ke Aceh dan kemudian ke Ranir, di mana politik kerajaan. Namun, tidak seperti raja. Salah satu aspek terpenting untuk simbol (mithal); ia merupakan sarana
dia belajar dengan al-Raniri yang pada dua ulama yang telah disebutkan, al- ditekankan adalah konsep “manusia dalam proses transmisi pengetahuan
waktu itu telah diasingkan. Dari Ranir, Maqassari harus menghadapi situasi sempurna” (al-insān al-kāmil), yang keagamaan. Dan melalui mimpi inilah
104
al-Maqassari melanjutkan studinya ke politik Nusantara yang berubah. memang menjadi salah satu bagian raja-raja Melayu digambarkan tidak
sejumlah ulama di negeri-negeri Timur VOC Belanda mulai mendesakkan pokok dari sufisme wahdat al-wujud. hanya beralih menjadi Muslim, tapi
Dan melalui konsep manusia sempurna
Tengah, temasuk al-Kurani di Madinah. pengaruh kuat di kerajaan-kerajaan ini signifikansi sufisme dalam budaya juga memperoleh legitimasi keagamaan
Dalam kaitan inilah al-Maqassari, seperti Nusantara, termasuk Banten. Akibatnya, politik Melayu bisa dijelaskan. 102 untuk kekuasaan politik mereka. Kedua
al-Sinkili, membangun jaringan luas keterlibatan politik al-Maqassari teks tersebut selanjutnya menghadirkan
di Timur Tengah, yang membuatnya berlangsung lebih jauh dibanding al- Pengertian manusia sempurna dalam sejumlah ilustrasi, baik dari kerajaan
100
mengadopsi tren pemikiran Islam Raniri dan al-Sinkili. Dia membawa sufisme—manusia dengan kualitas Malaka maupun Samudra Pasai, di mana
neo-sufisme. Sebagaimana tampak dari Banten ke dalam peperangan melawan spiritual yang bisa mencapai derajat raja yang berkuasa memperlihatkan
karya-karyanya, dia mendiskusikan Belanda. kebenaran Tuhan—paralel dengan perhatian dan kecendrungan untuk
bidang ilmu yang dikemukakan baik konsep raja ideal dalam tradisi politik tampil sebagai raja sufi. 105
oleh al-Raniri maupun al-Sinkili, yakni Dalam kaitan ini, hal yang penting Melayu-Indonesia, yang dirumuskan
rekonsiliasi sufisme dan syariah. 101 dicatat di sini adalah, pengalaman ulama dalam istilah “raja sufi”: yakni seorang Raja sufi selanjutnya makin kuat
yang telah disebutkan mengkonfirmasi mewarnai pemikiran dan praktik politik
Seperti halnya dengan al-Raniri dan hubungan kuat yang terbangun antara raja yang memimpin dan sekaligus Islam masa kerajaan Aceh. Hamzah
membimbing rakyatnya untuk mencapai
al-Sinkili, al-Maqassari memiliki karier ulama dan raja di Nusantara masa derajat kesempurnaan hidup, secara Fansuri, melalui sair sufinya, tampak
intelektual di Kerajaan Banten, Jawa prakolonial. Kerajaan menjadi pusat di material dan spiritual. 103 memperoyeksikan raja Aceh yang
Barat. Hampir bisa dipastikan, dia mana ulama membangun kariernya di menjadi patronya, Sulan Alauddin
datang ke Banten dalam perjalanannya bidang intelektual-keagaman dan juga Di dunia politik Melayu, konsep raja sufi Ria‘ayat Shah (1588-1604) ke dalam
pulang ke Makassar dari Arab. politik. Dan raja mengangkat ulama di dengan mudah bisa ditemukan. Konversi posisi tertinggi dalam kerangka sufisme.
Namun, hubungan dekatnya dengan lembaga-lembaga resmi kerajaan, sebagai raja-raja Melayu menjadi Muslim melalui Dia diberi gelar “wali”, “kamil” dan
raja Banten, Sultan Ageng Tirtayasa penasihat keagamaan dan hakim, yang mimpi bertemu Nabi Muhammad, sekaligus “kutub”: gelar-gelar yang
(berkuasa 1651-83)—bahkan sebelum berkontribusi besar memperkuat unsur seperti digambarkan baik Sejarah Melayu mengindikasikan derajat tertinggi
372 Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik 373

