Page 386 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 386
capaian kesempurnaan manusia dalam ulama di kedua dunia Muslim tersebut. Salatin hadir sebagai nasehat untuk Tajus-Salatin. Menurut teks tersebut,
domain sufisme (Milner 1983: 41-42). Nuruddin al-Raniri (w. 1658), Abdurrauf para elit kerajaan, yang “menerangkan eksistensi suatu kerajaan, daulat,
106
Lebih dari itu, sufisme juga menjadi al-Sinkili (1615-1693), dan Yusuf al- pada peri perkataan segala raja-raja dan bukan sesuatu untuk dipertanyakan.
salah satu dasar bangunan kerajaan Makassari (1627-1699) merupakan menteri dan hulubalang dan rakyat peri Permasalahannya, bagaimana daulat
Aceh. Sebagaimana ditunjukkan eksponen terkemuka dalam proses kerajaan … dengan ibarat yang ihsan dijalankan sehingga bisa mencapai suatu
Brakel (1975: 60-1), satu bangunan di transmisi pemikiran Islam tersebut. 107 dan dengan rajin yang sempurna.” kerajaan ideal.
110
lingkungan istana kerajaan Aceh pada Bila dibanding teks Melayu lain yang
masa kekuasaan Iskandar Thani, Taman Di kerajaan Aceh, para ulama ini tidak dibahas, khususnya Sejarah Melayu, Dalam kaitan inilah Tajus-Salatin
Gairah, sekaligus dirancang sebagai hanya mendorong pelarangan pemikian teks Tajus-Salatin menunjukkan corak mengetengahkan konsep adil sebagai
pusat energi spiritual. Bustan us-Salatin sufisme wahdat al-wujud oleh Hamzah pembahasan yang relatif berbeda. satu sarat penting bagi tegaknya daulat.
karangan Nuruddin al-Raniri (w. 1658)— Fansuri dan Shamsuddin al-Sumarani, Ketimbang menturkan kisah hidup dan Dalam teks tersebut, adil menjadi satu
sumber informasi tentang Taman Gairah tapi juga menggantikan posisi mereka di prilaku raja-raja Melayu—sambil tentu kualifikasi paling mendasar dari raja
tersebut (Iskandar 1966: 48)—mencatat kraton. Nuruddin al-Raniri dan Abdul saja mengambil pelajaran darinya— ideal. Tajus-Salatin mendefinisikan adil
satu bangunan yang berada tepat di Ra‘u al-Sinkili kemudian menempati Tajus-Salatin justru menghadirkan cerita sebagai satu kondisi di mana “segala
tengah-tengah taman, gunongan, yang posisi sebagai Shaikh al-Islam pada para Nabi dan khalifah dalam sejarah perkataan dan segala perbuatan dan
bisa ditafsirkan sebagai tempat praktik periode kekuasaan masing-masing Islam. Perhatian utama teks tersebut kehendak daripada ihsan itu kebajikan
meditasi raja dalam rangka memperoleh Iskandar Thani (1636-41) dan Sultanah adalah memberikan nasehat moral dan juga dalam keduanya iu. …dan barang
derajat kesempuraan, sebagai raja sufi. Syafiyyat al-Din (1641-75). Hanya saja, bimbingan dalam rangka membangun siapa daripada raja-raja yang tiada
berkenaan dengan wacana politik, suatu kerajaan ideal. Oleh karena itu, ada dua peri ini padanya tiada dapat
111
Dengan demikian di dunia Melayu, pemikiran neo-sufisme tampaknya tidak nuansa keislaman tampak demikian 112
terutama dalam konteks kerajaan Aceh, memiliki pengaruh yang berarti. Isu kentara dalam Tajus-Salatin. dibilangkan raja adanya”. Konsep
sufisme telah memberi sumbangan pelaksanaan shari‘ah Islam memang adil tampak sedemikian sentral dalam
penting dalam memperkuat kedudukan mulai diperkenalkan secara eksplisit Demikian Tajus-Salatin memandang rumusan Tajus-Salatin tentang raja ideal.
raja. Dan proses itu terus berlangsung dalam sejumlah teks Malayu dari politik sebagai bagian inheren dari Selanjunya, teks tersebut kemudian
bahkan ketika kekuatan baru dalam kerjaan. Namun, ia masih tetap berada agama. Dua hal yang tidak bisa memerinci adil ke dalam sejumlah
pemikiran Islam-berorientasi-shari‘ah, dalam domain pemikiran berorientasi dipisahkan dari tugas penguasa prilaku yang mengindikasikian kondisi
neo-sufisme, membentuk satu wacana Islam kerajaan. Dalam kaitan ini, Tajus- kerajaan. Bagi Tajus-Salatin, kekuasaan kesempurnaan agama dan politik,
penting dalam peta sejarah intelekual Salatin menjadi penting untuk dibahas politik bersifat ilahiah. Tuhan adalah antara lain: bershabat dengan ulama,
Islam Indonesia. Pada abad ke-17, karena memiliki kedudukan sentral pusat kekuasaan raja, dan selanjutnya mencari kebanaran berdasarkan agama,
sejalan dengan peningkatan hubungan dalam proses pembentukan tradisi kedaulatan sebuah kerajaan. Oleh karena memiliki perhatian atas kondisi rakyat
dengan Timur Tengah, pemikiran Islam politik dunia Melayu. 108 itu, prinsip-prinsip ajaran Islam menjadi dan melindungi mereka dari kejahatan,
neo-sufisme yang tengah berkembang satu keharusan untuk dilaksanakan menegakkan kebajikan dan mencegah
di Mekkah dan Madinah memasuki Ditulis Bukhari al-Jauhari di lingkungan dalam tugas-tugas politik di kerajaan. kemungkaran, dan lain-lain yang
Melayu-Indonesia melalui jaringan kerajaan Aceh, sekitar 1603, Tajus- Dan hal inilah yang menjadi tekanan dilakukan Nabi dan wali. 113
109
374 Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik 375

