Page 388 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 388
Sejalan dengan itu, Tajus-salatin juga praktik politik raja. Di sini, adil lagi-lagi politik Tajus-Salatin. Dengan argumen terakhir inilah ulama telah memberi
mensyaratkan seorang raja untuk menjadi kualifikasi yang menentukan. menghindari kekacauan (fitnah), “maka kontribusi berarti dalam memberi
berbudi (ūlī al-albāb) dan berakal, kami turut akan hukumnya”, demikian legitimasi terhadap budaya politik
117
sehingga denganya bisa membedakan Maka bisalah dikatakan bahwa Tajus- Tajus-Salatin bersikap terhadap raja Melayu yang berorientasi kerajaan.
antara perbuatan baik dan jahat, Salatin menghadirkan suatu corak zalim, yang disebutnya berada di bawah Karya-karya intelektual para ulama
bahagia dan celaka, dan selanjutnya pemikian politik yang sangat akrab bayangan iblis. seperti yang telah dibahas di atas
keadaan adil dan tidak adil. “Maka dengan terma-terma Islam. Dalam menunjukkan hal demikian. Kenyataan
114
nyatalah tiada dapat tiada akan Tajus-Salatin, eksistensi kerajaan dan Demikianlah, periode prakolonial ini tentu mudah untuk dijelaskan. Ulama
segala raja-raja itu daripada budi itu kekuasaan politik sang raja tidak hanya merupakan satu tahap penting dalam ikut terlibat dan menjadi bagian penting
jua”, dermikian Tajus-Salatin berujar, dirumuskan dalam konsep daulat, seperti sejarah Islam Indonesia. Meski hanya dalam pembentukan dan perkembangan
“karena raja itu hendaklah mengerti halnya Sejarah Melayu. Namun, ia disertai terbatas di wilayah Melayu, pembahasan kerajaan, sehingga pada gilirannya
perkataan segala orang supaya dapat ia tekanan pada keharusan menjadikan di atas menunjukkan satu proses di memiliki hubungan struktural dengan
menghukumkan antara semuanya itu ajaran Islam sebagai satu landasan mana Islam terintegrasi sedemikian kerajaan. Di lingkungan kraton dan di
dengan kebenaran”. Begitu juga teks prilaku politik penguasa di kerajaan, rupa ke dalam sistem sosial-politik dan bawah patronase raja, ulama tampil
115
tersebut menekankan pentignya seorang yang dirumuskan dalam konsep adil. budaya masyarakat Indonesia. Aspek sebagai elit keagamaan. Dan di sana
raja untuk memiliki—atau setidaknya Di sini, semangat neo-sufisme memang paling menonjol dari periode ini adalah pula ulama mengemban tugas-tugas
mengetahui—“ilmu kirafah dan firasah” tampak dalam Tajus-Salatin. Setidaknya, penterjemahan Islam ke dalam budaya keagamaan dan juga kerajaan. Oleh
sehingga ia bisa mengetahui secara teks ini berusaha menjadikan kekuasaan politik Melayu yang berorientasi-raja. karena itu, menjadi sangat beralasan
benar watak dasar rakyat, khususnya raja berada dalam koridor agama. Meskipun tentu saja bukan satu-satunya, jika Islam—melalui karya-karya ulama
mereka yang akan diangkat sebagai Hanya saja, tinjauan lebih jauh pemikiran politik membentuk satu tentunya—menjadi sumber legitimasi
pejabat kerajaan. 116 unsur penting dalam pemikiran Islam bagi kerajaan.
menujukkan bahwa substansi periode ini. Islam dalam hal ini menjadi
Kuatnya nuansa ke-Islaman dalam Tajus- pemikiran yang diketengahkan teks sumber perumusan baru budaya politik Penting juga ditegaskan bahwa
Salatin juga tampak dalam penggunaan tersebut tampak berada dalam domain yang telah berakar kuat masa pra-Islam, pengalaman Islam di dunia Melayu-
gelar-gelar kebesaran raja, seperti politik-berorientasi-kerajaan. Konsep sehingga Islam memiliki makna kultural Indonesia—di mana Islam menjadi
sultan, khalifah dan zil Allah fi al-‘alam. adil memang menjadi ukuran untuk baru seiring dengan proses perubahan sumber legitimasi terhadap kerjaan
Dalam hal ini, sejalan dengan konsep menentukan kualifikasi raja ideal. masyarakat menjadi Muslim. absolut—bukanlah sesuatu yang
adil sebagaimana telah dijelaskan di Namun, ia tidak pernah berfungsi unik. Dalam sejarah Islam, sistem
atas, Tajus-Salatin memiliki pemaknaan sebagai sarana untuk evaluasi terhadap Aspek penting kedua berhubungan politik monarki absolut justru menjadi
berbeda dari sejumlah teks Melayu lain. riil politik di kerajaan. Seperti halnya dengan ulama. Di sini ulama tampil satu arus utama. Sejak masa Dinasti
Meski memang mengakui makna gelar Sejarah Melayu, dan teks klasik Melayu sebagai elit kerajaan. Ulama tidak hanya Umayyah (661-750), absolutisme kerajaan
tersebut bagi kebesaran raja, Tajus-Salatin lain, kepatuhan dan kesetiaan terhadap bertindak sebagai penasehat spiritual atau kesultanan dan memperoleh
pada saat yang sama menekankan raja—bahkan raja zalim—tetap menjadi raja, ia adalah pula penterjemah Islam kemapanannya pada masa Dinasti
pentingnya ajaran Islam dalam praktik- satu aspek penting dalam pemikiran ke dalam sistem budaya. Dengan tugas Abbasiyah (750-1258). Kekhalifahan
376 Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik 377

