Page 389 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 389

Sejalan dengan itu, Tajus-salatin juga   praktik politik raja. Di sini, adil lagi-lagi   politik Tajus-Salatin. Dengan argumen   terakhir inilah ulama telah memberi
 mensyaratkan seorang raja untuk   menjadi kualifikasi yang menentukan.  menghindari kekacauan (fitnah), “maka   kontribusi berarti dalam memberi
 berbudi (ūlī al-albāb) dan berakal,   kami turut akan hukumnya”,  demikian   legitimasi terhadap budaya politik
                                      117
 sehingga denganya bisa membedakan   Maka bisalah dikatakan bahwa Tajus-  Tajus-Salatin bersikap terhadap raja   Melayu yang berorientasi kerajaan.
 antara perbuatan baik dan jahat,   Salatin menghadirkan suatu corak   zalim, yang disebutnya berada di bawah   Karya-karya intelektual para ulama
 bahagia dan celaka, dan selanjutnya   pemikian politik yang sangat akrab   bayangan iblis.  seperti yang telah dibahas di atas
 keadaan adil dan tidak adil.  “Maka   dengan terma-terma Islam. Dalam   menunjukkan hal demikian. Kenyataan
 114
 nyatalah tiada dapat tiada akan   Tajus-Salatin, eksistensi kerajaan dan   Demikianlah, periode prakolonial   ini tentu mudah untuk dijelaskan. Ulama
 segala raja-raja itu daripada budi itu   kekuasaan politik sang raja tidak hanya   merupakan satu tahap penting dalam   ikut terlibat dan menjadi bagian penting
 jua”, dermikian Tajus-Salatin berujar,   dirumuskan dalam konsep daulat, seperti   sejarah Islam Indonesia. Meski hanya   dalam pembentukan dan perkembangan
 “karena raja itu hendaklah mengerti   halnya Sejarah Melayu. Namun, ia disertai   terbatas di wilayah Melayu, pembahasan   kerajaan, sehingga pada gilirannya
 perkataan segala orang supaya dapat ia   tekanan pada keharusan menjadikan   di atas menunjukkan satu proses di   memiliki hubungan struktural dengan
 menghukumkan antara semuanya itu   ajaran Islam sebagai satu landasan   mana Islam terintegrasi sedemikian   kerajaan. Di lingkungan kraton dan di
 dengan kebenaran”.  Begitu juga teks   prilaku politik penguasa di kerajaan,   rupa ke dalam sistem sosial-politik dan   bawah patronase raja, ulama tampil
 115
 tersebut menekankan pentignya seorang   yang dirumuskan dalam konsep adil.   budaya masyarakat Indonesia. Aspek   sebagai elit keagamaan. Dan di sana
 raja untuk memiliki—atau setidaknya   Di sini, semangat neo-sufisme memang   paling menonjol dari periode ini adalah   pula ulama mengemban tugas-tugas
 mengetahui—“ilmu kirafah dan firasah”   tampak dalam Tajus-Salatin. Setidaknya,   penterjemahan Islam ke dalam budaya   keagamaan dan juga kerajaan. Oleh
 sehingga ia bisa mengetahui secara   teks ini berusaha menjadikan kekuasaan   politik Melayu yang berorientasi-raja.   karena itu, menjadi sangat beralasan
 benar watak dasar rakyat, khususnya   raja berada dalam koridor agama.  Meskipun tentu saja bukan satu-satunya,   jika Islam—melalui karya-karya ulama
 mereka yang akan diangkat sebagai   Hanya saja, tinjauan lebih jauh   pemikiran politik membentuk satu   tentunya—menjadi sumber legitimasi
 pejabat kerajaan. 116  unsur penting dalam pemikiran Islam   bagi kerajaan.
 menujukkan bahwa substansi   periode ini. Islam dalam hal ini menjadi
 Kuatnya nuansa ke-Islaman dalam Tajus-  pemikiran yang diketengahkan teks   sumber perumusan baru budaya politik   Penting juga ditegaskan bahwa
 Salatin juga tampak dalam penggunaan   tersebut tampak berada dalam domain   yang telah berakar kuat masa pra-Islam,   pengalaman Islam di dunia Melayu-
 gelar-gelar kebesaran raja, seperti   politik-berorientasi-kerajaan. Konsep   sehingga Islam memiliki makna kultural   Indonesia—di mana Islam menjadi
 sultan, khalifah dan zil Allah fi al-‘alam.   adil memang menjadi ukuran untuk   baru seiring dengan proses perubahan   sumber legitimasi terhadap kerjaan
 Dalam hal ini, sejalan dengan konsep   menentukan kualifikasi raja ideal.   masyarakat menjadi Muslim.  absolut—bukanlah sesuatu yang
 adil sebagaimana telah dijelaskan di   Namun, ia tidak pernah berfungsi   unik. Dalam sejarah Islam, sistem
 atas, Tajus-Salatin memiliki pemaknaan   sebagai sarana untuk evaluasi terhadap   Aspek penting kedua berhubungan   politik monarki absolut justru menjadi
 berbeda dari sejumlah teks Melayu lain.   riil politik di kerajaan. Seperti halnya   dengan ulama. Di sini ulama tampil   satu arus utama. Sejak masa Dinasti
 Meski memang mengakui makna gelar   Sejarah Melayu, dan teks klasik Melayu   sebagai elit kerajaan. Ulama tidak hanya   Umayyah (661-750), absolutisme kerajaan
 tersebut bagi kebesaran raja, Tajus-Salatin   lain, kepatuhan dan kesetiaan terhadap   bertindak sebagai penasehat spiritual   atau kesultanan dan memperoleh
 pada saat yang sama menekankan   raja—bahkan raja zalim—tetap menjadi   raja, ia adalah pula penterjemah Islam   kemapanannya pada masa Dinasti
 pentingnya ajaran Islam dalam praktik-  satu aspek penting dalam pemikiran   ke dalam sistem budaya. Dengan tugas   Abbasiyah (750-1258). Kekhalifahan



 376  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   377
   384   385   386   387   388   389   390   391   392   393   394