Page 387 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 387

capaian kesempurnaan manusia dalam   ulama di kedua dunia Muslim tersebut.   Salatin hadir sebagai nasehat untuk   Tajus-Salatin. Menurut teks tersebut,
 domain sufisme (Milner 1983: 41-42).    Nuruddin al-Raniri (w. 1658), Abdurrauf   para elit kerajaan, yang “menerangkan   eksistensi suatu kerajaan, daulat,
 106
 Lebih dari itu, sufisme juga menjadi   al-Sinkili (1615-1693), dan Yusuf al-  pada peri perkataan segala raja-raja dan   bukan sesuatu untuk dipertanyakan.
 salah satu dasar bangunan kerajaan   Makassari (1627-1699) merupakan   menteri dan hulubalang dan rakyat peri   Permasalahannya, bagaimana daulat
 Aceh. Sebagaimana ditunjukkan   eksponen terkemuka dalam proses   kerajaan … dengan ibarat yang ihsan   dijalankan sehingga bisa mencapai suatu
 Brakel (1975: 60-1), satu bangunan di   transmisi pemikiran Islam tersebut. 107  dan dengan rajin yang sempurna.”    kerajaan ideal.
                                           110
 lingkungan istana kerajaan Aceh pada   Bila dibanding teks Melayu lain yang
 masa kekuasaan Iskandar Thani, Taman   Di kerajaan Aceh, para ulama ini tidak   dibahas, khususnya Sejarah Melayu,   Dalam kaitan inilah Tajus-Salatin
 Gairah, sekaligus dirancang sebagai   hanya mendorong pelarangan pemikian   teks Tajus-Salatin menunjukkan corak   mengetengahkan konsep adil sebagai
 pusat energi spiritual. Bustan us-Salatin   sufisme wahdat al-wujud oleh Hamzah   pembahasan yang relatif berbeda.   satu sarat penting bagi tegaknya daulat.
 karangan Nuruddin al-Raniri (w. 1658)—  Fansuri dan Shamsuddin al-Sumarani,   Ketimbang menturkan kisah hidup dan   Dalam teks tersebut, adil menjadi satu
 sumber informasi tentang Taman Gairah   tapi juga menggantikan posisi mereka di   prilaku raja-raja Melayu—sambil tentu   kualifikasi paling mendasar dari raja
 tersebut (Iskandar 1966: 48)—mencatat   kraton. Nuruddin al-Raniri dan Abdul   saja mengambil pelajaran darinya—  ideal. Tajus-Salatin mendefinisikan adil
 satu bangunan yang berada tepat di   Ra‘u al-Sinkili kemudian menempati   Tajus-Salatin justru menghadirkan cerita   sebagai satu kondisi di mana “segala
 tengah-tengah taman, gunongan, yang   posisi sebagai Shaikh al-Islam pada   para Nabi dan khalifah dalam sejarah   perkataan dan segala perbuatan dan
 bisa ditafsirkan sebagai tempat praktik   periode kekuasaan masing-masing   Islam. Perhatian utama teks tersebut   kehendak daripada ihsan itu kebajikan
 meditasi raja dalam rangka memperoleh   Iskandar Thani (1636-41) dan Sultanah   adalah memberikan nasehat moral dan   juga dalam keduanya iu. …dan barang
 derajat kesempuraan, sebagai raja sufi.  Syafiyyat al-Din (1641-75). Hanya saja,   bimbingan dalam rangka membangun   siapa daripada raja-raja yang tiada
 berkenaan dengan wacana politik,   suatu kerajaan ideal.  Oleh karena itu,   ada dua peri ini padanya tiada dapat
                              111
 Dengan demikian di dunia Melayu,   pemikiran neo-sufisme tampaknya tidak   nuansa keislaman tampak demikian   112
 terutama dalam konteks kerajaan Aceh,   memiliki pengaruh yang berarti. Isu   kentara dalam Tajus-Salatin.  dibilangkan raja adanya”.  Konsep
 sufisme telah memberi sumbangan   pelaksanaan shari‘ah Islam memang   adil tampak sedemikian sentral dalam
 penting dalam memperkuat kedudukan   mulai diperkenalkan secara eksplisit   Demikian Tajus-Salatin memandang   rumusan Tajus-Salatin tentang raja ideal.
 raja. Dan proses itu terus berlangsung   dalam sejumlah teks Malayu dari   politik sebagai bagian inheren dari   Selanjunya, teks tersebut kemudian
 bahkan ketika kekuatan baru dalam   kerjaan. Namun, ia masih tetap berada   agama. Dua hal yang tidak bisa   memerinci adil ke dalam sejumlah
 pemikiran Islam-berorientasi-shari‘ah,   dalam domain pemikiran berorientasi   dipisahkan dari tugas penguasa   prilaku yang mengindikasikian kondisi
 neo-sufisme, membentuk satu wacana   Islam kerajaan. Dalam kaitan ini, Tajus-  kerajaan. Bagi Tajus-Salatin, kekuasaan   kesempurnaan agama dan politik,
 penting dalam peta sejarah intelekual   Salatin menjadi penting untuk dibahas   politik bersifat ilahiah. Tuhan adalah   antara lain: bershabat dengan ulama,
 Islam Indonesia. Pada abad ke-17,   karena memiliki kedudukan sentral   pusat kekuasaan raja, dan selanjutnya   mencari kebanaran berdasarkan agama,
 sejalan dengan peningkatan hubungan   dalam proses pembentukan tradisi   kedaulatan sebuah kerajaan. Oleh karena   memiliki perhatian atas kondisi rakyat
 dengan Timur Tengah, pemikiran Islam   politik dunia Melayu. 108  itu, prinsip-prinsip ajaran Islam menjadi   dan melindungi mereka dari kejahatan,
 neo-sufisme yang tengah berkembang   satu keharusan untuk dilaksanakan   menegakkan kebajikan dan mencegah
 di Mekkah dan Madinah memasuki   Ditulis Bukhari al-Jauhari di lingkungan   dalam tugas-tugas politik di kerajaan.   kemungkaran, dan lain-lain yang
 Melayu-Indonesia melalui jaringan   kerajaan Aceh, sekitar 1603, Tajus-  Dan hal inilah yang menjadi tekanan   dilakukan Nabi dan wali. 113
 109


 374  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   375
   382   383   384   385   386   387   388   389   390   391   392