Page 384 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 384

pusat Islam. Pembaruan neo-sufisme      al-Maqassari berangkat belajar ke                           Islam kerajaan. Akibatnya, politik     (Winstedt 1938: 83) dan Hikayat Raja-Raja
            berbasis Mekkah muncul sebagai          Arab—tampaknya menjadi alasan kuat                          kerajaan semakin dipengaruhi Islam     Pasai (Hill 1960: 56-7), merupakan salah
            diskursus intelektual Islam yang penting   di balik keputusannya menetap di                         sejalan dengan makin meningkatnya      satu bukti penting untuk diperhatikan.
            di Nusantara pada abad ke-17. Misi      Banten. Pernikahannya dengan seorang                        jaringan dengan Timur Tengah.          Dalam sufisme, mimpi diakui—bahkan
            pembaruan mereka terus berkembang       anak perempuan sultan memperkuat                                                                   dipraktikkan—sebagai bagian penting
            di bawah ulama lainnya, Yusuf al-       ikatan ini. Dia kemudian menjadi                            Dengan kata lain, sufisme memberi      dari latihan spiritual para sufi. Bahkan,
            Maqassari. Dilahirkan di Makassar,      anggota utama dari dewan penasihat                          kontribusi—atau paling tidak sejalan   seorang sufi terkemuka seperti al-
            Sulawesi Selatan, dan memperoleh studi   Sultan, yang memungkinkannya terlibat                      dengan—pemikiran politik yang          Ghazali (w. 1111), berpandangan bahwa
            awalnya di sana, al-Maqassari berangkat   dalam persoalan-persoalan agama dan                       menekankan keagungan dan kesakralan    apa yang nampak dalam mimpi adalah
            ke Aceh dan kemudian ke Ranir, di mana   politik kerajaan. Namun, tidak seperti                     raja. Salah satu aspek terpenting untuk   simbol (mithal); ia merupakan sarana
            dia belajar dengan al-Raniri yang pada   dua ulama yang telah disebutkan, al-                       ditekankan adalah konsep “manusia      dalam proses transmisi pengetahuan
            waktu itu telah diasingkan. Dari Ranir,   Maqassari harus menghadapi situasi                        sempurna” (al-insān al-kāmil), yang    keagamaan.  Dan melalui mimpi inilah
                                                                                                                                                                  104
            al-Maqassari melanjutkan studinya ke    politik Nusantara yang berubah.                             memang menjadi salah satu bagian       raja-raja Melayu digambarkan tidak
            sejumlah ulama di negeri-negeri Timur   VOC Belanda mulai mendesakkan                               pokok dari sufisme wahdat al-wujud.    hanya beralih menjadi Muslim, tapi
                                                                                                                Dan melalui konsep manusia sempurna
            Tengah, temasuk al-Kurani di Madinah.   pengaruh kuat di kerajaan-kerajaan                          ini signifikansi sufisme dalam budaya   juga memperoleh legitimasi keagamaan
            Dalam kaitan inilah al-Maqassari, seperti   Nusantara, termasuk Banten. Akibatnya,                  politik Melayu bisa dijelaskan. 102    untuk kekuasaan politik mereka. Kedua
            al-Sinkili, membangun jaringan luas     keterlibatan politik al-Maqassari                                                                  teks tersebut selanjutnya menghadirkan
            di Timur Tengah,  yang membuatnya       berlangsung lebih jauh dibanding al-                        Pengertian manusia sempurna dalam      sejumlah ilustrasi, baik dari kerajaan
                            100
            mengadopsi tren pemikiran Islam         Raniri dan al-Sinkili. Dia membawa                          sufisme—manusia dengan kualitas        Malaka maupun Samudra Pasai, di mana
            neo-sufisme. Sebagaimana tampak dari    Banten ke dalam peperangan melawan                          spiritual yang bisa mencapai derajat   raja yang berkuasa memperlihatkan
            karya-karyanya, dia mendiskusikan       Belanda.                                                    kebenaran Tuhan—paralel dengan         perhatian dan kecendrungan untuk
            bidang ilmu yang dikemukakan baik                                                                   konsep raja ideal dalam tradisi politik   tampil sebagai raja sufi. 105
            oleh al-Raniri maupun al-Sinkili, yakni   Dalam kaitan ini, hal yang penting                        Melayu-Indonesia, yang dirumuskan
            rekonsiliasi sufisme dan syariah. 101   dicatat di sini adalah, pengalaman ulama                    dalam istilah “raja sufi”: yakni seorang   Raja sufi selanjutnya makin kuat
                                                    yang telah disebutkan mengkonfirmasi                                                               mewarnai pemikiran dan praktik politik
            Seperti halnya dengan al-Raniri dan     hubungan kuat yang terbangun antara                         raja yang memimpin dan sekaligus       Islam masa kerajaan Aceh. Hamzah
                                                                                                                membimbing rakyatnya untuk mencapai
            al-Sinkili, al-Maqassari memiliki karier   ulama dan raja di Nusantara masa                         derajat kesempurnaan hidup, secara     Fansuri, melalui sair sufinya, tampak
            intelektual di Kerajaan Banten, Jawa    prakolonial. Kerajaan menjadi pusat di                      material dan spiritual. 103            memperoyeksikan raja Aceh yang
            Barat. Hampir bisa dipastikan, dia      mana ulama membangun kariernya di                                                                  menjadi patronya, Sulan Alauddin
            datang ke Banten dalam perjalanannya    bidang intelektual-keagaman dan juga                        Di dunia politik Melayu, konsep raja sufi   Ria‘ayat Shah (1588-1604) ke dalam
            pulang ke Makassar dari Arab.           politik. Dan raja mengangkat ulama di                       dengan mudah bisa ditemukan. Konversi   posisi tertinggi dalam kerangka sufisme.
            Namun, hubungan dekatnya dengan         lembaga-lembaga resmi kerajaan, sebagai                     raja-raja Melayu menjadi Muslim melalui   Dia diberi gelar “wali”, “kamil” dan
            raja Banten, Sultan Ageng Tirtayasa     penasihat keagamaan dan hakim, yang                         mimpi bertemu Nabi Muhammad,           sekaligus “kutub”: gelar-gelar yang
            (berkuasa 1651-83)—bahkan sebelum       berkontribusi besar memperkuat unsur                        seperti digambarkan baik Sejarah Melayu   mengindikasikan derajat tertinggi



         372    Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik                                                                                           Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   373
   379   380   381   382   383   384   385   386   387   388   389