Page 376 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 376

mana yang pertama datang dan diikuti    sebagai tokoh utamanya. Mereka                              dengan kekuasaan, seperti Hamzah al-   Hamzah Fansuri dan Syams al-Din
            banyak orang. Sebagaimana sejarah       berdua dikenal sebagai dua orang sufi                       Fansuri dan Syamsuddin al-Sumatrani    al-Sumatrani adalah pendukung utama
            masuknya Islam di Asia Tenggara         yang mengajarkan tarekat Qadiriyah                          (w. 1630). 76                          ajaran tersebut. Melalui karya-karya
            yang sulit dipastikan, demikian juga    di Kerajaan Aceh. Menyusul setelah                                                                 mereka, khususnya Jawhar al-Haqa’iq
            perkembangan awal tarekat. Beberapa     itu ulama-ulama Jawi yang semakin                           Mengenai pemikiran dua tokoh sufi      (Esensi Hakikat) oleh Syamsuddin dan
            ahli mengemukakan bahwa tarekat         ke belakang semakin besar jumlahnya,                        tersebut, baik Hamzah maupun           Asrar al-’Arifin (Rahasia kaum Gnostik)
            masuk ke Indonesia sejak abad ke-16     yang masing-masing membawa dan                              Syamsuddin sama-sama mewakili aliran   oleh Hamzah Fansuri, pemikiran
            atau awal abad ke-17. Dalam konteks     mengajarkan tarekat-tarekat lainnya. 74                     sufisme wahdat al-wujud. Dalam sejarah   sufisme Ibnu ‘Arabi sangat dominan.
            ini, Hamzah al-Fansuri (w. 1600) dan                                                                Islam, aliran sufisme ini dinisabahkan   Dua karya tersebut sangat menekankan
            Syamsuddin al-Sumatrani (w. 1630)       Penting dicatat bahwa di Nusantara,                         kepada seorang sufi terkemuka, Ibnu    ––seperti haknya Ibnu ‘Arabi––konsep
                                                    kerajaan-kerajaan Islam memang agak
            menempati posisi penting sebagai tokoh   berbeda dengan dinasti-dinasti Islam                       ‘Arabi (1156-1240). Salah satu pemikiran   penyatuan manusia dengan Tuhan yang
            yang memungkinkan pemikiran sufime      di Timur Tengah, apalagi pada periode                       suifisme aliran wahdat al-wujud yang   dirumuskan dalam istilah “martabat
            di Nusantara mendapatkan formulasinya   klasik. Di Timur Tengah, tasawuf dan                        paling menonjol adalah mengenai        tujuh”. Tuhan dalam pandangan
            yang tegas, mengikuti kecenderungan     juga tarekat adalah institusi yang                          hubungan wujud Tuhan dan alam          mereka melimpahkan wujud-Nya di
            pemikiran sufi yang berkembang di       berkembang di luar istana, dan bahkan                       semesta, termasuk manusia. Sebagaimana   alam dan manusia secara bertingkat,
            dunia Muslim.                           seringkali menjadi oposan terhadap                          halnya Ibn ‘Arabi, aliran sufi ini     yang berujung pada penyempurnaan
                                                                                                                                                       kesatuan dengan wujud Tuhan (martabat
            Kedua ulama tersebut masing-masing      penguasa. Sebaliknya di Nusantara,                          berpendapat bahwa Tuhan esksis (maujud)   ahadiyat). Melalui pemikiran demikian,
                                                                                                                dengan zat-Nya dan karena zat-Nya
            menduduki jabatan sebagai Syaikhul      tarekat pada mulanya merupakan bagian                       sendiri. Dia (Tuhan) adalah wujud mutlak   Hamzah dan Syamsuddin kemudian
            Islam yang bertugas sebagai penasehat   dari istana, dan istana diketahui cukup                     yang tak terbatas oleh yang lain, bukan   mengundang kritik dan oposisi keras
            raja khususnya di bidang-bidang terkait   bertanggung jawab atas tersebarnya                        “akibat” (ma’lul) dari sesuatu, dan juga   yang dilancarkan Nuruddin al-Raniri,
            dengan masalah kagamaan. Saat itu,      ajaran-ajaran tasawuf dan tarekat                           bukan “sebab” (‘illat) bagi sesuatu. Tuhan   setelah yang terakhir ini mampu
            tepatnya abad ke-16, Aceh sedang        tertentu. Kalau para penguasa Islam                         adalah pencipta sebab-sebab dan akibat-  menarik penguasa kerajaan Aceh untuk
            berkembang menjadi satu kerajaan Islam   di Timur Tengah pada masa klasik                           akibat sekaligus. Dalam pemikiran ini,   mendukungnya.
            terkemuka di barat Nusantara. Kemajuan   mengidentifikasi dirinya dengan aliran                     alam, dan juga manusia, dilihat memiliki
            ekonomi telah menjadikan kerajaan       teologi dalam Islam dan mazhab fikih, di                    eksisistensi hanya dalam kaitan dengan   Baik Syams al-Din maunpun Hamzah
            Aceh mengalami perkembangan             Nusantara identifikasi itu juga dilakukan                   Tuhan, tidak dengan dirinya sendiri dan   Fansuri jelas memiliki corak pandangan
            pesat di bidang politik dan pemikiran   kepada ajaran tasawuf dan atau kepada                                                              sufisme yang termasuk dalam aliran
                                                                  75
            keagamaan. 73                           tarekat tertentu.  Karena itu, di wilayah                   tidak karena dirinya sendiri. Manusia   wahdat al-wujud seperti dikembangkan
                                                    Nusantara tarekat pada mulanya                              dan alam dengan demikian adalah wujud   Ibnu ‘Arabi. Hubungan Tuhan dan
            Tak heran jika sumber-sumber paling     berkembang di lingkungan istana dan                         Tuhan. Dari sinilah kemudian muncul    manusia dipahami menyatu dalam zat
            awal menyebut bahwa tarekat berasal     setelah itu merembes ke kalangan                            pandangan bahwa manusia bersatu        Tuhan, wahdat, yang kemudian dianggap
            dari akhir abad ke-16, dengan Hamzah    awam. Para sufi dan guru tarekat itu                        dengan Tuhan; bahwa wujud keduanya     sebagai bentuk kesempurnaan serta
            al-Fansuri dan Syamsuddin al-Sumatrani   merupakan ulama yang sangat dekat                          adalah identik dan setara satu sama lain. 77  merupakan tahap akhir perjalanan



         364    Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik                                                                                           Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   365
   371   372   373   374   375   376   377   378   379   380   381