Page 434 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 434
wacana intelektual keagamaan ini, Mekkah dan Madinah sebagai salah disebut sejarawan John O. Voll sebagai ternyata menjadi cukup solid. Karena
khususnya pada waktu-waktu terakhir, satu pusat terpenting religio-inte!lectual “jaringan ulama” (networks of the ulama). itu, meskipun seorang murid telah
dan peranan ulama Nusantara yang discourse Islam. Meskipun secara Inti (core) dan jaringan ini adalah kembali ke tanah airnya, hubungan
terlibat dalam jaringan tersebut terhada kuantitatif institusi-institusi wacana sejumlah ulama terkemuka yang dengan gurunya tetap terjalin erat. Hal
dinamika sosial-intelektual Islam di intelektual keagamaan di Mekkah atau datang dan berbagai penjuru dunia ini, misalnya dapat dilihat dan kasus
Indonesia atau Dunia Melayu pada Madinah tidak pernah sebanyak yang Muslim; mereka menetap dan mengajar Syekh Abd al-Ra’uf al-Singkili (dari
umumnya. dimiliki Baghdad atau Kairo, kedudukan di Haramayn. Guru dan murid yang Singkel, Aceh), yang berkoresponden
sentralnya sebagai kota kelahiran dan terlibat dalam jaringan sedikit sekali menyeberangi Lautan India dengan
Penelitian penulis tentang wacana pertumbuhan awal Islam serta sebagai yang berasal dan Hara mayn sendiri. gurunya, Syekh Ibrahim al-Kurani,
intelektual keagamaan (religio-intellectual tempat ibadah haji dan ziarah suci, Mereka kebanyakan datang dan Yaman, di Madinah untuk meminta petunjuk
discourse) ulama Indonesia di Mekah memberikan bobot tersendiri dan nilai Mesir, Maghribi (Afrika Utara), Irak, tentang masalah-masalah yang
dan Madinah (Haramayn) mencoba tambah yang signifikan, baik terhadap Turkistan, Kurdistan, Anak Benua India, dihadapinya.
melacak sejarah sosial-intelektual pemikiran Islam yang dikembangkannya dan Asia Tenggara. Dengan demikian,
ulama Nusantara dalam kaitannya maupun terhadap daya dorong atau jaringan ulama ini bersifat kosmopolitan, Kancah (locus) jaringan ulama ini adalah
dengan Dunia Islam lebih luas. Wacana pengaruhnya atas bagian-bagian lain yang dalam perkembangan lebih lanjut halaqah (study circles, lingkaran belajar)
intelektual keagamaan ini berpusat pada dunia Muslim. memiliki pecahan atau cabang- cabang di yang diselenggarakan di Masjid al-
semacam jaringan ulama (networks of berbagai penjuru dunia Muslim. Haram Mekah dan Masjid al-Nabawi
the ulama) yang berpusat di Hara mayn Kedudukan religio-histonis Mekah Madinah. Selain itu, juga ribât (sering
(Mekkah dan Madinah) yang setidak- dan Madinah yang unik ini menjadi Jaringan ulama ini tidaklah diorganisasi pula disebut zâwiyah—pondokan sufi),
tidaknya sejak abad ke-16, memainkan alasan utama mengapa ulama yang secara formal dan ketat. Ia terbentuk madrasah klasik—untuk dibedakan
peran krusial dalam transmisi gagasan- terlibat dalam wacana intelektual melalui hubungan-hubungan informal dengan madrasah modern yang muncul
gagasan intelektual keagamaan dan keagamaan di kedua kota ini lebih dan personal yang terjalin di antara sebagai akibat pembaruan pendidikan
Haramayn ke berbagai penjuru dunia kosmopolitan dibandingkan wacana- berbagai garis genealogi intelektual yang dilaksanakan Dinasti Usmani sejak
Muslim. wacana semacamnya di kota-kota lain yang kompleks. Guru dengan guru, perempat terakhir abad ke-19——dan
di Tirnur Tengah. Posisi itu pula yang guru dengan murid, murid dengan kuttâb, “madrasah” kecil yang umumnya
Mekkah dan Madinah, setidak- menyebabkan mengapa pengaruh yang murid tanpa memandang asal kesukuan diselenggarakan di rumah guru) yang
tidaknya sejak awal abad ke-ke-16, dimainkan ulama hasil pendidikan dan batas-batas wilayah. Selanjutnya, terdapat di lingkungan pemukiman
memainkan peranan yang kian penting Haramayn terhadap dinamika Islam di genealogi intelektual yang kelihatan sekitar kedua mesjid ini. Seperti dicatat
dalam wacana pemikiran intelek tual Nusantara melebihi ulama yang muncul cukup longgar ini diikat oleh mata sejarawan Taqi al-Din al-Fasi al-Makki
keagamaan Islam secara keseluruhan. dan tempat-tempat lain. rantai spiritual melalui tarekat sufi (wafat 832 H./1429 M.) dalam kitab Shîfa
Disintegrasi dan peragian (decay) dalam bentuk hubungan antara al-Gharâni bi Akhbâr al-Balâd al-Harâm,
dinasti-dinasti Muslim di Timur Demikianlah, setidak-tidaknva sejak mursyîd (pemimpin tarekat) dan murîd sejak akhir abad ke- 13 sampai masa al-
Tengah, khususnya sejak abad ke-13, abad ke-16, di Mekah dan Madinah (anggota tarekat). Dengan kedua bentuk Fasi, di Mekkah terdapat 11 madrasah
turut mendorong kebangkitan kembali muncul dan berkembang apa yang hubungan ini, jaringan yang ada klasik, 52 ribât, dan puluhan halaqah.
422 Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik 423

