Page 437 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 437
Seperti disinggung terdahulu, angka- dialektika itu, yang jelas proses tersebut sebagai pelengkap. Ilmu-ilmu inilah dipraktekkan adalah sufisme yang lebih
angka ini sebenarnya tidaklah terlalu mempertegas sosok Haramayn sebagai yang paling dibutuhkan kaum Muslimin sesuai dengan kerangka ortodoksi, yang
istimewa jika dibandingkan dengan focalpoints dinamika Islam secara di manapun mereka berada. Hanya menekankan ketaatan dan respek pada
angka-angka pada kota-kota lainnya di global. Sebaliknya, kedua kota ini pada dengan mendalami bidang-bidang ini, ketentuan -ketentuan syariah. Dalam
Timur Tengah. Abd al-Qadir al-Nu’aimi gilirannya, melalui jaringan ulama pemikiran dan praktek keagamaan kaum kerangka inilah, terjadi reinterpretasi
mencatat bahwa pada akhir abad ke- yang dimilikinya, melakukan transmisi Muslimin dapat diperbarui, sehingga atas doktrin-doktrin sufisme yang
ke-l0 H./10 M., di Mekkah tetap terdapat gagasan-gagasan intelektual keagamaan mampu keluar dari kemunduran dan dikembangkan Ibn Arabi, al-Jili, dan
11 madrasah klasik, sementana di ke berbagai penjuru dunia Muslim keterbelakangan. Dengan demikian, lain -lain. Berbeda dengan doktrin
Damaskus ada 159 dan di Zabid (Yaman) lainnya. Dalam banyak hal, mereka wacana intelektual keagamaan yang sufisme yang sebelumnya menekankan
terdapat lebih 20 buah (al-Dâris fî Târâkh mendorong pembaruan pemikiran dan berkembang pada hakikatnya adalah immanensi Tuhan, kini interpretasi baru
al-Madâris, 1948). praktek keagamaan masyarakat Muslim “kembali kepada ortodoksi”, dengan yang dikembangkan lebih mene kankan
yang mempunyai “wakil-wakil”-nya doktrin yang lebih skripturalistik. transendensi-Nya. Selain itu, pandangan
Akan tetapi angka bukanlah segala- dalam jaringan ulama. dunia sufisme yang dulu bersifat eskapis
galanya. Melebihi persoalan kuantitas, Reformisme juga dikembangkan dalam sehingga cenderung mengabaikan dunia,
keistimewaan madrasah klasik, Pembaruan (tajdîd, renewal) tampaknya tarekat-tarekat sufi yang berkubu di ribât- kini diganti dengan persepsi yang positif
kuttâb, ribat, dan halaqah di Mekah dan merupakan paradigma yang dominan ribât. Sejarahwan al-Fasi—dalam buku terhadap dunia dan—karena itu—lebih
Madinah bukan hanya terletak pada dalam wacana intelektual keagamaan yang disebutkan terdahulu—dengan mendorong dinamika dan aktivisme.
kosmopolitanisme mereka yang terlibat yang dikembangkan jaringan ulama ini. bagus sekali melukiskan terjadinya Dengan karakteristik seperti itu, tasawuf
di dalamnya, melainkan juga dalam Tema sentral yang menuntun aktivitas discourse yang akrab antara sufisme dan dalam wacana intelektual keagamaan
sejarah pembentukannya. Jika lembaga- dan pemikiran jaringan adalah “kembali syariah. Konflik yang panjang antara ini, secara sederhana—meminjam
lembaga semacam ini di kota-kota lain kepada Al-Qur‘an dan hadis”. Dalam kedua dimensi Islam ini pada masa tipologi Fazlur Rahman—dapat disebut
didirikan oleh penguasa-penguasa konteks ini, Mekkah dan Madinah yang lampau, kini menjadi tidak relevan di “neosufisme”.
setempat, di Mekah dan Madinah pada abad-abad awal Islam menjadi Haramayn. Dengan demikian, orang
didirikan dan dikembangkan oleh pusat terpenting studi Al-Qur’an dan bisa menyaksikan bahwa rekonsiliasi Karakteristik penting lainnya yang
penguasa Muslim dan ulama manca hadis—tetapi kemudian merosot— syariah dan sufisme yang diusahakan, juga menonjol dalam religio-intellec-
negara. Kenya taan ini mengindikasikan sejak abad ke-ke-9 H./15 M kembali khususnya oleh Imam al-Ghazali pada tual discourse jaringan ulama ini adalah
bahwa pertumbuhan dan perkembangan menunjukkan kekuatannya dalam abad XI/XII M, menemukan bentuknya kebebasan dalam mengikuti berbagai
jaringan ulama di Haramayn merupakan bidang -bidang ini. Seperti ditulis Abd al- yang paling sempurna di Haramayn. tradisi pemikiran dan aliran Islam yang
proses yang tidak sederhana; suatu Rahman Salih Abd Allah dalam Târîkh al- Kamus biografi ulama (tarjamah) pada berbeda, baik dalam bidang kalam, fikih
dialek tika antara kedudukan Haramayn Ta’lîm fî al-Makkah al-Mukarramah (1982), masa-masa ini menginformasikan bahwa maupun tasawuf. Keempat mazhab
yang unik tadi dengan aspirasi tentang hampir seluruh madrasah klasik dan mereka yang terlibat dalam jaringan fikih mainstream Sunni—Syafi’i, Hanafi,
kontribusi yang dapat diberikan pada halaqah pada periode ini memusatkan ulama, selain ahli dalam tafsir dan Hanbali, dan Maliki—dengan bebas
bagian-bagian dunia Islam lainnya. diri pada studi Al-Qur’an, tafsir, dan hadis, juga pakar dan pengamal tarekat. mendirikan dan mengembang kan
Namun, terlepas dan kompleksitas hadis, selain ilmu-ilmu Islam lainnya Sufisme yang dikembangkan dan halaqah dan madrasah masing-masing.
424 Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik 425

