Page 442 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 442

Nusantara terwakili. Kita melihat       suku Jawa, memunculkan potret yang                          Sebagian kecil karya mereka sudah      dan dicari. Sebagaimana diketahui,
            mereka yang berasal dari Aceh (al-      menggam barkan bahwa hampir seluruh                         diterbitkan di Istanbul, Kairo, atau   bidang-bidang keilmuan semacam ini
            Sinkili, al-Ashi); dari Kalimantan/Borneo   pesantren besar di Jawa Tengah dan                      Beirut—kebanyakan kemudian dicetak     sebenarnya, dan segi materi, sudah
            (Arsyad al-Banjadi, Nafis al-Banjari,   Jawa Timur, baik langsung maupun                            ulang di Nusantara. Dan lebih banyak   “baku”. Karena itu, paling banter yang
            Ahmad Khatib Sambas, Ahmad bin          tidak, berkaitan dengan ulama Jawi yang                     lagi karya mereka yang masih tersimpan   bisa dilakukan adalah melakukan
            Dato Imam dan Abdul Mokti bin Nassar    memperoleh pendidikan di Haramayn.                          dalam bentuk naskah. Dilihat dan segi   pendekatan-pendekatan “baru” atau
            (keduanya dari Brunei Darussalam);                                                                  tempat terbit saja, kita mendapat indikasi   merinci, memperjelas materi-materi yang
            Minangkabau (al-Minangkabawi, al-       Gambaran awal tentang genealogi                             tentang nilai karya mereka dalam       ada dan mengkonteks tualisasikannya ke
            Padani); Mandailing (al-Mandili); Melayu   intelektual ini sejak akhir abad ke-19,                  penilaian para penerbit Timur Tengah.   dalam situasi dan lingkungan tertentu.
            Sumatra Selatan (al-Palimbani); Jakarta   misalnya dikemukakan Zamakhsyari                          Tidak jarang karya-karya mereka        Lebih jelasnya, dalam bidang fikih,
            (al-Betawi), Sunda (al-Bantani, al-Garuti);   Dhofier dalam Tradisi Pesantren.                      menjadi pionir bidang-bidang keilmuan   misalnya, uraiannya pasti bermula dan
            Jawa (al-Termasi, al-Samarani, al-Kadiri,   Penelitian lebih jauh diperlukan                        keislaman tertentu di Indonesia.       soal tahârah (bersuci), salat, dan rukun-
            al-Banyumasi); Bugis (al-Maqassari,     untuk melacak saling silang genealogi                       Misalnya, Sirât al-Mustaqim karya al-  rukun Islam lainnya; kemudian ditutup
            al-Bugisi), Semenanjung Malaya (al-     intelektual yang ada, sehingga kita                         Raniri dalam bidang fikih (ibadah),    dengan masalah-masalah muamalah.
            Kalantani) dan Patani (al-Fatani), Bima,   bisa memperoleh gambaran yang lebih                      Tarjumân al-Mustafid karya Abd al-Ra’uf   Para ulama kita yang menulis masalah
            dan juga dan Sumbawa (al-Sumbawa)       utuh. Agaknya, komposisi demografis                         dalam bidang tafsir, Mir’ah al-Tullâb   fikih, juga sulit keluar dan pola seperti
            dan pulau-pulau lain di Nusa Tenggara.  murid-murid Jawi di atas bisa pula                          karya Abd al-Ra’uf dalam bidang fikih   ini.
                                                    menjadi indikasi perkembangan Islam                         (muamalah), Sabîl al-Muhtadin karya
            Kenyataan di atas mengindikasikan       dalam kelompok etnis tertentu, jika                         Muhammad Arshad al-Banjiri dalam       Penting dicatat, dengan menulis seperti
            kepada kita bahwa semangat untuk        kita berhasil menyusun atau menge-                          bidang fikih, dan Manhâj Zawi al-Nazâr   itu, tak berarti mereka tidak melakukan
            menuntut ilmu keagamaan tidak           rangkakan semacam skala atau kurva                          karya Abd Allah Mahfuz al-Termasi      adaptasi, baik dalam segi materi maupun
            terbatas pada suku-suku yang selama     murid-murid Jawi dilihat dan asal                           dalam bidang hadis.                    penyajian, sehingga bisa lebih sesuai
            ini secara tradisional dikenal sebagai   kesukuan dari periode ke periode, sejak                                                           serta dapat dipahami dan diterima
            kelompok etnis “santri”, seperti Aceh,   pertengahan abad ke-17 hingga dewasa                       Sementara itu, ada orang yang          kaum Muslimin Melayu. Dan sinilah
            Minangkabau atau Banten. Orang-orang    ini.                                                        mempertanyakan orisinalitas dan        kita bisa memahami mengapa sebagian
            dan suku Jawa—sering diasosiasi kan                                                                 tingkat keilmuan karya-karya ulama     besar kitab-kitab atau risalah, khususnya
            sebagai etnik “abangan”—juga tidak      Hampir seluruh ulama yang disebutkan                        Jawi ini. Memang ada kesan bahwa       dalam bidang fikih dan tafsir produk
            sedikit, kalau tidak dapat dikatakan pre-  di atas merupakan penulis-penulis                        karya-karya mereka banyak yang bersifat   ulama Jawi, umumnya ditulis dengan
            dominan dalam lapisan murid-murid       produktif. Dari tangan mereka muncul                        copious dari kitab-kitab standar dalam   bahasa yang gamblang dan uraian
            Jawi, khususnya sejak paruh kedua abad   puluhan—kalau tidak ratusan—karya,                         bidang-bidang tertentu. Namun, pada    yang mudah dicema. Hal ini sekaligus
            ke-19. Karena itu, tidak mengherankan   dan yang bersifat voluminious (berjilid-                    hakikatnya, persoalannya bukan terletak   mencerminkan bahwa karya-karya
            kalau dalam pelacakan jaringan atau     jilid) sampai risalah-risalah pendek.                       pada “orisinalitas”, karena “orisinalitas”   itu ditujukan lebih untuk memenuhi
            genealogi intelektual lebih lanjut atas   Karya-karya ini ditulis dengan bahasa                     pada bidang keilmuan keislaman seperti   kebutuhan masyarakat Melayu yang
            murid-murid Jawi yang berasal dan       Arab dan bahasa Melayu klasik.                              tafsir, fikih atau hadis sukar dirumuskan   waktu itu kebanyakannya masih awam



         430    Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik                                                                                           Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   431
   437   438   439   440   441   442   443   444   445   446   447