Page 443 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 443

Nusantara terwakili. Kita melihat   suku Jawa, memunculkan potret yang   Sebagian kecil karya mereka sudah   dan dicari. Sebagaimana diketahui,
 mereka yang berasal dari Aceh (al-  menggam barkan bahwa hampir seluruh   diterbitkan di Istanbul, Kairo, atau   bidang-bidang keilmuan semacam ini
 Sinkili, al-Ashi); dari Kalimantan/Borneo   pesantren besar di Jawa Tengah dan   Beirut—kebanyakan kemudian dicetak   sebenarnya, dan segi materi, sudah
 (Arsyad al-Banjadi, Nafis al-Banjari,   Jawa Timur, baik langsung maupun   ulang di Nusantara. Dan lebih banyak   “baku”. Karena itu, paling banter yang
 Ahmad Khatib Sambas, Ahmad bin   tidak, berkaitan dengan ulama Jawi yang   lagi karya mereka yang masih tersimpan   bisa dilakukan adalah melakukan
 Dato Imam dan Abdul Mokti bin Nassar   memperoleh pendidikan di Haramayn.  dalam bentuk naskah. Dilihat dan segi   pendekatan-pendekatan “baru” atau
 (keduanya dari Brunei Darussalam);   tempat terbit saja, kita mendapat indikasi   merinci, memperjelas materi-materi yang
 Minangkabau (al-Minangkabawi, al-  Gambaran awal tentang genealogi   tentang nilai karya mereka dalam   ada dan mengkonteks tualisasikannya ke
 Padani); Mandailing (al-Mandili); Melayu   intelektual ini sejak akhir abad ke-19,   penilaian para penerbit Timur Tengah.   dalam situasi dan lingkungan tertentu.
 Sumatra Selatan (al-Palimbani); Jakarta   misalnya dikemukakan Zamakhsyari   Tidak jarang karya-karya mereka   Lebih jelasnya, dalam bidang fikih,
 (al-Betawi), Sunda (al-Bantani, al-Garuti);   Dhofier dalam Tradisi Pesantren.   menjadi pionir bidang-bidang keilmuan   misalnya, uraiannya pasti bermula dan
 Jawa (al-Termasi, al-Samarani, al-Kadiri,   Penelitian lebih jauh diperlukan   keislaman tertentu di Indonesia.   soal tahârah (bersuci), salat, dan rukun-
 al-Banyumasi); Bugis (al-Maqassari,   untuk melacak saling silang genealogi   Misalnya, Sirât al-Mustaqim karya al-  rukun Islam lainnya; kemudian ditutup
 al-Bugisi), Semenanjung Malaya (al-  intelektual yang ada, sehingga kita   Raniri dalam bidang fikih (ibadah),   dengan masalah-masalah muamalah.
 Kalantani) dan Patani (al-Fatani), Bima,   bisa memperoleh gambaran yang lebih   Tarjumân al-Mustafid karya Abd al-Ra’uf   Para ulama kita yang menulis masalah
 dan juga dan Sumbawa (al-Sumbawa)   utuh. Agaknya, komposisi demografis   dalam bidang tafsir, Mir’ah al-Tullâb   fikih, juga sulit keluar dan pola seperti
 dan pulau-pulau lain di Nusa Tenggara.  murid-murid Jawi di atas bisa pula   karya Abd al-Ra’uf dalam bidang fikih   ini.
 menjadi indikasi perkembangan Islam   (muamalah), Sabîl al-Muhtadin karya
 Kenyataan di atas mengindikasikan   dalam kelompok etnis tertentu, jika   Muhammad Arshad al-Banjiri dalam   Penting dicatat, dengan menulis seperti
 kepada kita bahwa semangat untuk   kita berhasil menyusun atau menge-  bidang fikih, dan Manhâj Zawi al-Nazâr   itu, tak berarti mereka tidak melakukan
 menuntut ilmu keagamaan tidak   rangkakan semacam skala atau kurva   karya Abd Allah Mahfuz al-Termasi   adaptasi, baik dalam segi materi maupun
 terbatas pada suku-suku yang selama   murid-murid Jawi dilihat dan asal   dalam bidang hadis.  penyajian, sehingga bisa lebih sesuai
 ini secara tradisional dikenal sebagai   kesukuan dari periode ke periode, sejak   serta dapat dipahami dan diterima
 kelompok etnis “santri”, seperti Aceh,   pertengahan abad ke-17 hingga dewasa   Sementara itu, ada orang yang   kaum Muslimin Melayu. Dan sinilah
 Minangkabau atau Banten. Orang-orang   ini.  mempertanyakan orisinalitas dan   kita bisa memahami mengapa sebagian
 dan suku Jawa—sering diasosiasi kan   tingkat keilmuan karya-karya ulama   besar kitab-kitab atau risalah, khususnya
 sebagai etnik “abangan”—juga tidak   Hampir seluruh ulama yang disebutkan   Jawi ini. Memang ada kesan bahwa   dalam bidang fikih dan tafsir produk
 sedikit, kalau tidak dapat dikatakan pre-  di atas merupakan penulis-penulis   karya-karya mereka banyak yang bersifat   ulama Jawi, umumnya ditulis dengan
 dominan dalam lapisan murid-murid   produktif. Dari tangan mereka muncul   copious dari kitab-kitab standar dalam   bahasa yang gamblang dan uraian
 Jawi, khususnya sejak paruh kedua abad   puluhan—kalau tidak ratusan—karya,   bidang-bidang tertentu. Namun, pada   yang mudah dicema. Hal ini sekaligus
 ke-19. Karena itu, tidak mengherankan   dan yang bersifat voluminious (berjilid-  hakikatnya, persoalannya bukan terletak   mencerminkan bahwa karya-karya
 kalau dalam pelacakan jaringan atau   jilid) sampai risalah-risalah pendek.   pada “orisinalitas”, karena “orisinalitas”   itu ditujukan lebih untuk memenuhi
 genealogi intelektual lebih lanjut atas   Karya-karya ini ditulis dengan bahasa   pada bidang keilmuan keislaman seperti   kebutuhan masyarakat Melayu yang
 murid-murid Jawi yang berasal dan   Arab dan bahasa Melayu klasik.   tafsir, fikih atau hadis sukar dirumuskan   waktu itu kebanyakannya masih awam



 430  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   431
   438   439   440   441   442   443   444   445   446   447   448