Page 447 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 447

wacana dan praktek keagamaan yang   Jawi yang belajar di Universitas al- Azhar   keagamaan yang sangat terhormat,   disebut Allamah dan termasuk salah satu
 mereka terima di Haramayn kepada   cukup besar. Sebagian dari mereka   baik di kalangan komunitas Jawi   dan dua orang muhaddits terbesar abad
 generasi baru Muslim, yang kemudian   berhasil mendapat gelar akademis,   sendiri maupun di antara masyarakat   ke-14/15H.
 menyebarkannya ke tengah masyarakat   dan kembali ke Nusantara. Berbeda   ulama kosmopolitan Haramayn secara
 luas setelah mereka keluar dan lingkungan   dengan murid-munid Jawi di Haramayn,   keseluruhan. Dan waktu ke waktu selalu   Melihat keberhasilan ulama Jawi,
 lembaga pendidikan Islam ini. Adapun,   yang dapat ditipologisasikan sebagai   saja ada ulama Jawi yang mengajar di   pertanyaan menarik untuk diajukan
 melalui tarekat, mereka secara langsung   kelompok tradisional, alumni-alumni   halaqah-halaqah al-Masjid al-Haram,   adalah lembaga dan proses apakah
 menyebarkan gagasan dan praktek   Universitas al-Azhar pada umumnya   walaupun sejak akhir dekade 1970-  yang mereka tempuh dalam menggali
 keagamaan kepada kalangan masyarakat   termasuk golongan “modernis”.  an situasinya semakin sulit. Seperti   ilmu? Abd al-Ra’uf, Muhammad Yusuf
 luas—dalam hal ini, kepada golongan   diketahui, untuk bisa mengajar di   dan kebanyakan ulama Jawi lainnya,
 santri yang menjadi nucleus dan apa   Terlepas dan persoalan di sekitar   al-Masjid al-Haram tidaklah mudah.   sampai menjelang akhir abad ke-19,
 yang pernah disebut Geertz sebagai   tipologisasi semacam mi, terdapat   Seseorang harus mempunyai kapasitas   menyebutkan sejumlah nama guru
 pembawa bendera skripturalisme di dalam   kecenderungan kuat bahwa kaum   keilmuan yang tinggi. Bahkan sejak   mereka, baik di Haramayn maupun di
 masyarakat. Proses transmisi seperti ini   modernis—termasuk alumnus   1910-an, mereka yang berminat mengajar   tempat-tempat lain di Timur Tengah.
 tampaknya terus berlangsung hingga   Universitas Al-Azhar—”teralienasi”   di mesjid ini harus menempuh ujian   Dengan demikian, bisa dipastikan,
 sekarang, meskipun tingkat intensitasnya   dari lembaga-lembaga sosial keagamaan   yang diselenggarakan oleh suatu komite   mereka belajar di dalam ha!aqah dan
 perlu diuji kembali, mengingat terjadinya   “tradisional” semacam surau atau   penguji yang terdiri daripada ulama-  kuttab guru-guru mereka itu. Sayangnya,
 perubahan -perubahan, baik dalam dunia   pesantren dan tarekat. Mereka pada   ulama senior, termasuk beberapa mufti.  kita tidak mempunyai keterangan
 pendidikan tradisional Islam dan lapisan   umumnya bergerak di madrasah-   yang cukup memadai tentang halaqah
 kepenganutan tarekat maupun dalam   madrasah modern dan sekolah-sekolah   Demikianlah, lebih daripada sekadar   atau kuttab guru-guru mereka tersebut.
 tradisi wacana intelektual keaga maan di   umum, atau di organisasi -organisasi   mengajar di halaqah-halaqah al-Masjid   Juga terdapat pertanyaan lebih lanjut,
 Haramayn.  sosial politik Muslimin, yang secara   al-Haram, beberapa ulama Jawi lainnya   misalnya, apakah selain belajar di halaqah
 alamiah memiliki karak teristik yang   berhasil mencapai posisi keilmuan—  atau kuttab, mereka juga menuntut
 Akan tetapi, terlepas dan perubahan-  jauh berbeda dengan lembaga-lembaga   juga mendapat respek—yang termasuk   ilmu di madrasah kiasik yang ada di
 perubahan itu, modus transmisi   tradisional tadi. Perbedaan modus   puncak. Untuk menyebut beberapa   Haramayn? Kalau ada, bagaimana
 yang dimiliki ulama Jawi tadi, secara   transmisi tampaknya secara signifikan   nama, Syaikh Nawawi al-Bantani   posisi mu rid-murid Jawi di madrasah-
 signifikan membedakan dampak   mempengaruhi efektifitas transmisi,   mendapat gelar “Syekh al-Hijaz”; Syaikh   madrasah tersebut.
 mereka terhadap perkembangan Islam   penyebaran gagasan, dan kedalaman   Ahmad Khatib al-Minangkabawi pernah
 di Nusantara jika dibandingkan dengan   pengaruh mereka di Nusantara.  menjadi Mufti Mazhab Syafi’i di Masjid   Informasi yang agak jelas mulai
 mereka yang keluar dan locus religio-  al-Haram; Syaikh Mahfuzh al-Termasi   tersedia setelah berdirinya Madrasah
 intelektual Islam lainnya di Timur   Lebih jauh lagi, signifikansi ulama   di sebut sumber-sumber Arab sebagai   Saulatiyah di Mekah pada 1291 H/1874
 Tengah, katakanlah dari Universitas al-  Jawi juga terlihat dalam posisi mereka   “pembangkit kembali ilmu dirayah   M. Saulatiyah merupakan mad rasah
 Azhar, misalnya. Sebagaimana diketahui   di Tanah Suci. Tidak jarang di antara   hadits di Arabia; dan yang paling akhir,   tradisional yang didirikan di tengah
 sejak tahun 1920-an, jumlah mahasiswa   mereka berhasil mencapai posisi sosial   Syaikh Muhammad Yasin al-Padani   deru pembaruan pendidikan di Hijaz



 434  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   435
   442   443   444   445   446   447   448   449   450   451   452