Page 435 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 435

wacana intelektual keagamaan ini,   Mekkah dan Madinah sebagai salah   disebut sejarawan John O. Voll sebagai   ternyata menjadi cukup solid. Karena
 khususnya pada waktu-waktu terakhir,   satu pusat terpenting religio-inte!lectual   “jaringan ulama” (networks of the ulama).   itu, meskipun seorang murid telah
 dan peranan ulama Nusantara yang   discourse Islam. Meskipun secara   Inti (core) dan jaringan ini adalah   kembali ke tanah airnya, hubungan
 terlibat dalam jaringan tersebut terhada   kuantitatif institusi-institusi wacana   sejumlah ulama terkemuka yang   dengan gurunya tetap terjalin erat. Hal
 dinamika sosial-intelektual Islam di   intelektual keagamaan di Mekkah atau   datang dan berbagai penjuru dunia   ini, misalnya dapat dilihat dan kasus
 Indonesia atau Dunia Melayu pada   Madinah tidak pernah sebanyak yang   Muslim; mereka menetap dan mengajar   Syekh Abd al-Ra’uf al-Singkili (dari
 umumnya.  dimiliki Baghdad atau Kairo, kedudukan   di Haramayn. Guru dan murid yang   Singkel, Aceh), yang berkoresponden
 sentralnya sebagai kota kelahiran dan   terlibat dalam jaringan sedikit sekali   menyeberangi Lautan India dengan
 Penelitian penulis tentang wacana   pertumbuhan awal Islam serta sebagai   yang berasal dan Hara mayn sendiri.   gurunya, Syekh Ibrahim al-Kurani,
 intelektual keagamaan (religio-intellectual   tempat ibadah haji dan ziarah suci,   Mereka kebanyakan datang dan Yaman,   di Madinah untuk meminta petunjuk
 discourse) ulama Indonesia di Mekah   memberikan bobot tersendiri dan nilai   Mesir, Maghribi (Afrika Utara), Irak,   tentang masalah-masalah yang
 dan Madinah (Haramayn) mencoba   tambah yang signifikan, baik terhadap   Turkistan, Kurdistan, Anak Benua India,   dihadapinya.
 melacak sejarah sosial-intelektual   pemikiran Islam yang dikembangkannya   dan Asia Tenggara. Dengan demikian,
 ulama Nusantara dalam kaitannya   maupun terhadap daya dorong atau   jaringan ulama ini bersifat kosmopolitan,   Kancah (locus) jaringan ulama ini adalah
 dengan Dunia Islam lebih luas. Wacana   pengaruhnya atas bagian-bagian lain   yang dalam perkembangan lebih lanjut   halaqah (study circles, lingkaran belajar)
 intelektual keagamaan ini berpusat pada   dunia Muslim.  memiliki pecahan atau cabang- cabang di   yang diselenggarakan di Masjid al-
 semacam jaringan ulama (networks of   berbagai penjuru dunia Muslim.  Haram Mekah dan Masjid al-Nabawi
 the ulama) yang berpusat di Hara mayn   Kedudukan religio-histonis Mekah   Madinah. Selain itu, juga ribât (sering
 (Mekkah dan Madinah) yang setidak-  dan Madinah yang unik ini menjadi   Jaringan ulama ini tidaklah diorganisasi   pula disebut zâwiyah—pondokan sufi),
 tidaknya sejak abad ke-16, memainkan   alasan utama mengapa ulama yang   secara formal dan ketat. Ia terbentuk   madrasah klasik—untuk dibedakan
 peran krusial dalam transmisi gagasan-  terlibat dalam wacana intelektual   melalui hubungan-hubungan informal   dengan madrasah modern yang muncul
 gagasan intelektual keagamaan dan   keagamaan di kedua kota ini lebih   dan personal yang terjalin di antara   sebagai akibat pembaruan pendidikan
 Haramayn ke berbagai penjuru dunia   kosmopolitan dibandingkan wacana-  berbagai garis genealogi intelektual   yang dilaksanakan Dinasti Usmani sejak
 Muslim.  wacana semacamnya di kota-kota lain   yang kompleks. Guru dengan guru,   perempat terakhir abad ke-19——dan
 di Tirnur Tengah. Posisi itu pula yang   guru dengan murid, murid dengan   kuttâb, “madrasah” kecil yang umumnya
 Mekkah dan Madinah, setidak-  menyebabkan mengapa pengaruh yang   murid tanpa memandang asal kesukuan   diselenggarakan di rumah guru) yang
 tidaknya sejak awal abad ke-ke-16,   dimainkan ulama hasil pendidikan   dan batas-batas wilayah. Selanjutnya,   terdapat di lingkungan pemukiman
 memainkan peranan yang kian penting   Haramayn terhadap dinamika Islam di   genealogi intelektual yang kelihatan   sekitar kedua mesjid ini. Seperti dicatat
 dalam wacana pemikiran intelek tual   Nusantara melebihi ulama yang muncul   cukup longgar ini diikat oleh mata   sejarawan Taqi al-Din al-Fasi al-Makki
 keagamaan Islam secara keseluruhan.   dan tempat-tempat lain.  rantai spiritual melalui tarekat sufi   (wafat 832 H./1429 M.) dalam kitab Shîfa
 Disintegrasi dan peragian (decay)   dalam bentuk hubungan antara   al-Gharâni bi Akhbâr al-Balâd al-Harâm,
 dinasti-dinasti Muslim di Timur   Demikianlah, setidak-tidaknva sejak   mursyîd (pemimpin tarekat) dan murîd   sejak akhir abad ke- 13 sampai masa al-
 Tengah, khususnya sejak abad ke-13,   abad ke-16, di Mekah dan Madinah   (anggota tarekat). Dengan kedua bentuk   Fasi, di Mekkah terdapat 11 madrasah
 turut mendorong kebangkitan kembali   muncul dan berkembang apa yang   hubungan ini, jaringan yang ada   klasik, 52 ribât, dan puluhan halaqah.



 422  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   423
   430   431   432   433   434   435   436   437   438   439   440